Ciri-ciri yang membedakan mereka dari kelompok etnis di sekitarnya, seperti Wamesa, Kuri, atau Roon, adalah warisan budaya dan warna kulit mereka. Suku Maniwak, yang memiliki ciri fisik berupa kulit lebih gelap dan tubuh lebih ramping, sering disebut sebagai keturunan Negroid pra-Melanesia.[2]
Wilayah distribusi
Suku Maniwak mendiami wilayah Kampung Maniwak mulai dari perbatasan Sungai Anggris hingga Kampung Wasior dekat Masabuai, di pesisir pantai Sumawawi (Miei), kemudian Manggurai, memanjang hingga ke pesisir pantai dekat Kampung Iriati (keret Bieth). Di sebelah timur terdapat Dataran Tinggi Ramar dan Aitumieri, dan di bawahnya mengalir Sungai Miei. Tempat ini juga merupakan pusat peradaban modern Papua (sekolah modern).[1]
Agama
Suku Maniwak mayoritas beragama Kristen Protestan. Upaya Kristenisasi di Teluk Wondama, wilayah tempat tinggal suku Maniwak, telah dilakukan sejak tahun 1866 oleh misionaris Belanda dari UZV (Utrechtsche Zendings Vereeniging), sebuah badan zending (misi Kekristenan) Belanda yang berperan penting dalam penyebaran Injil dan pendidikan, yang berangkat dari Pulau Mansinam. Mereka pergi bersama para pelayan lokal yang telah dikristenkan sebelumnya, sebagian besar berasal dari Sangihe, Talaud, Ambon, serta dari Manokwari dan Biak.[3]
Pada tahun 1917, Starrenburg memindahkan pos zending dari Windesi ke Bukit Aitumieri di Teluk Wondama, karena hasil pertemuan dengan marga Ramar dari suku Maniwak, pemilik tanah adat. Sehingga proses Kristenisasi terhadap suku Maniwak semakin berkembang dan mereka dikristenkan secara efektif. Dua tahun kemudian, tepatnya tahun 1919, asrama dan sekolah pertukangan dibuka oleh D.C.A. Bout yang menyiapkan gedung sekolah, rumah guru, dan bangunan gereja yang dibangun oleh penduduk asli Wondama di bawah kepemimpinan para tukang dari Sangihe dan Talaud.[3]
Sistem sosial
Suku Maniwak, seperti penduduk asli Papua lainnya, memiliki sistem kekerabatan marga yang didasarkan pada garis keturunan patrilineal. Marga (keret) asli suku Maniwak adalah Ramar, dan mereka juga hidup bersama dengan marga-marga lain yang telah berafiliasi dengan marga tersebut, seperti marga Suabey (Moru), Torey (Rasiei), Kamodi, Yoteni, Nunaki, dan lain sebagainya.[1]
12Wanma, Hanz (3 Februari 2025). "Semakin Dibabat Semakin Merambat". tabloidpapuabaru.com. Mengenang 170 Tahun Injil di Tanah Papua dari Pulau Mansinam ke Seluruh Pelosok Negeri Hitam
(Mansinam, 5 Februari 1855–Lembah Baliem, 5 Februari 2025). Tabloid Papua Baru. Diakses tanggal 18 Februari 2026.