ENSIKLOPEDIA
Teologi Kemakmuran
Teologi kemakmuran atau doktrin kemakmuran (bahasa Inggris: prosperity theologycode: en is deprecated atau prosperity gospel), yang kadang-kadang disebut pula teologi sukses, adalah teologi Kristen, khususnya di beberapa kalangan Kristen Kharismatik, yang mengajarkan bahwa kemakmuran dan kesuksesan (kaya, berhasil, dan sehat sempurna) adalah tanda-tanda eksternal dari Tuhan untuk orang-orang yang dikasihinya dan bahwa iman, pemahaman kitab suci, dan pemberian untuk tujuan amal dan keagamaan dapat meningkatkan kekayaan materi seseorang.[1] Banyaknya kekayaan materi, terutama finansial, seseorang dipandang sebagai bukti rahmat dan berkat dari Tuhan, sementara kekuragan kekayaan materi dianggap sebagai tanda penghakiman Tuhan atas orang tersebut.
Hampir semua denominasi Kekristenan menganggap teologi kemakmuran sebagai ajaran sesat dan sering kali dikritik oleh berbagai pemimpin denominasi Kekristenan lainnya, termasuk Gereja Pentakosta dan Gerakan Karismatik, yang menyatakan teologi tersebut tidak bertanggung jawab, mempromosikan penyembahan berhala, dan bertentangan dengan Alkitab.[2] Pengamat sekuler dan Kristen juga mengritisi beberapa bentuk dari teologi kemakmuran sebagai teologi yang eksploitatif terhadap orang miskin. Dalam praktiknya, beberapa pengkhotbah yang mengikuti teologi ini telah menimbulkan berbagai skandal dan beberapa di antaranya telah didakwa atas penipuan finansial.
Teologi kemakmuran memandang Alkitab sebagai sebuah perjanjian antara Tuhan dan manusia, di mana Tuhan akan memberikan keamanan dan kemakmuran kepada manusia yang beriman kepadanya.[3][4] Doktrin ini menekankan pentingnya pemberdayaan pribadi, dengan menyatakan bahwa semua berkat yang dialami oleh manusia merupakan kehendak dari Tuhan. Pendamaian (rekonsiliasi dengan Tuhan) diartikan sebagai penghapusan penyakit, kemiskinan, dan kekurangan lainnya, yang dipandang sebagai kutukan yang harus dipatahkan oleh kasih karunia dan iman.
Teologi kemakmuran pertama kali menjadi terkenal di Amerika Serikat selama masa Kebangkitan Penyembuhan pada tahun 1950-an.
Beberapa pakar telah menghubungkan asal-usul teologi ini dari gerakan Pemikiran Baru yang dimulai sejak abad ke-19. Ajaran kemakmuran sendiri kemudian berperan penting dalam teologi tersebut seiring dengan munculnya gerakan Word of Faith dan telepenginjilan pada tahun 1980-an. Sejak tahun 1990-an dan 2000-an, teologi ini mulai diterapkan oleh berbagai pemimpin influensial di Gereja Pentakosta dan Gerakan Karismatik di Amerika Serikat dan tersebar ke seluruh dunia. Berbagai tokoh yang berperan dalam pengembangan teologi ini termasuk David Oyedepo, Todd White, Michael Pitts, Benny Hinn, E. W. Kenyon,[5] Oral Roberts,[6] A. A. Allen,[7] Robert Tilton,[8] T. L. Osborn,[9] Joel Osteen, Creflo Dollar, Kenneth Copeland,[10] Reverend Ike,[11] Kenneth Hagin,[12] dan Jesse Duplantis.[13]
Sejarah
Latar belakang
Menurut sejarawan Kate Bowler, teologi kemakmuran dibentuk dari penggabungan tiga teologi berbeda, yakni Pentakostalisme, Pemikiran Baru, dan teologi Amerika Serikat yang mengajarkan "pragmatisme, individualisme, dan mobilitas sosial ke atas".[14] Teologi Amerika Serikat yang dimaksud dicontohkan dari berbagai buah pikiran seperti esai The Gospel of Wealth karya Andrew Carnegie dan khotbah Russell Conwell, Acres of Diamonds. Dalam khotbahnya, Conwell menyamakan keadaan kemiskinan sebagai dosa dan menekankan bahwa semua orang dapat menjadi kaya melalui kerja keras. Pemahaman semacam ini merupakan perwujudan dari Kekristenan Berotot, yang menganggap kesuksesan sebagai hasil dari usaha sendiri, alih-alih campur tangan ilahi.[15]
Gerakan Pemikiran Baru muncul sejak tahun 1880-an, dan berperan dalam memperkenalkan kepercayaan akan kekuatan pikiran untuk mencapai kemakmuran. Meski pada awalnya, gerakan Pemikiran Baru berfokus pada kesehatan mental dan fisik, beberapa pengajar seperti Charles Fillmore menambahkan kekayaan materi sebagai penekanan utama dari kepercayaan tersebut.[16] Sejak abad ke-20, konsep-konsep Pemikiran Baru telah meresap dalam budaya populer Amerika Serikat, dan menjadi ciri umum dalam literatur pengembangan diri dan psikologi populer.[17]
