Mayoritas masyarakat Dayak Halong memiliki pekerjaan berupa berkebun pisang, mangga, rambutan, langsat, durian dan menanam padi serta tanaman rempah. Penghasilan terbanyak adalah buah pisang yang beraneka jenis dan padi. Namun, sekarang banyak masyarakatnya yang juga menjadi pengusaha, pegawai negeri dan politikus.[4]
Pada 1995, terdapat perubahan mata pencaharian masyarakat Dayak Halong sejak adanya penyediaan lahan dan bibit karet oleh pemerintah melalui dinas perhutanan/perkebunan yang diprakasai dan bekerja sama dengan Asian Development Bank (ADB).[4]
Program ini memberikan lahan kepada masing-masing kepala keluarga dan bibit karet unggul yang akan ditanam di ladang berdampingan dengan padi. Namun, ketika pohon karet telah besar dan siap untuk disadap, maka kegiatan berladang padi ditinggalkan karena kurang bernilai dan keterbatasan lahan.[4]
Aruh Baharin
Membatur
Upacara membatur adalah upacara pembuatan rumah bagi arwah leluhur yang dilaksanakan oleh masyarakat Dayak Halong. Rumah-rumahan atau batur yang akan dipersembahkan terbuat dari kayu ulin. Selain itu juga dipersembahkan hewan berupa kerbau atau kambing.[5]
Agama dan kepercayaan
Di kecamatan Halong terdapat lebih kurang 4.000 jiwa beragama non muslim yang merupakan masyarakat adat suku Dayak yang terdiri dari Dayak Halong (mayoritas), Dayak Deah dan Dayak Meratus (Bukit). Pemukiman ini di tengah-tengah di antara yang memisahkan perkampungan suku Banjar dan suku Dayak Deah. Mayoritas suku Dayak Halong beragama Buddha selain beragama leluhur Kaharingan dan ada juga penganut Kristen.[6][7]
Sistem kepercayaan masyarakat Dayak Halong mengalami perubahan sejak akhir 1980-an. Hal ini diawali dengan perubahan mata pencaharian dan kedatangan penduduk baru termasuk misionari agama-agama, khususnya agama Buddha di Halong pada 1985. Pada masa kepresidenan Suharto, masyarakat diwajibkan untuk memeluk agama dan beberapa orang dari masyarakat Dayak terpaksa memilih agama yang disesuaikan dengan adat mereka. Pada awalnya kepala suku Dayak memilih agama Hindu, tetapi beralih menjadi Buddha yang dianggap memiliki pandangan dunia yang serupa dengan kepercayaan mereka. Sebelum memeluk agama Buddha, masyarakat menganut kepercayaan Kaharingan.[4]
Konsepsi alam
Masyarakat Halong mengenal adanya tiga alam yaitu alam manusia, alam gaib dan alam surga atau alam basarak. Konsepsi masyarakat akan ketiga alam ini terlihat dari kepercayaan mereka terhadap keberadaan dewa. Seluruh dewa atau dewata yang tinggal di alam dewa akan diundang saat mengadakan ritual adat. Selain itu, dipercaya juga bahwa terdapat tingkatan-tingkatan dengan tingkat yang tertinggi berada di Kepala Rakun yang dihuni oleh Rahmat Datuk Singadana.[8]