Tahuli adalah salah satu bentuk tradisi lisan dan sastra lisan yang berasal dari masyarakat Gorontalo, Indonesia. Tradisi ini secara khusus dilafalkan dalam upacara-upacara adat, terutama pada penganugerahan gelar adat (Pulanga) dan penyambutan serta pelepasan tamu atau pejabat di wilayah Provinsi maupun kabupaten/kota Gorontalo. Tahuli dianggap sebagai warisan sastra yang berperan dalam pembentukan karakter bangsa, meskipun dalam lingkup lokalitas kedaerahan.[1] Tahuli masuk sebagai salah satu Kebudayaan Takbenda dari Gorontalo dan teregistrasi secara resmi oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia dengan nomor register 244/P/2016.[2]
Pengertian dan klasifikasi
Secara harfiah, kata Tahuli diartikan sebagai pesan atau nasihat. Mansoer Pateda dalam Kamus Bahasa Gorontalo – Indonesia (2001) mengartikan tahuli sebagai pesan, seperti contoh jangan lupa pesan ibu (diila lipata tahuli li mama). Para tokoh adat (baate) juga memberikan pengertian serupa, yaitu pesan.[1] Tahuli diklasifikasikan sebagai sastra lisan daerah atau folklore yang berjenis verbal tekstual dan memiliki sub-jenis puisi atau prosa.[3] Meskipun secara tradisional disampaikan secara lisan, Tahuli kini telah banyak ditranskripsi menjadi bentuk teks seiring dengan menguatnya tradisi tulisan.[1]
Sejarah dan asal-usul
Tradisi Tahuli di Gorontalo telah berlangsung setidaknya sejak abad ke-15. Sejarahnya terkait erat dengan perkembangan kerajaan-kerajaan di Gorontalo yang kemudian sangat dipengaruhi oleh ajaran dan peradaban Islam. Tahuli pertama kali disampaikan oleh pemangku adat pada waktu penobatan Raja Sultan Eato pada tahun 1973.[3] Tahuli, bersama dengan Tahuda, merupakan bagian dari kekayaan tradisi lisan Gorontalo yang berakar pada prinsip Adat bersendikan syara’, syara’ bersendikan Kitabullah. Prinsip ini menunjukkan perpaduan antara adat dan agama Islam sebagai pedoman hidup bermasyarakat.[1]
Fungsi dan Isi
Fungsi utama Tahuli adalah sebagai nasihat atau anjuran dalam menjalani hidup. Bait-bait Tahuli bersifat peringatan tegas terkait jabatan yang diemban dan konsekuensinya jika tidak dijalankan atau berperilaku menyimpang. Jika pesan dalam Tahuli diabaikan, sanksi sosial akan berlaku di masyarakat Gorontalo.
Isi Tahuli sangat bervariasi, meliputi berbagai jenis cerita, ungkapan seremonial, dan ritual, termasuk uraian silsilah, mitos, legenda, dongeng, hingga cerita kepahlawanan. Namun, secara umum, Tahuli menyampaikan pesan-pesan baik, tidak hanya pesan keagamaan, tetapi juga pesan-pesan dalam kehidupan sehari-hari.
Salah satu contoh Tahuli yang sering dirujuk adalah gubahan Ta’uwa lo Linguwa (Medi Botutihe). Pesan Tahuli ini ditujukan kepada generasi muda, menekankan pentingnya menjaga gerak dan tingkah laku, mencintai negeri asal, serta mengamalkan pelayanan baik.[3] Ia juga menyiratkan bahwa perilaku baik akan mendapatkan penghargaan, sementara kesombongan akan membawa banyak musuh.[1]
Pelaksanaan
Tahuli dilafalkan pada upacara-upacara adat penting, khususnya upacara penganugerahan gelar adat yang disebut Pohutu Momulanga. Upacara ini bertujuan untuk mengukuhkan atau mendudukkan seseorang pada kedudukan adat (huhulo’a lo aadati) sebagai kepala adat (ta’uwa lo aadati), berdasarkan pengabdiannya kepada bangsa dan negara, khususnya daerah Gorontalo. Dalam pelaksanaan upacara, Tahuli disampaikan secara bergantian oleh tujuh hingga sepuluh pemangku adat Gorontalo. Setiap larik dan bait Tahuli memberikan pesan yang sama, yaitu menjaga kehormatan dan nama baik Gorontalo. Para penutur Tahuli mengenakan busana simbol-simbol budaya yang mereka dukung, dan kata-kata yang diucapkan dianggap bertuah serta diyakini dapat membawa bencana dan kematian jika dilanggar.[1]