E. W. Kenyon, pendeta gereja Baptis dan pengikut gerakan Higher Life, merupakan orang yang memperkenalkan ide mengenai kekuatan pikiran dalam gerakan Pentakosta.[18] Pada tahun 1890-an, Kenyon berkuliah di Emerson College, di mana ia terpapar gerakan Pemikiran Baru. Kenyon kemudian terhubung dengan berbagai pemimpin gerakan Pentakosta dan memberitahu mereka melalui tulisan mengenai pewahyuan dan deklarasi positif. Tulisan Kenyon kemudian mempengaruhi pemimpin gerakan kemakmuran yang tumbuh di Amerika Serikat pasca-Perang Dunia Kedua. Namun, Kenyon dan pemimpin gerakan kemakmuran kemudian menyangkal adanya pengaruh Pemikiran Baru dalam ajarannya. Antropologis Simon Coleman berpendapat bahwa terdapat "paralel yang jelas" di antara ajaran Kenyon dan Pemikiran Baru.[19]
Dalam ajarannya, Kenyon menekankan pendamaian pengganti Kristus telah menjamin hak orang percaya untuk menerima penyembuhan ilahi. Hal ini dicapai melalui ucapan yang positif dan penuh iman, yang dalam hal ini adalah firman Tuhan, memungkinkan orang percaya untuk memperoleh kekuatan spiritual yang sama yang digunakan Tuhan untuk menciptakan dunia dan memperoleh berkat yang dijanjikan dalam kematian dan kebangkitan Kristus.[20] Doa dipahami sebagai tindakan yang mengikat dan sah. Alih-alih meminta, Kenyon mengajarkan orang percaya untuk menuntut penyembuhan karena mereka sudah berhak secara hukum untuk menerimanya.[21]
Perpaduan keyakinan evangelikalisme dan kepercayaan kekuatan pikiran Kenyon (yang ia sebut "iman yang mengatasi"(overcoming faith)) beresonansi dengan segmen kecil yang berpengaruh dari gerakan Pentakosta.[22] Kaum Pentakosta selalu berkomitmen pada penyembuhan melalui iman, dan gerakan ini juga memiliki keyakinan yang kuat pada kekuatan ucapan (khususnya berbicara dalam bahasa roh dan penggunaan nama-nama Tuhan, terutama nama Yesus).[23] Ide-ide Kenyon akan tecermin dalam ajaran para evangelis Pentakosta selanjutnya, seperti F. F. Bosworth dan John G. Lake (yang memimpin jemaat bersama penulis Pemikiran Baru, Albert C. Grier sebelum tahun 1915).[24]
Kebangkitan Penyembuhan
Meskipun ajaran Kenyon mengenai "iman yang mengatasi" meletakan dasar bagi teologi kemakmuran, genereasi pertama pendeta Gereja Pentakosta dan tokoh-tokoh lain seperti Bosworth tidak memandang iman sebagai sarana untuk mencapai kemakmuran materi. Mereka malah menganggap kemakmuran materi sebagai ancamana terhadap kesejahteraan spiritual seseorang.[25][26] Namun, pada tahun 1940-an dan 1950-an, bentuk teologi yang dapat dikenali ini mulai terbentuk dalam gerakan Pentakosta dengan dibawakannya ajaran pembebasan dan penyembuhan. Dengan menggabungkan ajaran kemakmuran dengan kebangkitan rohani dan kesembuhan ilahi, beberapa evangelis Pentakosta mengajarkan "hukum iman ('mintalah maka kamu akan diberi') dan hukum timbal balik ilahi ('berilah maka kamu akan diberi')"[27]
Salah satu pengajar Pentakosta tersebut adalah Oral Roberts, yang mulai mengajari teologi kemakmuran padatahun 1947.[6] Ia menyatakan bahwa hukum iman merupakan "perjanjian berkat" antara Tuhan dan manusia, di mana Tuhan akan mengembalikan pemberian dari manusia berupa sumbangan gereja "tujuh kali lipat",[28] menjanjikan penyumbang akan menerima kembali uang yang mereka sumbangkan kepadanya dari sumber yang tidak terduga. Roberts juga menawarkan untuk mengembalikan sumbangan apa pun yang tidak menghasilkan pembayaran tak terduga yang setara.[6] Pada tahun 1970-an, Roberts mengkarakterisasi ajaran "perjanjian berkat"-nya sebagai doktrin "benih iman", di mana sumbangan dari jemaat merupakan "benih" yang akan tumbuh nilainya dan kembali kepada jemaat.[28][29] Roberts juga mulai merekrut "mitra" berupa jemaat yang kaya, di mana mereka menerima undangan konferensi eksklusif dan akses pelayanan sebagai imbalan atas dukungan dan sumbangannya.[30]
Pada tahun 1953, penyembuh rohani, A. A. Allen mempublikasikan bukunya berjudul The Secret to Scriptural Financial Success dan mempromosikan berbagai barang dagangan seperti "serutan tenda ajaib" dan kain doa yang diurapi oleh "minyak ajaib".[7] Pada akhir tahun 1950-an, Allen semakin menfokuskan ajarannya pada kemakmuran. Ia mengajarkan bahwa iman dapat secara ajaib menyelesaikan masalah keuangan dan mengklaim bahwa dirinya mengalami pengalaman ajaib, di mana Tuhan secara supranatural mengubah uang kerta satu dolar menjadi uang kertas dua dolar untuk memungkinkannya membayar utangnya.[31] Allen mengajarkan "firman iman", atau kekutana untuk mengucapkan sesuatu akan menjadi kenyataan.[7]
