Suaka Margasatwa Harlu adalah kawasan konservasi yang terletak di bagian timur laut Pulau Rote, tepatnya di Desa Daiama, Kecamatan Landu Leko, Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur.[1] Kawasan ini berada di bawah pengelolaan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Nusa Tenggara Timur (BBKSDA NTT) melalui Resort Konservasi Wilayah Suaka Margasatwa Harlu, Seksi Konservasi Wilayah II, Bidang KSDA Wilayah I.[2] Secara geografis, kawasan ini terletak pada 123°21'–123°25' BT dan 10°29'–10°34' LS, dengan luas sekitar 2.262 hektare.[3]
Sejarah
Suaka Margasatwa Harlu ditunjuk sebagai kawasan konservasi melalui Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan Nomor 84/Kpts-II/1993 pada tanggal 16 Februari 1993. Selanjutnya, pada tahun 2014 status kawasan ini diperkuat melalui Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor SK.3911/MENHUT-VII/KUH/2014 tanggal 14 Mei 2014. Penetapan ini bertujuan untuk melindungi keanekaragaman hayati di wilayah pesisir timur laut Pulau Rote, baik ekosistem terestrial maupun akuatik.[3]
Ekosistem
Ekosistem di kawasan Suaka Margasatwa Harlu terdiri atas ekosistem terestrial dan ekosistem akuatik. Ekosistem terestrial didominasi oleh hutan dataran rendah, sedangkan ekosistem akuatik meliputi laut dengan teluk yang menjorok jauh ke daratan, yang oleh masyarakat lokal disebut sebagai "mulut seribu".
Perairan di kawasan ini memiliki karakteristik relatif landai hingga bergelombang dengan tutupan terumbu karang yang rendah. Pola pasang surut terjadi dua kali dalam sehari, dengan arah arus yang berbeda saat pasang maupun surut. Arus perairan umumnya dipengaruhi oleh tiupan angin serta pasang surut laut.
Flora
Vegetasi di kawasan ini mencakup jenis-jenis tumbuhan khas pesisir dan hutan tropis. Beberapa di antaranya adalah kesambi (Schleichera oleosa), beringin (Ficus sp.), kayu merah (Pterocarpus indicus), serta vegetasi hutan pantai seperti Rhizophora stylosa dan Sonneratia sp..[3]
Fauna
Suaka Margasatwa Harlu menjadi habitat bagi berbagai satwa darat dan burung, termasuk satwa endemik Pulau Rote. Beberapa jenis satwa yang tercatat di kawasan ini antara lain kakatua kecil jambul kuning (Cacatua sulphurea), betet kelapa paruh besar (Tanygnathus megalorynchos), pergam timor (Ducula cineracea), cikukua timor (Philemon inornatus), tekukur (Streptopelia chinensis), perkici timor (Trichoglossus euteles), kipasan dada hitam (Rhipidura rufifrons), ayam hutan (Gallus gallus), dan rusa timor (Rusa timorensis).[4]
Hasil penelitian keanekaragaman burung menunjukkan bahwa kawasan ini menjadi habitat penting avifauna dengan 34 jenis burung dari 21 famili, mencakup 370 individu. Di antaranya terdapat satu spesies endemik Rote dan enam spesies burung migran. Indeks keanekaragaman burung di kawasan ini tercatat sebesar 3,36, dengan tingkat kemerataan 0,85. Burung isap madu Australia dan kipasan dada hitam memiliki kelimpahan relatif tertinggi, sementara burung decu timor menunjukkan frekuensi penemuan tertinggi.[5]
Geologi
Secara geologis, kawasan Suaka Margasatwa Harlu tersusun atas batuan sedimen lingkungan laut, seperti batu lempung, batu pasir, tufa, dan konglomerat gampingan. Beberapa lokasi juga menunjukkan singkapan diatomae dan napal dengan sebaran cukup luas. Batuan kapur banyak dijumpai di daerah pesisir.[3]
Secara morfologi, Kabupaten Rote Ndao terbagi menjadi dua satuan utama, yaitu morfologi pedataran dan morfologi perbukitan bergelombang. Pedataran tersebar di daerah pesisir yang tersusun oleh batuan alluvial, endapan danau, serta rawa-rawa yang tergenang air saat pasang naik. Perbukitan bergelombang terdapat di bagian tengah pulau dengan komposisi batu lanau, napal, batu gamping, dan batu pasir.[3]