Sir James Lancaster (1554—6 Juni 1618) adalah seorang pelaut dan pedagang Inggris yang dikenal sebagai pemimpin ekspedisi pertama East India Company (EIC) ke Hindia Timur. Pada tahun 1601, ia memimpin armada yang berangkat dari Inggris menuju Asia, dengan tujuan utama mendirikan pos perdagangan dan menjalin hubungan diplomatik dengan kerajaan-kerajaan di wilayah tersebut. Lancaster berhasil mencapai Aceh dan Banten di Sumatra dan Jawa, serta mendirikan pos perdagangan pertama Inggris di Banten pada tahun 1602. Keberhasilan ini menandai awal kehadiran Inggris secara resmi di Asia Tenggara.[1]
Kehidupan pribadi
Menurut Milton (1999), informasi mengenai kehidupan Lancaster sulit ditemukan. Lancaster menulis surat wasiat yang menyatakan bahwa ia lahir di Basingtoke antara tahun 1554 dan 1555. Ia lahir dari "keluarga ningrat" dan dikirim ke Portugal untuk "mempelajari bahasa dan perdagangan" serta "mengabdi bersama sebagai seorang prajurit dan tinggal [..] sebagai seorang pedagang."[2]
Lancaster kembali ke Inggris pada 1587. Ia kemudian menjadi pegawai seorang pedagang asal London bernama Thomas Cordell. Pada 1588, ia ditugaskan memimpin kapal dagang Cordell yang bernama Edward Bonaventure, di bawah komando Sir Francis Drake, melawan Armada Spanyol.[3][2]
Perjalanan ke Nusantara
Penjelajahan pertama (1591—1594)
Lancaster berangkat untuk melakukan penjelajahan ke Nusantara pada 10 April 1591. Tiga armada dikerahkan untuk misi penjelajahan ini, yakni Edward Bonaventure, Penelope, dan Merchant Royal. Lancaster memimpin Kapal Edward Bonaventure, sementara sisanya berada di bawah komando George Raymond dan Samuel Foxcroft.[4] Misi penjelajahan ini dibiayai oleh para pedagang dengan tujuan mengintai, dibandingkan benar-benar melakukan aktivitas perdagangan.[5]
Perjalanan rombongan penjelajahan itu tidaklah mulus. Beberapa awak di tiga kapal menderita penyakit skorbut dan meninggal dunia akibat iklim yang panas. Meskipun demikian, Lancaster berhasil menangkap sebuah kapal Portugis serta menjarah anggur, minyak, dan kaper yang dimuatnya.[6]
Rombongan tersebut tiba dan berlabuh di Table Bay pada 1 Agustus 1591.[7] Ia bersama para awaknya berburu dan melakukan barter dengan penduduk setempat sehingga mendapatkan makanan-makanan hewani segar, seperti lembu, domba, dan banteng. Namun. dalam persinggahan selama tiga pekan tersebut, sebanyak 50 awak teridentifikasi sakit dan tidak dapat melanjutkan perjalanan. Merchant Royal diputuskan untuk kembali ke Inggris, sementara dua kapal lainnya melanjutkan perjalanan ke timur.[8]Penelope kemudian hilang dalam sebuah badai, menyisakan Edward Bonaventure yang ditumpangi oleh Lancaster melanjutkan perjalanan sendirian.[9]
Rombongan Lancaster kemudian sampai di Penang dan menjumpai kumpulan orang Semang.[10] Pada saat berlabuh di pulau tersebut, hanya tersisa 30 orang awak kapal yang masih hidup, dengan belasan di antaranya sakit. Meskipun demikian, Lancaster masih mampu kembali menyerang sebuah kapal Portugis yang melintas dan menjarah muatannya. Rombongan tersebut kemudian memutuskan untuk segera berlayar kembali ke Inggris dan sampai pada Mei 1594. Saat sampai di Inggris, tersisa hanya 25 awak kapal yang masih hidup.[11]
Penjelajahan kedua (1601—1603)
Pada Februari 1601, Lancaster ditunjuk untuk menjadi Laksamana ekspedisi pertama Perusahaan Hindia Timur Britania Raya. Armada penjelajahan tersebut menggunakan kapal Red Dragon, Ascension, Hector, dan Susan. Rombongan penjelajah berangkat dari Sungai Thames pada Februari 1601.[12]
Dalam perjalanannya menuju Banten, Lancaster singgah di Aceh, bagian dari wilayah Sumatra yang kini menjadi bagian dari Indonesia. Di sana, ia menjalin hubungan diplomatik dengan Sultan Alauddin Riayat Syah penguasa Kesultanan Aceh. Lancaster berhasil memperoleh izin untuk berdagang dan membawa surat dari Ratu Elizabeth I yang memperkuat relasi resmi antara Inggris dan Aceh.[13] Kunjungan ini menjadi salah satu bentuk awal keterlibatan Inggris di Nusantara.
