Nama Tây Sơn digunakan dalam berbagai cara untuk merujuk kepada masa pemberontakan petani dan dinasti-dinasti yang terdesentralisasi yang didirikan antara akhir kepemimpinan dinasti Lê dan permulaan dinasti-dinasti Nguyễn dalam sejarah Vietnam antara 1770 dan 1802. Beberapa akademisi menyebut masa tersebut dengan sebutan "kebangkitan Tây Sơn."[2]
Nama tersebut digunakan untuk merujuk kepada para pemimpin pemberontakan tersebut (Tây Sơn bersaudara), kebangkitan mereka (Kebangkitan Tây Sơn) atau pemerintahan mereka (dinasti Tây Sơn dan dinasti Nguyễn Tây Sơn).[3]
Dinasti Tây Sơn berhasil mengakhiri perang seabad antara keluarga Trịnh dan Nguyễn, melengserkan Dinasti Lê, dan menyatukan negara untuk pertama kalinya dalam 200 tahun. Mereka mengakui kekuasaan Dinasti Qing di Tiongkok dan mendapatkan pengakuan dari Kaisar Qianlong sebagai penguasa sah Vietnam. Di bawah kekuasaan bersaudara Tây Sơn yang paling terkemuka, Nguyễn Huệ (Kaisar Quang Trung), Vietnam mengalami beberapa tahun yang cukup damai dan makmur. Namun, Quang Trung mangkat dalam usia yang masih muda yaitu 40 tahun dan penerusnya, Cảnh Thịnh, yang berkuasa saat masih berusia 9 tahun, tidak mampu mencegah konflik saudara di antara dewan Tây Sơn, yang memungkinkan penguasa Nguyễn terakhir, Nguyễn Ánh, merebut kembali Vietnam selatan, memusnahkan Tây Sơn, dan mendirikan Dinasti Nguyen.
↑George Edson Dutton The Tây Sơn uprising: society and rebellion in eighteenth-century Vietnam. Honolulu: University of Hawaii Press 2008 Page 236 "For a detailed description of the lengths to which the Nguyễn went in this regard see the account in Quách Tân and Quách Giao, Nhà Tây Sơn (The Tây Sơn Dynasty), 234-249."
↑Trần Trọng Kim (2005). Việt Nam sử lược (dalam bahasa Vietnamese). Ho Chi Minh City: Ho Chi Minh City General Publishing House. hlm.359. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
Bacaan tambahan
George Edson Dutton: The Tay Son Uprising: Society and Rebellion in Eighteenth-Century Vietnam. Honolulu 2006, ISBN 978-0-8248-2984-1