Suku Dayak Tamuan miliki ikatan sejarah dengan Minangkabau di Sumatera Barat .Pada abad ke-16, seorang bangsawan dari Kerajaan Pagaruyung bernama Malikur Besar (atau Patih Sebatang), berlayar ke Kalimantan. Ia menetap di hulu Sungai Belantikan dan membuka permukiman bernama Kudangan. Keturunannya telah berbaur dengan masyarakat Dayak.[2]
Bahasa
Bahasa yang digunakan suku Dayak Tamuan dan suku Dayak Tomun adalah Bahasa Tamuan. Bahasa tersebut terbagi menjadi dua dialek yaitu Tehang dan Nanga Bulik (Tomun) dengan persentase perbedaan antar kedua dialek tersebut sebesar 73,05%.
Bahasa Tamuan memiliki aksen yang mirip dengan bahasa Minangkabau. Ada pelafalan –o di hampir setiap kata, seperti, Sapo namo kulo? (siapa nama kamu?), Hendak ke mano (mau ke mana), dan ‘ndak ado (tidak ada).[2]