Bisnis
Pada mulanya Sukamdani menjadi pegawai pemerintahan yaitu sebagai pamong praja dan berdinas di Kantor Kecamatan Grogol, Sukoharjo, tak jauh dari Kota Solo. Gaji yang kurang menopang biaya hidup mendorongnya pindah bekerja ke Kementerian Dalam Negeri, Jakarta. Karena merasa tidak puas akhirnya dia memutuskan untuk pindah ke NV Harapan Masa—sebuah perseroan terbatas (PT) yang berasal dari istilah hukum Belanda Naamloze Vennootschap—milik Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI)." Di perusahaan itu dia bekerja keras sambil belajar mengenal dunia percetakan. Hasil ketekunannya membuat Sukamdani muda dipercaya sebagai Kepala Bagian Administrasi. Waktu luang sore hari setelah bekerja digunakan untuk kuliah di Akademi Perniagaan Indonesia (API) dan lulus pada tahun 1955.
Pada tahun 1952, Sukamdani mendirikan perusahaan percetakan berskala kecil di rumah kecil sewaan. Berkutat dengan gemeretak mesin dan lembaran kertas, juga percikan tinta, modal awalnya hanya dua buah mesin handpress yang dibelinya di Solo. Tahun 1958, Sukamdani berhasil mengembangkan usahanya. Ia mendirikan, sekaligus menjadi Direktur Utama CV Masyarakat Baru yang juga bergerak dalam bidang percetakan dan penerbitan. Perusahaan itu mendapat order dari Departemen Dalam Negeri, Departemen Keuangan. Pada tahun 1962, bisnisnya sudah berkembang biak dengan memiliki tiga percetakan di Jakarta, serta satu lagi di Solo. Sukamdani bisa membeli tanah dan rumah tempat ia menyewa rumah. Kini di atas tanah tersebut berdiri Hotel Sahid di jalan Sudirman yang merupakan jalan utama di ibu kota. Keuletan dan dukungan istri membawanya memperbesar usaha. Pada 1960 mendirikan PT Sahid Trading & Industrial Co. kemudian mengoperasikan Hotel Sahid Solo. Tahun-tahun berikutnya tumbuh hotel baru dan usahanya berkembang pesat di antaranya industri, perdagangan kertas, biro perjalanan, pariwisata, pertanian, konstruksi, perkebunan. Ia juga pendiri Harian Bisnis Indonesia dan saat ini menjabat pemimpin umum.[3]
Jaringan hotel Sukamdani memiliki 14 hotel mencakup 2750 kamar. Atas kiprah usahanya, dia menerima anugerah 15 tanda jasa dan bintang kehormatan. Di sisi organisasi, Sukamdani telah membawa Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) disegani secara legal dan formal menjadi mitra pemerintah. Dia dipercaya sebagai ketua umum Kadin pada 1982 dan terpilih lagi pada 1985. Dia lantas dipercaya sebagai Ketua Umum Kadin Asean 1987-1988. Keberhasilannya yang menonjol adalah memprakarsai, merintis dan melaksanakan pembukaan kembali hubungan dagang Indonesia-Tiongkok yang terputus sejak 1967. Jaringan hotel Sahid milik Sukamdani termasuk terbesar di Indonesia. Tahun 2013 Sukamdani berencana membangun 30 hotel baru lagi.[3]