Pada tahun 1960-an, kemakmuran menjadi fokus utama dalam kebangkitan penyembuhan.[32] T. L. Osborn, salah satu evangelis pada masa kebangkitan penyembuhan, mulai menekankan kemakmuran pada ajarannya di tahun 1960-an, dan dikenal karena sering kali memamerkan kekayaan pribadinya secara mencolok.[9] Selama dekade tersebut, sesama evangelis teologi kemakmuran seperti Roberts dan William Branham mengkritisi pelayanan evangelis lain karena taktik penggalangan sumbangan secara tidak adil menekan jemaat.[32] Taktik tersebut sebagian besar dipicu oleh biaya pengembangan jaringan radio nasional dan jadwal kampanye penginjilan yang semakin padat. Pada saat yang bersamaan, para pemimpin Gereja Pentakosta yang tergabung dalam Assemblies of God mengkritisi ajaran evangelis kebangkitan penyembuhan independen yang terlalu berfokus pada kemakmuran.[33]
Telepenginjilan
Selama tahun 1960-an, para pengajar teologi kemakmuran memulai upaya telepenginjilan dan mendominasi program keagamaan di Amerika Serikat. Oral Roberts sendiri merupakan salah satu telepenginjil pertama, di mana ia mengembangkan program mingguan yang disiarkan secara sindikasi dan menjadi acara keagamaan yang paling banyak ditonton di Amerika Serikat. Pada tahun 1968, televisi telah menggantikan pertemuan tenda dalam pelayanannya.[34]
Ike Eikerenkoetter, yang dikenal sebagai Reverend Ike, adalah seorang pastor dari Kota New York, mulai berkhotbah mengenai teologi kemakmuran pada akhir tahun 1960-an. Ia kemudian menjadi telepenginjil, di mana ia memiliki program radio dan televisi sendiri yang disiarkan secara luas dan dikenal dari gayanya yang mencolok. Keterbukaannya tentang kecintaan pada harta benda dan ajaran tentang "Ilmu Pikiran" menyebabkan banyak penginjil menjauhkan diri darinya.[11]
Pada tahun 1980-an, telepenginjil terkemuka seperti Jim Bakker mulai menarik perhatian publik Amerika Serikat mengenai teologi kemakmuran yang ia bawakan. Namun, Bakker terlibat dalam skandal penipuan, yang menyebabkan reputasinya menurun.[35][a] Kendati demikian, teologi kemakmuran masih populer, terutama karena adanya program telepenginjilan lain yang dibawakan oleh Robert Tilton dan Benny Hinn melalui jaringan Trinity Broadcasting Network.[8]
Gerakan Word of Faith
Meskipun ajaran bahwa iman dapat mendatangkan keuntungan finansial telah diajarkan oleh hampir semua penginjil penyembuhan pada tahun 1940-an dan 1950-an, gerakan ajaran baru pada tahun 1970-an yang berorientasi pada kemakmuran muncul sebagai ajaran yang bercabang dan berbeda dari ajaran sebelumnya. Gerakan yang dikenal sebagai gerakan Positive Confession ("Pengakuan Positif") atau gerakan Word of Faith ("Firman Iman") ini mengajarkan bahwa seorang Kristen yang beriman dapat mewujudkan apa pun yang sesuai dengan kehendak Allah.[37]
Kenneth Hagin dianggap sebagai orang yang berperan kunci dalam perkembangan teologi kemakmuran ini. Pada tahun 1974, ia mendirikan Pusat Pelatihan Alkitab RHEMA, di mana sekolah tersebut melatih lebih dari 10.000 siswa yang mengikuti ajaran teolloginya selama 20 tahun.[38] Seperti halnya gerakan teologi kemakmuran lainnya, tidak ada badan pengatur teologis untuk gerakan Word of Faith, dan pengajar-pengajar yang terkenal sering kali berbeda pendapat mengenai beberapa isu teologis,[39] meskipun banyak ajaran yang secara tidak resmi berhubungan satu sama lain.[10] Ajaran Kenneth Hagin telah digambarkan oleh Candy Gunther Brown dari Universitas Indiana sebagai bentuk teologi kemakmuran Word of Faith yang paling "ortodoks".[12]
Kirk R. MacGregor dari Universitas Iowa Utara berpendapat bahwa teologi gerakan Word of Faith berakar pada Nation of Islam dan Mormonisme. Nation of Islam, misalnya, berpendapat bahwa Tuhan (Allah) secara harfiah adalah manusia, dan bahwa manusia purba persis seperti Tuhan. Frederick K. C. Price, seorang pemimpin dalam gerakan Word of Faith, yang sering mengutip Elijah Muhammad dari Nation of Islam, juga menegaskan bahwa Tuhan secara harfiah adalah manusia dan bahwa Adam dan Hawa sebelum kejatuhan merupakan makhluk yang persis seperti Tuhan dan karenanya dianggap sebagai "dewa-dewa kecil".[40]
