Kain ini telah diperkenalkan sejak tahun 1675, ketika Sultan Sulaiman mendirikan Kesultanan Sambas. Pada masa itu, Songket Sambas digunakan sebagai perlengkapan ritual adat, terutama dalam upacara pernikahan. Popularitas kain ini semakin meningkat pada masa Sultan Muhammad Tajudin ketika Kesultanan Brunei menghadiahkan seperangkat alat tenun. Hal ini membuat seni menenun semakin berkembang di lingkungan istana dan masyarakat sekitar.[1]
Pada masa Hindia-Belanda, kegiatan menenun semakin berkembang dan hampir setiap rumah di kota Sambas memiliki alat tenun sendiri.[2] Produk kain digunakan tidak hanya sebagai pelengkap dalam ritual adat tetapi juga sebagai simbol status sosial dan komoditas perdagangan antar-kerajaan di Sumatera, India, dan Tiongkok.
Proses Pembuatan
Proses pembuatan kain tenun yang disebut menenun akan melibatkan penyeberangan dua set benang dengan memasukkan benang pakan secara melintang pada benang-benang lungsin.
Bentuk Dasar
Lembaran kain songket Sambas memiliki bagian-bagian yang menjadi ciri khas, seperti:[3]
Renda, motif bagian kain yang terdapat pada bagian paling bawah dan paling atas kain. Renda berfungsi sebagai penutup atau batas akhir pada kain.
Papan kain, motif kain bagian kedua di atas renda kain yang merupakan bagian penyambung kain ke bagian seleko.
Seleko, motif kain yang terdapat pada bagian di antara papan kain dan dagin kain.
Sunting mambang, motif kain yang terdapat di bagian atas dan bawah punce kain.
Punce kain, motif utama yang terdapat pada bagian kain yang terletak pada bagian paling tengah.
Gigi balang, motif yang terletak pada pinggir kiri dan kanan kain di antara punce kain dan dagin kain.
Papan perapik, motif pembatas antara gigi balang dan punce kain.
Dagin kain, motif kain yang merupakan motif dasar yang terletak di samping kanan dan kiri kain, tetapi tidak sampai kepada batas bagian kain.
Motif
Songket Sambas memiliki beberapa motif seperti Kote Mesir, Pucuk Rebung, Mawar, Ragam Banyi, Tabur Mata Ayam, dan Tabur Bintang.[4]
Kain Padang Tibakar Dagin, kain ini dibuat dengan memberikan motif secara menyeluruh pada dasar kain sehingga penggunaan benang emasnya lebih banyak
Kain Betabor, Kain ini dibuat dengan memberikan motif tidak menyeluruh pada dasar kain atau motif dibuat satu persatu secara terpisah didasar kain sehingga penggunaan benang emasnya relatif lebih sedikit dibanding kain Padang Tibakar Dagin.
Kain Beturus, Pada dasarnya pembuatan kain beturus sama dengan jenis kain yang lainnya, yang membedakan dalam pemberian motif hanya pada bagian punce atau tengah kain dan motif yang dibuat berbentuk garis lurus dari atas ke bawah.
Kain Berkala, Kain ini disebut berkala karena di setiap bagian tengah dari pada motif yang terbuat dari benang emas selalu diisi dengan benang dasar atau benang kapas sebagai inti dari motif kain dan warna benangnya tdak satu warna.
Kain Cual, Kain Cual dibuat dengan menggunakan benang kapas sebagai dasar dari pada kain dan pembuatan motif pada kain cual tidak menggunakan benang emas atau benang perak tapi motif pada kain dibuat dengan cara pewarnaan atau pencelupan pada benang dasar dengan menggunakan zat pewarna alami maupun kimia.
Kain Cual Betabor, Kain Cual Betabor merupakan penggabungan antara kain Cual dengan kain Betabor, dalam pembuatan kain Cual Betabor yaitu kain cual ditaburi motif satu persatu pada bagian dasar kain dengan menggunakan benang emas ataupun perak.
Kain Pelangi, Kain Pelangi merupakan pengembangan dari kain Cual atau menggabungkan kain Cual dengan kain padang Tibakar Dagin, yang mana pada bagian dasar kain Cual diberi motif dengan menggunakan benang emas atau perak secara keseluruhan
Penghargaan
Pada tahun 2012 dan 2014, Tenun Songket Sambas mendapatkan penghargaan Unesco Award of Excellence for handicrafts. Hasil ini didapatkan oleh dua penenun yaitu Nurlela dengan karya motif tabur bintang tabur katun dengan bahan katun dan Budiana dengan karya motif penyu beturus.[6]
Pada 28 Oktober 2017, Tenun Songket Sambas mendapatkan rekor dunia dari Museum Rekor Indonesia (MURI) untuk Tenun Songket Sambas dengan panjang 161 m yang didesain dengan 100 motif dan dikerjakan selama 16 bulan oleh Yayasan Dompet Ummat Kalimantan Barat.[7]
Penurunan produksi
Setelah beberapa tahun, eksistensi Tenun Songket Sambas mulai memudar yang ditandai dengan berkurangnya jumlah penenun di data daftar industri kecil menengah non formal tahun 2013 yang dilakukan oleh Dinas Koperasi UMKM Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Sambas. Pada tahun 1999, total jumlah penenun tercatat ada 808 orang, pada tahun 2009 total jumlah penenun tercatat menjadi 365 orang dan pada tahun 2013 total jumlah penenun tersisa 256 orang.[8]
↑Alfian (2010). Profil Kerajinan Tenun Songket Sambas. Jakarta: Direktur Jenderal Hak Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
↑Dinas Koperasi UMKM Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Sambas (2013). Daftar Industri Kecil Menengah Non Formal. Sambas: Dinas Koperasi UMKM Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Sambas. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)