Desa Sungai Guntung Tengah terkenal sebagai salah satu desa yang memiliki banyak atlet dayung, khususnya untuk Pacu Jalur atau Pacu Sampan Godang maupun Pacu Sampan Kocik. Saat ini Sei. Guntung Tengah memiliki dua buah jalur yaitu, Tuah Putri Bungsu Selingkung Alam dan Ular Srang
Saat ini Sungai Guntung Tengah dipimpin oleh kepala desa bernama Hasannudin. Terpilih karena masyarakat menilai Hasannudin adalah sosok pemimpin yang tangguh dan aktif.
Adat istiadat yang terdapat di Desa Sungai Guntung Tengah, beragam yaitu Jawa, Batak, Minang, Bugis, Banjar, Parahiyangan, tentu saja yang dominan adalah Melayu.
Desa Sungai Guntung Tengah terbelah oleh Sungai Indragiri. Salah satu masalah pada wilayah di seberang itu adalah akses jalan. Sampai saat ini pemerintah desa masih fokus kepada pemeliharaan kompang, yaitu alat transportasi tradisional serupa rakit penyeberangan. Transportasi tradisional ini memudahkan warga menyeberang, karena jembatan tidak ada. Tidak hanya digunakan warga Desa Sungai Guntung Tengah, tetapi warga desa tetangga seperti Sungai Guntung Hilir juga memanfaatkan alat tradisional tersebut.[1]
Usaha tani yang menarik di Desa Sungai Guntung Tengah adalah penggemukan sapi yang dilakukan oleh masyarakat yang tergabung dalam Kelompok Tani Hutan (KTH) Usaha Bersama. Disebut KTH karena dibina oleh Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Riau. Tujuannya tentu untuk peningkatan ekonomi masyarakat.[2]
Selain menjalankan usaha tani, KTH juga menjadi wadah bagi masyarakat untuk berorganisasi. Kades, petugas KSDA Riau, bersama anggota KTH Usaha Bersama selalu berkoordinasi, diskusi dan melakukan kegiatan. Mereka belajar dan praktek langsung membuat Berita Acara serta membuat laporan perkembangan dan kondisi ternak sapi setiap bulannya. Petugas bersama-sama Kades selalu melakukan pengecekan kandang, pakan dan kondisi sapi yang didampingi oleh Ketua KTH.[2]
Sungai Guntung Tengah juga menghadapi tantangan lingkungan seperti masalah sampah dan potensi kerusakan ekosistem yang memengaruhi kehidupan sehari-hari warga[3] Kebiasaan turun temurun warga adalah membuang sampah di sungai atau membakar sampah di pekarangan. Sekarang ini masyarakat Desa Sungai Guntung Tengah telah memperhatikan pengelolaan sampah. Sampah sudah dibuang pada tempatnya[4] Tiap rumah, terutama warung sudah terbiasa menyediakan tempat sampah. Sungai tidak lagi menjadi tempat pembuangan sampah dan bangkai hewan.
Akses transportasi di Sungai Guntung Tengah lancar. Transportasi darat (kendaraan roda dua dan empat) dengan kebutuhannya jalan raya, menghubungkan desa ini dengan desa maupun kota lain. Transportasi sungai[5] juga sangat lancar. Sekitar tahun 1990 an Kapal Jelatik, tongkang dan kapal-kapal membawa barang hilir mudik di desa ini menghubungkan Pekan Heran dengan Tembilahan. Menariknya, nyaris tidak ada warga desa ini yang merantau. Mobilitas hanya jenis ulang alik yang dilakukan pedagang sayur, pelajar dan mahasiswa, serta pekerja, terutama pekerja kapal.