Mengenai akar Mormon (atau Gerakan Orang Suci Zaman Akhir), seorang mantan pemimpin gereja teologi kemakmuran menyatakan pendapatnya (walaupun bukan doktrin resmi gereja) bahwa Tuhan Bapa pernah menjadi manusia fana yang berkembang ke keadaannya saat ini, di mana dengan "mengikuti teladan sang Bapa, semua manusia dapat diangkat ke tingkat keilahian…"[40] Kenneth Copeland, pemimpin lain dalam gerakan Word of Faith, membuat klaim serupa, yaitu bahwa Tuhan memiliki tubuh manusia dengan indranya seperti mata dan telinga. Ia menyatakan bahwa alasan Tuhan menciptakan Adam adalah untuk memperbanyak dirinya.[40] Dengan demikian, manusia, setelah dilahirkan kembali dalam pengertian Kristen, kembali kepada keilahian mereka dengan kuasa ilahi atas kehidupan mereka sendiri, termasuk kesehatan dan kemakmuran pribadi mereka. Kegagalan untuk mencapai apa yang dibutuhkan atau diinginkan seseorang adalah kegagalan orang tersebut untuk benar-benar memahami keilahian mereka seperti yang dijelaskan dalam kitab suci (yaitu Alkitab). Seperti yang dikutip dari Price, "Apakah Anda menang atau kalah bukanlah urusan Tuhan. Apakah Anda sukses atau gagal bukanlah urusan Tuhan. Itu terserah Anda…. Tuhan sedang berlibur… pekerjaan yang [Dia] lakukan untuk kepentingan kita sudah selesai di pihak [Dia]."[40]
Pertumbuhan internasional
Pada akhir tahun 2000-an, para pendukung teologi kemakmuran mengklaim bahwa puluhan juta orang Kristen telah menerima teologi ini.[41] Gerakan neo-Pentakosta sebagian besar ditandai dengan penekanan pada teologi kemakmuran,[42] yang memperoleh penerimaan lebih besar dalam Kekristenan karismatik selama akhir tahun 1990-an.[43] Pada tahun 2000-an, gereja-gereja Injili-Pentakosta yang mengajarkan teologi kemakmuran mengalami pertumbuhan yang signifikan di negara-negara Selatan dan Dunia Ketiga.[44][45][46][47] Menurut Philip Jenkins dari Universitas Negeri Pennsylvania, warga miskin di negara-negara tersebut seringkali menganggap doktrin ini menarik karena ketidakberdayaan ekonomi mereka dan penekanan yang utama pada mukjizat.[48] Salah satu wilayah yang mengalami pertumbuhan eksplosif adalah Afrika Barat, khususnya Nigeria.[44][46] Di Filipina, gerakan El Shaddai, bagian dari Pembaharuan Karismatik Katolik, telah menyebarkan teologi kemakmuran di luar Kristen Protestan.[49] Salah satu gereja kemakmuran Korea Selatan, Gereja Injili Sepenuh Yoido, telah menarik perhatian pada tahun 1990-an dengan mengklaim sebagai gereja dengan jemaat terbanyak di dunia.[50]
Sebuah jajak pendapat tahun 2006 oleh majalah Time melaporkan bahwa 17 persen orang Kristen di Amerika mengidentifikasi diri dengan gerakan teologi kemakmuran.[35] Pada tahun 2000-an, warga Amerika Serikat yang menjadi pengikut gerakan ini umum ditemukan di Sabuk Matahari.[41] Pada tahun 2006, tiga dari empat gereja terbesar di Amerika Serikat mengajarkan teologi kemakmuran, dan Joel Osteen dianggap telah menyebarkannya di luar gerakan Pentakosta dan Karismatik melalui buku-bukunya, yang telah terjual lebih dari 4 juta eksemplar.[35][b] Buku Bruce Wilkinson, The Prayer of Jabez, juga terjual jutaan eksemplar dan mengajak pembaca untuk mencari kemakmuran.[50]
Saat ini
Pada tahun 2005, Matthew Ashimolowo, pendiri Kingsway International Christian Centre di Inggris selatan yang sebagian besar jemaatnya adalah orang keturunan Afrika, diperintahkan oleh Komisi Amal untuk mengembalikan uang yang telah ia gunakan untuk keperluan pribadinya. Dalam gereja tersebut, Ashimolowo sendiri mengajarkan Injil "kesehatan dan kekayaan" dan mengumpulkan persepuluhan secara teratur dari jemaatnya. Pada tahun 2017, gereja tersebut berada di bawah penyelidikan kriminal setelah seorang anggota terkemuka dinyatakan bersalah oleh pengadilan pada tahun 2015 karena menjalankan skema Ponzi antara tahun 2007 dan 2011, kehilangan atau menghabiskan £8 juta uang investor.[51]
Pada tahun 2007, Senator AS Chuck Grassley membuka penyelidikan terhadap keuangan enam pelayanan telepenginjilan yang mempromosikan teologi kemakmuran: Kenneth Copeland Ministries, Creflo Dollar Ministries, Benny Hinn Ministries, Bishop Eddie Long Ministries, Joyce Meyer Ministries, dan Paula White Ministries. Pada Januari 2011, Grassley menyimpulkan penyelidikannya dengan menyatakan bahwa ia percaya regulasi mandiri oleh organisasi keagamaan merupakan opsi yang lebih baik daripada tindakan langsung oleh pemerintah.[52][c] Selama penyelidikan sendiri, hanya pelayanan telepenginjilan yang dikelola oleh Meyer dan Hinn yang bekerja sama dengan Grassley.[52]
