Kalurahan in Daerah Istimewa Yogyakarta, 23x15px|border |alt=|link= Indonesia{{SHORTDESC:Kalurahan in Daerah Istimewa Yogyakarta, 23x15px|border |alt=|link= Indonesia|noreplace}}
Pada zaman kerajaan Majapahit, bermula dari kisah Tanujoyo yang bertapa di bekas telapak kuda yang diyakini kuda milik Sunan Kalijaga. Selama bertapa bertahun-tahun jasad / raganya menghilang dan sampai saat ini tidak pernah ditemukan, lokasi pertapaan dilakukan di tengah hutan belantara lebat yang saat ini disebut tegalan Kerok, terletak di tengah-tengah gunung Kerok (± 2 Km dari Dusun Songbanyu) ditempuh dengan jalan kaki.[butuh rujukan]
Sejak Tanujoyo menghilang, lokasi bekas pertapaannya mengeluarkan sumber mata air, padahal pertapaan itu berada di tengah-tengah bebatuan (sampai saat ini masih dikeramatkan). Mengetahui ada sumber air dilokasi yang susah air beberapa warga yang dipandang sakti pada waktu itu melakukan pemugaran dengan memperlebar sumber air yang dilakukan oleh Pak Kasan Rejo dan Pak Buimin.[butuh rujukan]
Silsilah pemimpin / kepala desa semenjak berdirinya desa Songbanyu:
Penggok 1930-1940
Karyo Suwito 1940-1950
Karyo Menggolo 1950-1958
Marto Harjono 1958-1989
(Pjs) Hadi Suparno 1989
D.rs Suprihadi MM 1989-2005
(Pjs) Bambang Suroyo 2005-2006
Prihadi 2007-2013
(Plt) Kismanto 2013
Junardi 2013-sekarang
Pembagian
Songbanyu terdiri dari 13 Padukuhan, 13 RW dan 27 RT. jumlah penduduk sekitar 3800 Jiwa. Tempat wisata yang terdapat di Songbanyu antara lain:
1.Pantai & Pelabuhan Perikanan Sadeng
2.Pantai Krokoh (terletak di Padukuhan Putat)
3.Goa Mangir (terletak di 2Km Barat Padukuhan Putat)