Sri Suriyendra (bahasa Thai:ศรีสุริเยนทรcode: th is deprecated ; RTGS: Si Suriyen; menyandang nama Putri Bunrot/Boonrod; 21 September 1767 – 18 Oktober 1836) adalah Ratu Siam, istri dari Raja Buddha Loetla Nabhalai (Rama II), yang merupakan sepupunya, dan ibu dari Raja Mongkut dan Pinklao. Ia mendapat nama Sri Suriyendra saat penobatan anaknya Mongkut (Rama IV) sebagai Krom Somdet Phra Sri Suriyendramataya.
Biografi
Putri Bunrot (บุญรอดcode: th is deprecated ) adalah anak dari Putri Sri Sudarak (เจ้าฟ้ากรมพระศรีสุดารักษ์) (adik dari Raja Buddha Yodfa Chulaloke (Rama I)) dan suaminya Ngoen Saetan (เงิน แซ่ตันcode: th is deprecated ) yang berasal dari Cina.[1] Putri Bunrot tinggal dengan ibunya di Istana Raja serta sepupunya dari jalur ibu yang merupakan anak dari Raja Rama I.
Putri Bunrot memiliki hubungan gelap dengan Pangeran Isarasundhorn (nanti menjadi Raja Rama II), yang merupakan pewaris takhta Raja Buddha Yodfa Chulaloke. Pada tahun 1801, Raja mengetahui kehamilan putri yang sudah berusia 4 bulan kemudian mengusirnya dari Istana Raja bersama dengan saudaranya Pangeran Thepharirak. Pangeran Isarasundhorn memohon kepada ayahnya agar hukuman kepada putri bisa diubah. Pasangan ini lalu tinggal di Istana Lama (Istana Thonburi) dan Putri Bunrot menjadi permaisuri pangeran. Bayi yang dikandungnya meninggal sesaat setelah kelahirannya.
Saat Pangeran Isarasundhorn kemudian dinobatkan menjadi Raja Buddha Loetla Nabhalai, Putri Bunrot lalu dinaikkan gelarnya menjadi Ratu. Namun ia bukan satu-satunya permaisuri dari raja karena Raja Siam diperbolehkan memiliki lebih dari satu permaisuri. Ia lalu berbagi suami dengan Putri permaisuri Kunthon dan Putri Riam (Ibu dari Raja Nangklao (Rama III)) dan sejumlah selir raja.
Anak, Pangeran Mongkut menjadi biksu pada tahun 1824, pada tahun yang sama Raja Rama II meninggal dunia. Menurut aturan dan tradisi, Mongkut lah yang seharusnya dinobatkan menjadi raja. Namun, takhta kemudian diberikan kepada Pangeran Tub, yang menjadi Raja Nangklao (Rama III) (meskipun pangeran lahir dai selir, ia sangat mahir dalam urusan pemerintahan). Mongkut kemudian tetap menjadi biksu untuk menghindari intrik dari raja baru tersebut.
Sri Suriyendra lalu meninggalkan Istana Raja menuju ke Istana Lama (Wang Derm) dan tinggal bersama anaknya yang lain Pangeran Isaret (sebelumnya Pangeran Chutamani). Ia tinggal disana hingga kematiannya pada tahun 1836. Ia sudah meninggal dunia saat anaknya, Mongkut dinobatkan menjadi Raja Rama IV.
Keturunan
Bersama Pangeran Isarasundhorn (nanti menjadi Raja Buddha Loetla Nabhalai (Rama II)), ia melahirkan 3 she bore three sons:
Anak pertama, lahir pada tahun 1801, meninggal sesaat setelah kelahirannya;
Pangeran Mongkut, kemudian menjadi Raja Mongkut (Rama IV), lahir pada tahun 1804;
Pangeran Chutamani, atau kemudian Raja Pinklao (gelar kesetaraan dari Raja Rama IV), lahir pada tahun 1808.
Gelar dan gaya
1767 – 1782 Nona Boonrod
1782 – 1799 Yang Mulia Putri Boonrod
1799 – 1806 Yang Mulia Putri Boonrod, Permaisuri Yang Mulia Pangeran Isarasundhorn
1806 – 1809 Yang Mulia Putri Boonrod, Permaisuri Yang Mulia Pangeran Isarasundhorn, Raja Muda Siam
1809 – 1824 Yang Mulia Putri Permaisuri Siam (ia tidak menerima status keratuan saat masa takhta suaminya, tetapi ia diakui sebagai kepala permaisuri Yang Mulia Raja Rama II
1824 – 1836 Yang Mulia Putri Boonrod, Putri Permaisuri Yang Mulia Raja Rama II
Yang Mulia Ratu Sri Suriyendra, Ibu Suri Siam (gelar diberikan secara anumerta oleh Raja Rama IV)