Pelantikan Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat ke-45 menampilkan doa dari dua pendeta yang dikenal karena menganjurkan teologi kemakmuran.[54] Paula White, salah satu penasihat spiritual Trump, memberikan doa pembukaan.[55]
Aliran Gereja-Gereja dengan Teologi Kemakmuran
Teologi Kemakmuran diusung oleh Gerakan Karismatik yang merupakan aliran neo-pentakostal (ajaran baru yang meneruskan tradisi pentakostal).[56] Hal ini berlangsung pada tahun 1960an.[56] Jika dilihat dari awal mula kemunculannya, dapat dimaklumi bahwa para pendirinya pun dari kalangan orang-orang kaya.[56] Mereka memiliki misi untuk memyebarkan ajarannya kepada orang-orang yang bukan pentakostal.[56]
Teologi Kemakmuran adalah bagian yang cukup umum dari televangelis dan beberapa gereja Pentakostal di Amerika Serikat yang mengklaim bahwa Allah menginginkan agar orang Kristen sukses dalam segala hal, khususnya dalam segi keuangan mereka.[56] Gerakan 'Baptisan Roh' di sejumlah Gereja Episkopal St, Mark di kota kecil Van Nuys di California disebut-sebut sebagai pemicu munculnya gerakan ini.[56] Para penganjur dogma ini mengklaim bahwa tujuannya adalah untuk pekerjaan misi atau mendanai pemberitaan Injil di seluruh dunia.[4] Ajaran mereka didasarkan pada beberapa ayat di Alkitab dan salah satunya adalah Ulangan 8:18 yang mengatakan: "Tetapi haruslah engkau ingat kepada TUHAN, Allahmu, sebab Dialah yang memberikan kepadamu kekuatan untuk memperoleh kekayaan, dengan maksud meneguhkan perjanjian yang diikrarkan-Nya dengan sumpah kepada nenek moyangmu, seperti sekarang ini."[57] Seorang penulis buku (David Jones) menganggap hal ini adalah kemasan Alkitab yang baru, yang menyesatkan.[57]
Tokoh-Tokoh Teologi Kemakmuran
Beberapa penginjil di Amerika Serikat yang menganut teologi kemakmuran antara lain adalah Kenneth Copeland, Benny Hinn, Nasir Saddiki, Robert Tilton, T.D. Jakes, Paul Crouch, Joel Osteen, dan Peter Popoff. Pat Robertson menyebut teorinya ini sebagai "Hukum Timbal-Balik" dalam acaranya TV-nya, The 700 Club.
Akan tetapi, apa pun pandangan yang dilontarkan oleh kedua belah pihak mengenai kemakmuran, setiap orang Kristen harus kembali melandaskan semuanya itu pada Alkitab, yang dipercaya oleh semua orang Kristen sebagai Firman Tuhan yang hidup. Allah akan memberkati dan memberikan harta kekayaan yang sejati untuk setiap orang percaya yang takut akan Allah dan taat berjalan dalam Firman-Nya (Mazmur 112:1-10).
Di beberapa negara, tokoh-tokoh Gerakan ini sangat memengaruhi perkembangannya, sosok pemimpin gerakan ini biasanya berkarisma sehingga cepat mendapatkan banyak pengikut.[4] Di Indonesia sendiri bisa dilihat dari penterjemah dari buku-buku di bagian pengaruh
- Di Amerika: Robert Schuller dengan ajaran "Possibility Thinking" dan terkenal dengan Katedral Kristal, Kenneth Hagin, Morris Cerullo, Norman Vincent Peale
- Di Korea: Paul Yonggi Cho, Sun Myung Moon (Gereja Unifikasi)
- Di Indonesia, Abraham Alex Tanuseputera dengan Gereja Bethany.
Pengajaran yang khas dari para pendeta ini adalah klaim bahwa mereka telah bertemu dengan Yesus dan Roh Kudus, dan menyatakan diri bahwa mereka diutus untuk memberitakan Injil kemakmuran kepada jemaat.[58] Dengan Injil Kemakmuran yang mereka beritakan, jemaat merasa sebagai orang yang dipilih untuk mendapat pengajaran khusus dari Tuhan. Kennet Hagin salah satunya yang mengklaim diri sebagai orang yang mendapatkan mandat dari Tuhan untuk menyampaikan pesan kepada Jemaat.[58]
Kritik terhadap Teologi Kemakmuran
Para pengkritik teologi kemakmuran mengklaim bahwa doktrin itu digunakan oleh para pemberitanya untuk memetik keuntungan. Mereka juga mengatakan bawah bahwa fokus doktrin itu pada kekayaan materi adalah keliru Mereka berpendapat bahwa kekayaan materi justru bisa membuat orang percaya jatuh ke dalam rasa cinta akan uang.[59][4] Ada juga yang menyatakan teologi ini adalah sebagai ajaran sesat.[59]
