Sohibul Hikayat merupakan seni tradisi pertunjukkan tutur dalam tradisi lisan Betawi yang berasal dari kumpulan kisah Timur Tengah yang di antaranya bersumber pada kisah "Seribu Satu Malam" (alfu lail wal lail).[1] Pembawa cerita sohibul hikayat disebut sebagai tukang cerita, juru cerita, dan/atau juru hikayat.[2] Seorang juru hikayat harus memiliki kemahiran ekspresi suara dalam menyampaikan cerita. Dalam bahasa Arab, Sohibul Hikayat memiliki arti yang memiliki arti pemilik kisah semisal dalam sebuah kisah disampaikan sebagai "sohibul hikayat" atau "berdasarkan sohibul hikayat" yang digunakan untuk penekanan apa yang akan diceritakan selanjutnya yang terkadang tidak masuk akal. Semisal dalam kutipan berikut:
"Jin itu menaruh anaknya di dalam ayunan, sambil bernyanyi-nyanyi di dalam ayunan itu, maksudnya agar anak itu tidur. Katanya Sohibul hikayat, ayunan itu baru dikembalikan sembilan tahun kemudian…” (Dikutip dari program siaran radio swasta).
Dalam penggunaannya, sohibul hikayat memiliki maksud bahwa kisah yang disampaikan merupakan tanggung jawab sang pemilik cerita yang tidak dijelaskan siapa yang dimaksud. Sohibul hikayat berada di daerah kebudayaan Betawi perkotaan, seperti di antara Tanah Abang hingga Salemba, dan Mampang Prapatan hingga Taman Sari.[1]
Pencerita Sohibul Hikayat
Pembawa cerita atau pencerita sohibul hikayat disebut sebagai tukang cerita, juru cerita, dan/atau juru hikayat. Beberapa seorang pencerita sohibul hikayat terkenal adalah Ja'far, Haji Ma'ruf, dan Mohammad Zaid (Wak Jait). Seorang sohibul hikayat digambarkan sebagai seorang yang menggunakan baju sehari-hari berupa baju sadariah, sarung yang dikalungkan, dan menggunakan peci hitam. Seorang juru hikayat bercerita dengan posisi bersila, terkadang membawa bantal dan bahkan membawa drum kecil sebagai pendukung penceritaan.[1]