Sisingamangaraja VIII (bergelar: Ompu Sahalompoan) adalah salah seorang raja-imam (Priest-King) dari Dinasti Sisingamangaraja, yang memerintah di Bakkara, Toba.[1]
Ia hanya mempunyai seorang anak yang bernama Ompu Sotaronggal yang kemudian menjadi Si Singamangaraja IX.[2]
Teori Hubungan dengan Tuanku Rao dan Kritik Akademis
Sisingamangaraja VIII juga dibahas secara ekstensif dalam buku Tuanku Rao (1964) karya Mangaradja Onggang Parlindungan. Dalam buku tersebut, Parlindungan mengutip sebuah sumber yang disebut sebagai "Laporan Poortman" (tulisan Cornelis Poortman, seorang pejabat kolonial). Berdasarkan laporan tersebut, diklaim bahwa Sisingamangaraja VIII memiliki seorang putra lain bernama Pangeran Muhammad Amirudin Zainal Sinambela, yang kemudian dikenal sebagai tokoh Perang Padri, Tuanku Rao.[1] Menurut narasi ini, Amirudin diasingkan dari Bakkara, memeluk Islam, dan dimakamkan di Singkil.
Namun, validitas historis klaim ini diperdebatkan oleh kalangan akademisi. Filolog dan sejarawan Uli Kozok, yang melakukan penelusuran terhadap arsip-arsip kolonial Belanda, menyimpulkan bahwa "Laporan Poortman" yang menjadi sandaran utama klaim tersebut tidak dapat ditemukan bukti fisiknya.[3] Kozok menyatakan bahwa meskipun Poortman adalah tokoh nyata, dokumen spesifik yang dikutip Parlindungan tidak tercatat dalam Algemeen Rijksarchief (Arsip Nasional Belanda) maupun arsip nasional di Jakarta. Karena ketiadaan bukti primer yang dapat diverifikasi, narasi yang menghubungkan Sisingamangaraja VIII dengan Tuanku Rao melalui jalur silsilah ini dianggap oleh sebagian sejarawan sebagai pseudo-history atau sejarah yang belum terbukti.[3]
↑Tobing, Dra. Tiurma, L. (2008). Raja Si Singamangaraja XII. Jakarta: Direktorat Nilai Sejarah. hlm.26. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
12Kozok, Uli (2009). Utusan Damai di Kemelut Perang: Peran Zending dalam Perang Toba. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia. hlm.112–114. ISBN9789794617262.