Andar Ismail pernah mengatakan bahwa pengajaran yang dilakukan para tokoh gereja (Pendeta dan pekabar Injil) seharusnya tidak mengedepankan hal-hal materi untuk memperkaya gereja maupun pemberitanya.[60] Ajaran ini merupakan pencarian keuntungan dari penderitaan Yesus di kayu salib, para penganjur teologi kemakmuran mencari 'menjual' kematian Kristus dengan maksud mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya di gereja.[57][60] Para pengajar atau pendeta teologi kemakmuran dianggap sebagai korupsi atas penebusan yang dilakukan Yesus di kayu salib. Pandangan yang terlalu sembrono mengkaitkan tujuan penebusan Allah melalui Yesus dengan dunia materi atau kekayaan.[57]
Paul Enns juga menolak keras ajaran teologi ini. Ajaran ini dianggap sebagai ajaran di luar Alkitab, mengotori Alkitab, bukan bagian dari warisa kekristenan, dan bukan Kristen.[58]
Pengaruh
Pada abad ke-19, khususnya pada pasca-Perang Dunia II, gerakan kharismatik ini mengalami kejayaan. Amerika mengalami perkembangan dalam industri dan berkelimpahan materi. Namun kekosongan spiritual juga tidak bisa diabaikan, sehingga gerakan kharismatik mudah sekali disukai orang. Salah satu sebabnya adalah karena teologi ini juga mengajarkan teologi sukses.[4]
Di Korea Selatan gerakan kharismatik dengan teologi kemakmuran ini sangat besar. Diawali dengan berakhirnya Perang Korea (1950), gerakan in masuk melalui Seminar Pertumbuhan Gereja yang didakan di gereja Yoido Full Gospel Church. Bahkan penyebarannya sudah memasuki acara-acara dalam beberapa media, TV, dan promosi lainnya.[4]
Lihat pula
Catatan
- ↑ Bakker kemudian meninggalkan teologi kemakmuran setelah ia dipenjara atas skandal penipuan tersebut.[36]
- ↑ Ajaran Osteen sering digambarkan sebagai bentuk teologi kemakmuran yang moderat.[35]
- ↑ Setelah penyelidikan dibuka, Joyce Meyer Ministries secara sukarela bergabung dengan Dewan Injili untuk Akuntabilitas Keuangan.[53]
Referensi
- ↑ Wilson 2007, hlm. 140–142.
- ↑ Coleman 2016, hlm. 276–296.
- ↑ Walton 2009, hlm. 94.
- 1 2 3 4 5 6 (Indonesia) Herlianto., Teologi Sukses, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2006
- ↑ Bowler 2013, hlm. 14–16.
- 1 2 3 Coleman 2000, hlm. 41.
- 1 2 3 Robins 2010, hlm. 85.
- 1 2 Robins 2010, hlm. 129.
- 1 2 Harrell 1975, hlm. 171.
- 1 2 Coleman 2000, hlm. 30.
- 1 2 Harrell 1975, hlm. 234–235.
- 1 2 Brown 2011, hlm. 152.
- ↑ Willingham, A. J. (2018-05-30). "This televangelist is asking his followers to buy him a $54 million private jet". CNN (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2023-12-10. Diakses tanggal 2023-12-29.
- ↑ Bowler 2013, hlm. 11.
- ↑ Bowler 2013, hlm. 31–32.
- ↑ Bowler 2013, hlm. 32.
- ↑ Bowler 2013, hlm. 35–36.
- ↑ Bowler 2013, hlm. 14,16.
- ↑ Coleman 2000, hlm. 44–45.
- ↑ Bowler 2013, hlm. 18–19.
- ↑ Bowler 2013, hlm. 20.
- ↑ Bowler 2013, hlm. 21.
- ↑ Bowler 2013, hlm. 23,25.
- ↑ Bowler 2013, hlm. 21,23.
- ↑ Bowler 2013, hlm. 30.
- ↑ Coleman 2000, hlm. 40.
- ↑ Robins 2010, hlm. 81.
- 1 2 Robins 2010, hlm. 87.
- ↑ Coleman 2000, hlm. 42.
- ↑ Robins 2010, hlm. 88.
- ↑ Harrell 1975, hlm. 74–75.
- 1 2 Harrell 1975, hlm. 105.
- ↑ Harrell 1975, hlm. 108.
- ↑ Robins 2010, hlm. 89.
- 1 2 3 4 Chu, Jeff; Van Biema, David (September 10, 2006). "Does God Want You To Be Rich?". Time. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal July 13, 2015. Diakses tanggal December 4, 2011.
- ↑ Balmer 2002, hlm. 44.
- ↑ Robins 2010, hlm. 131.
- ↑ Coleman 2000, hlm. 29–30.
- ↑ Billingsley 2008, hlm. 41.
- 1 2 3 4 Kirk R. MacGregor (March 2007). "The Word-Faith Movement: A Theological Conflation of the Nation of Islam and Mormonism?". Journal of the American Academy of Religion. 75 (1): 87–120. doi:10.1093/jaarel/lfl063. JSTOR 4139841.
- 1 2 Rosin, Hanna (December 2009). "Did Christianity Cause the Crash?". The Atlantic. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal September 11, 2011. Diakses tanggal August 2, 2011.
- ↑ Coleman 2000, hlm. 23.
- ↑ Coleman 2000, hlm. 27.
- 1 2 Smith, Daniel J. (March 2021). "The Pentecostal prosperity gospel in Nigeria: Paradoxes of corruption and inequality". Journal of Modern African Studies. 59 (1). Cambridge: Cambridge University Press: 103–122. doi:10.1017/S0022278X2000066X. ISSN 1469-7777. LCCN 2001-227388. OCLC 48535892. PMC 10312994. PMID 37398918. S2CID 232223673.
