Dalam bukunya Ketika Jurnalisme Dibungkam Sastra Harus Bicara (Yogyakarta, Yayasan Bentang Budaya, 1997), Seno menulis, bahwa ilham penulisan Telinga berawal ketika Gubernur Timor TimurMário Viegas Carrascalão menerima 4 pemuda di kantornya, 2 di antaranya terpotong telinganya.
Karya ini pertama kali terbit dalam surat kabarKOMPAS pada tanggal 9 Agustus1992. Telinga kembali diterbitkan dalam Pelajaran Mengarang (cerita-cerita pilihan KOMPAS pada tahun 1993). Telinga diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Riana Puspasari, dan terbit dengan judul Ears dalam The Jakarta Post pada tahun 1994. Cerpen ini kemudian diterjemahkan kembali dalam bahasa Inggris oleh Jan Lingard, diterbitkan dengan judul Ears di Inside Indonesia pada bulan Juni1995.