Stasiun ini dahulu digunakan pelayanan persilangan dan penyusulan antarkereta api batu bara dari pertambangan batu bara Ombilin di Sawahlunto yang hendak menuju Pelabuhan Teluk Bayur, yang sudah tidak aktif sejak awal tahun 2003 karena habisnya batu bara, mengingat jalur ini mempunyai kontur menanjak dengan rel gigi.[3][4]
Stasiun ini sudah tidak beroperasi karena tidak siap beroperasinya lokomotif dengan rel gigi (yaitu BB204) yang bisa berjalan di lintas Padang Panjang–Kayu Tanam. Bahkan layanan kereta api wisata Danau Singkarak dan layanan wisata Lembah Anai juga sudah dihentikan operasionalnya, yang menyebabkan jalur Kayu Tanam–Sawahlunto sudah tak lagi dilayani kereta api.[3][4]
Pada budaya populer
Nama stasiun ini disebut dalam cerpen berjudul "Topi Helm" yang termuat dalam sebuah antologi cerpen berjudul Robohnya Surau Kami, karya A.A. Navis.[5]
Referensi
↑Subdit Jalan Rel dan Jembatan (2004). Buku Jarak Antarstasiun dan Perhentian. Bandung: PT Kereta Api (Persero).