- ↑ Haynes, Naomi (March 2012). "Pentecostalism and the morality of money: Prosperity, inequality, and religious sociality on the Zambian Copperbelt" (PDF). Journal of the Royal Anthropological Institute. 18 (1). Wiley-Blackwell on behalf of the Royal Anthropological Institute: 123–139. doi:10.1111/j.1467-9655.2011.01734.x. ISSN 1467-9655. JSTOR 41350810. S2CID 142926682. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 18 July 2018. Diakses tanggal 25 November 2021.
- 1 2 Jenkins 2011, hlm. 99.
- ↑ Freston, Paul (2008). "The Changing Face of Christian Proselytization: New Actors from the Global South". Dalam Hackett, Rosalind I. J. (ed.). Proselytization Revisited: Rights Talk, Free Markets, and Culture Wars (Edisi 1st). New York and London: Routledge. hlm. 109–138. ISBN 9781845532284. LCCN 2007046731.
- ↑ Jenkins 2006, hlm. 95.
- ↑ Wiegele 2005, hlm. 7.
- 1 2 Jenkins 2006, hlm. 91.
- ↑ Booth, Robert (February 12, 2017). "Police Open Fraud Inquiry After 'Mismanagement' at Evangelical Church". The Guardian. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal February 13, 2017. Diakses tanggal February 13, 2017.
- 1 2 Goodstein, Laurie (January 7, 2011). "Tax-Exempt Ministries Avoid New Regulation". The New York Times. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal May 6, 2012. Diakses tanggal August 1, 2011.
- ↑ Poole, Shelia (January 7, 2011). "New Panel Formed to Examine Issues Around Church Finances". The Atlanta Journal-Constitution. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal August 18, 2021. Diakses tanggal August 2, 2011.
- ↑ Zoll, Rachel (December 28, 2016). "Trump Inaugural to Include Prayers from Prosperity Preachers". Washington Post. Diarsipkan dari asli tanggal December 29, 2016. Diakses tanggal December 29, 2016.
- ↑ Posner, Sarah (February 2, 2017). "Exploring the Nationalistic and Christian Right Influences On Trump". NPR. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal February 4, 2017. Diakses tanggal February 5, 2017.
- 1 2 3 4 5 6 (Indonesia) Jan S. Aritonang., Berbagai aliran di dalam dan di sekitar gereja, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2008
- 1 2 3 4 (Inggris) David Jones,Russell Woodbridge., Health, Wealth & Happiness: Has the Prosperity Gospel Overshadowed the Gospel of Christ, Grand Rapids: Kregel Publication.Inc, 2011
- 1 2 3 (Inggris) The Moody Handbook of Theology Chicago: Moody Publisher, 1995
- 1 2 Jones 2004.
- 1 2 (Indonesia) Andar Ismail.,Selamat Melayani, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2004
- Ro, Bong Rin (November 16, 1998). "Bankrupting the Prosperity Gospel". Christianity Today. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal June 30, 2013. Diakses tanggal January 19, 2012.
- Vu, Michelle (March 20, 2010). "Pastor: Prosperity Gospel Is Hindering Church Revival". The Christian Post. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal May 13, 2013. Diakses tanggal November 21, 2011.
- "Falwell Shuns 'Prosperity Theology'". The Free Lance-Star. Associated Press. June 6, 1987. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal April 12, 2023. Diakses tanggal August 1, 2011.
- van Biema, David (October 3, 2008). "Maybe We Should Blame God for the Subprime Mess". Time. Diarsipkan dari asli tanggal October 4, 2008. Diakses tanggal August 5, 2011.
- Jones, David W. (Fall 1998). "The Bankruptcy of the Prosperity Gospel: An Exercise in Biblical and Theological Ethics". Faith and Mission. 16 (1): 79–87. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2011-12-11. Diakses tanggal 2011-12-12.
- Wagner, C. Peter (November 1, 2011). "The Truth About The New Apostolic Reformation". Charisma. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal May 14, 2012. Diakses tanggal December 21, 2011.
- Garber, Kent (February 15, 2008). "Behind the Prosperity Gospel". U.S. News & World Report. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal February 2, 2011. Diakses tanggal December 4, 2011.
Daftar pustaka
- Balmer, Randall Herbert (2002). Encyclopedia of Evangelicalism. Westminster John Knox Press. ISBN 978-0-664-22409-7.
- Billingsley, Scott (2008). It's a New Day: Race and Gender in the Modern Charismatic Movement. University of Alabama Press. ISBN 978-0-8173-1606-8.
- Bowler, Kate (2013). Blessed: A History of the American Prosperity Gospel. Oxford University Press. ISBN 978-0199827695.
- Brown, Candy Gunther (2011). Global Pentecostal and Charismatic Healing. Oxford University Press. ISBN 978-0-19-539341-5.
- Ciampa, Roy E.; Rosner, Brian S. (2010). The First Letter to the Corinthians. William B. Eerdmans Publishing Company. ISBN 978-0-8028-3732-5.
- Clifton, Shane (2009). Pentecostal Churches in Transition: Analysing the Developing Ecclesiology of the Assemblies of God in Australia. Global Pentecostal and Charismatic Studies. Vol. 3. Brill Academic Publishers. ISBN 978-90-04-17526-6.
