Desa Tangkisan (Aksara Jawa: ꦢꦺꦱꦠꦁꦏꦶꦱꦤ꧀) adalah salah satu desa yang terletak di Kecamatan Tawangsari, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah. Mempunyai Tim Sepak bola Bernama BARATA(Barisan Rakyat Tangkisan), Jembatan Bengawan Tangkisan, Danau Anggrek Mas, Masjid Jami' At-Taqwim, dan LAZIS GESIT (Gerakan Sedekah Insan Taqwa). Dan terkenal dengan Jenang Rasikan dan Tekstilnya. Tangkisan terbagi menjadi beberapa dukuh yaitu Kidulkali (Dimoro terbagi dua yaitu WIROTAWA "Warga Dimoro RT 2 RW 2" dan RT 1, Selo, Tegalmulyo, Tegalrejo, Tegalsari),Lorkali,Sidorejo dan Tanjungsari.[1] Penamaan Lorkali dan Kidulkali karena terpisahkan oleh Sungai Bengawan Solo. Sekarang lebih dikenal dengan nama Tangkisan Raya. Hasil Pertanian berupa beras.Warga Tangkisan sangat Ramah dan Sosialitas di jaga dengan sangat erat. Disunting oleh Muhammad Arif Wibowo dan TA
Sejarah
Nama Tangkisan berarti menghalangi, menahan, atau membendung. Ada beberapa versi asal-usul nama ini:
Versi geografi: Nama diduga berkaitan dengan pembangunan tanggul buatan atau berkaitan dengan kondisi sungai yang berkelok-kelok sehingga arus sungai tertahan.
Versi sejarah lisan: Ada dua versi dari sejarah lisan ini yang pertama adalah kisah perahu Sunan Kalijaga yang tertahan arus(tertangkis) sewaktu berdakwah ke wilayah pedalaman di selatan Jawa.
Sementara yang kedua berkaitan dengan peristiwa perlawanan atau "Tangkisan" terhadap pasukan Belanda waktu Perang Diponegoro(1925-1930), kisah ini muncul karena dua desa yang berbatasan di sisi timur yakni Desa Kedunggudel dan di sisi barat yakni Desa Majasto memiliki hubungan sejarah erat dengan Pangeran Diponegoro dan Perang Jawa.
Desa Tangkisan sendiri belum tercatat di peta dari era kolonial Belanda Kaart der residentie Soerakarta yang dibuat oleh Willem Frederik Versteeg di tahun 1859[2], sehingga kemungkinan Desa Tangkisan belum terbentuk sebagai kawasan permukiman yang mapan dan lebih digunakan sebagai kawasan pertanian sewaktu musim kemarau dan ditinggalkan sewaktu sungai meluap waktu musim hujan.
Aliran Bengawan Solo sebelum(merah) dan sesudah(biru)
Geografi
Desa Tangkisan dialiri Sungai Bengawan Solo yang membelah wilayah menjadi dua: Lorkali (utara sungai) dan Kidulkali (selatan sungai). Tanahnya berupa aluvial yang subur, cocok untuk persawahan dan perkebunan. Dahulu, kawasan ini berupa hutan rawa yang sering tergenang banjir saat musim hujan.
Pada tahun 1994-1996, dilakukan proyek besar Upper Solo River Improvement Project di hulu Bengawan Solo oleh pemerintah orde baru dengan bantuan insinyur Jepang melalui JICA.[3] Sungai yang semula berkelok diluruskan untuk mempercepat aliran air dan mengurangi banjir. Bekas aliran lama kini dikenal warga sebagai Kalimati atau Danau Anggrek Mas.