Lancaster kemudian melanjutkan perjalanannya ke Banten di Jawa Barat, yang kala itu merupakan pusat perdagangan penting dan bagian dari Kerajaan Banten. Di sana, ia membuka negosiasi dagang dan mendirikan hubungan awal antara EIC dan penguasa lokal. Peristiwa ini membuka jalan bagi kehadiran pos dagang Inggris di Banten, meskipun pengaruh Inggris masih terbatas dibandingkan Belanda dan Portugis.[14]
Lancaster kembali ke Inggris dari misi penjelajahan tersebut pada 11 September 1603. Penjelajahan ini lebih sukses jika dibandingkan dengan penjelajahan pertamanya. Oleh karena itu, Lancaster mendapatkan gelar ksatria dari Raja James I.[15]
Pengaruh ekspedisi Lancaster
Walaupun Lancaster tidak tinggal lama di Nusantara, ekspedisi yang ia pimpin menjadi fondasi bagi keterlibatan Inggris lebih lanjut di kawasan ini. Setelah kepulangannya ke Inggris, EIC memperluas kegiatannya di Asia Tenggara, termasuk mendirikan beberapa pos dagang di sepanjang pesisir Sumatra dan Jawa.[16] Pengaruh langsung Lancaster memang singkat, tetapi strateginya membuka jalur diplomatik dan perdagangan yang memperkuat kehadiran Inggris di Nusantara. Kunjungan dan hubungan dagang yang dijalin Sir James Lancaster di Nusantara juga menandai dimulainya persaingan Inggris dengan Belanda dan Portugis dalam memperebutkan kontrol atas perdagangan rempah-rempah.[17]
Kebiasaan Lancaster
Terdapat hal menarik yang menjadi kebiasaan Lancaster, dalam pelayarannya ke Asia Tenggara, Lancaster menerapkan kebiasaan untuk menjaga kesehatan para awak kapalnya. Ia memberikan jus jeruk nipis setiap hari kepada anak buahnya, sebagai upaya mencegah penyakit kudis yang sering menyerang pelaut dalam perjalanan panjang. Langkah ini tergolong maju pada masanya dan terbukti berhasil menjaga kondisi fisik kru kapal. Diduga, kebiasaan ini muncul dari pengamatan Lancaster selama berada di wilayah tropis, termasuk pertemuannya dengan penduduk setempat, meskipun catatan sejarah resmi jarang menyebut secara langsung pertemuan awal ini.[17]
Milton, Giles (2024) [1999]. Wiyati, Nunung (ed.). Nathaniel's Nutmeg[Pulau Run: Petualangan Pedagang Rempah yang Mengubah Perjalanan Sejarah Dunia] (dalam bahasa Indonesia). Diterjemahkan oleh Rosdalina, Ida. Tangerang Selatan: Pustaka Alvabet. ISBN978-623-220-176-7. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link) Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link)