- Coleman, Simon (2016). "The Prosperity Gospel: Debating Charisma, Controversy, and Capitalism". Dalam Hunt, Stephen J. (ed.). Handbook of Global Contemporary Christianity: Movements, Institutions, and Allegiance. Brill Handbooks on Contemporary Religion. Vol. 12. Leiden: Brill Publishers. hlm. 276–296. doi:10.1163/9789004310780_014. ISBN 978-90-04-26539-4. ISSN 1874-6691.
- Coleman, Simon (2000). The Globalisation of Charismatic Christianity: Spreading the Gospel of Prosperity. Cambridge University Press. ISBN 978-0-521-66072-3.
- Elisha, Omri (2011). Moral Ambition: Mobilization and Social Outreach in Evangelical Megachurches. University of California Press. ISBN 978-0-520-26751-0.
- General Council of the Assemblies of God (1980). The Believer and Positive Confession (PDF). Assemblies of God. OCLC 15063312. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal June 11, 2012.
- Harrell, David Edwin (1975). All Things are Possible: the Healing & Charismatic Revivals in Modern America. Indiana University Press. ISBN 978-0-253-10090-0.
- Harris, Marvin (1981). America Now: the Anthropology of a Changing Culture. Simon & Schuster. ISBN 978-0-671-43148-8.
- Hughes, R. Kent (1989). Mark: Jesus, Servant and Savior. Vol. 2. Crossway Books. ISBN 978-0-89107-537-0.
- Hunt, Stephen (2000). "'Winning Ways': Globalisation and the Impact of the Health and Wealth Gospel". Journal of Contemporary Religion. 15 (3): 332. doi:10.1080/713676038. S2CID 145184658.
- Hwa, Yung (1997). Mangoes or bananas?: the Quest for an Authentic Asian Christian Theology. Regnum International. ISBN 978-1-870345-25-5.
- Jenkins, Philip (2006). The new Faces of Christianity: Believing the Bible in the Global South. Oxford University Press. ISBN 978-0-19-530065-9.
- Jenkins, Philip (2011). The Next Christendom: The Coming of Global Christianity. Oxford University Press. ISBN 978-0-19-976746-5.
- Jones, David; Woodbridge, Russell (2011). Health, Wealth & Happiness: Has the Prosperity Gospel Overshadowed the Gospel of Christ?. Kregel Publications. ISBN 978-0-8254-2930-9.
- Jones, Ron L. (2004). Jesus, Money, and Me: Discovering the Link Between Your Money and Your Faith. iUniverse. ISBN 978-0-5953-1622-9.
- Klassen, Michael J. (2009). Strange Fire, Holy Fire: Exploring the Highs and Lows of Your Charismatic Experience. Baker Publishing Group. ISBN 978-0-7642-0549-1.
- Lindberg, Carter (2010). The European Reformations (Edisi 2nd). Wiley-Blackwell. ISBN 978-1-4051-8067-2.
- Maddox, Marion (2012). Farhadian, Charles E. (ed.). Introducing World Christianity. John Wiley & Sons. ISBN 978-1-4051-8248-5.
- McNeill, John T. (1954). The History and Character of Calvinism. London: Oxford University Press. hlm. 222. ISBN 9780199727995.
- Patterson, Eric; Rybarczyk, Edmund John (2007). The Future of Pentecostalism in the United States. Lexington Books. ISBN 978-0-7391-2103-0.
- Poloma, Margaret (1989). The Assemblies of God at the Crossroads: Charisma and Institutional Dilemmas. University of Tennessee Press. ISBN 978-0-87049-607-3.
- Posner, Sarah; Conason, Joe (2008). God's Profits: Faith, Fraud, and the Republican Crusade for Values Voters. Polipoint Press. ISBN 978-0-9794822-1-2.
- Robins, R. G. (2010). Pentecostalism in America. ABC-CLIO. ISBN 978-0-313-35294-2.
- Robbins, Joel (2010). Allan Anderson (ed.). Studying Global Pentecostalism: Theories and Methods. Michael Bergunder, André Droogers, and Cornelis van der Laan. University of California Press. ISBN 978-0-520-26662-9.
- Smith, James K. A. (2010). Thinking in Tongues: Pentecostal Contributions to Christian Philosophy. William B. Eerdmans Publishing. ISBN 978-0-8028-6184-9.
- Walton, Jonathan L. (2009). Watch This! The Ethics and Aesthetics of Black Televangelism. NYU Press. ISBN 978-0-8147-9417-3.
- Wiegele, Katharine L. (2005). Investing in Miracles: El Shaddai and the Transformation of Popular Catholicism in the Philippines. University of Hawaii Press. ISBN 978-0-8248-2861-5.
- Wilson, J. Matthew (2007). From Pews to Polling Places: Faith and Politics in the American Religious Mosaic. Georgetown University Press. ISBN 978-1-58901-172-4.
Pranala luar
- (Inggris) The Protestant Ethic Thesis Donald Frey, Universitas Wake Forest, eh.net Diarsipkan 2008-03-18 di Wayback Machine.
- (Inggris) "capitalism", latter-rain.com
- (Inggris) "Between Faith and Fund-Raising", oleh Julian Gearing, AsiaWeek, 17 September 1999 Vol., 25 No. 37 Diarsipkan 2006-11-16 di Wayback Machine.
- (Inggris) "Expect God's Favor: Wawancara dengan Joel Osteen"
- (Inggris) Laporan Utama Majalah Time: "Does God want you to be rich?"
- (Indonesia) Bahasan tentang Teologi Sukses