Perusahaan ini didirikan oleh Lukminto pada tahun 1966 sebagai perusahaan perdagangan di Pasar Klewer, Solo dengan nama UD Sri Redjeki. Pada tahun 1968, perusahaan ini mendirikan sebuah pabrik di Joyosuran, Solo untuk memproduksi kain mentah dan bahan putihan. Pada tahun 1978, nama dan badan hukum dari perusahaan ini diubah menjadi seperti sekarang. Pada tahun 1982, perusahaan ini mendirikan pabrik penenunan pertamanya. Pada tahun 1984, perusahaan ini dipercaya untuk memproduksi seragam militer untuk pasukan militerNATO dan Jerman. Pada tahun 1992, perusahaan ini memperluas pabriknya, sehingga dapat menampung empat lini produksi sekaligus, yakni pemintalan, penenunan, penyelesaian, dan garmen.[2][4]
Pada tahun 2013, perusahaan ini resmi melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI). Pada bulan Februari 2015, Menteri Perindustrian Saleh Husin meresmikan perluasan pabrik milik perusahaan ini yang menghabiskan investasi sebesar US$104 juta.[5] Pada bulan April 2017, Presiden Joko Widodo meresmikan perluasan pabrik milik perusahaan ini yang menghabiskan investasi sebesar Rp 2,6 triliun.[6] Pada tahun 2018, perusahaan ini mengakuisisi PT Primayudha Mandirijaya dan PT Bitratex Industries untuk meningkatkan kapasitas pemintalannya.
Pada bulan November 2020, perusahaan ini meneken kontrak kerja sama untuk memasok bahan seragam untuk Pemuda Pancasila.[7] Pada bulan Desember 2020, untuk pertama kalinya, perusahaan ini mengekspor produknya ke Filipina.[8] Sepanjang tahun 2020, sebagai bagian dari upaya untuk mencegah penyebaran Covid-19, perusahaan ini berhasil mendistribusikan 45 juta masker hanya dalam waktu tiga minggu.
Pada bulan Oktober 2024, perusahaan ini dinyatakan pailit oleh Pengadilan Niaga Semarang.[9] Pada bulan Maret 2025, perusahaan ini resmi ditutup dan menjadi wewenang kurator.[3]