Sindrom Prader–Willi (PWS) adalah kelainan genetik akibat hilangnya fungsi gen tertentu.[7] Pada bayi baru lahir, gejala yang sering muncul meliputi tonus otot lemah (hipotonia), kesulitan menyusu, dan perkembangan yang lambat.[3] Memasuki masa kanak-kanak, pengida[ biasanya mengalami rasa lapar yang terus-menerus (hiperfagia), yang seringkali menyebabkan obesitas dan diabetes tipe 2.[3]Gangguan intelektual ringan hingga sedang dan masalah perilaku juga kerap dijumpai.[3] Ciri fisik yang sering dilaporkan antara lain dahi sempit, tangan dan kaki yang kecil, perawakan pendek, serta kulit dan rambut yang lebih terang. Banyak pengidap mengalami gangguan kesuburan.[3]
Sekitar 74% kasus terjadi karena penghapusan (delesi) segmen kromosom 15 yang berasal dari ayah. [3] Pada sekitar 25% kasus lainnya, individu memiliki memiliki dua salinan kromosom 15 dari ibu dan tidak menerima salinan dari ayah (disomi uniparental maternal).[3] Karena sebagian gen pada kromosom 15 ibu secara alami dimatikan (imprinting), kondisi tersebut membuat tidak ada salinan gen tertentu yang aktif.[3] PWS umumnya tidak diturunkan dalam keluarga; perubahan genetik biasnaya terjadi saat pembentukan sel telur atau sperma, atau pada tahap awal perkembangan embrio.[3] Faktor risiko spesifik belum diketahui.[8] Risiko kekambuhan pada kehamilan berikutnya umumnya kurang dari 1%.[8] Mekanisme serupa juga terjadi pada sindrom Angelman, tetapi dengan pola sal kromosom yang berbeda.[9][10]
Belum ada terapi kuratif untuk PWS, namun penanganan dini dapat memperbaiki luaran.[4] Pada bayi, kesulitan makan dapat diatasi dengan selang makan.[6] PSeiring bertambahnya usia, pengawasan asupan makanan yang ketat—sering dimulai sekitar usia tiga tahun—perlu dipadukan dengan program aktivitas fisik.[6] Terapi hormon pertumbuhan terbukti membantu perbaikan komposisi tubuh dan pertumbuhan.[6] Intervensi perilaku, konseling, dan obat-obatan dapat digunakan sesuai kebutuhan. Pada masa dewasa, sebagian pengidap memerlukan lingkungan tinggal dengan dukungan terstruktur.[6]
Prevalensi PWS diperkirakan sekitar 1 dari 10.000 hingga 1 dari 30.000 orang.[3] Kondisi ini dinamai dari para dokter Swiss yang mendeskripsikannya secara rinci pada 1956:[1] Andrea Prader, Heinrich Willi, dan Alexis Labhart. Deskripsi klinis yang lebih awal telah dilaporkan pada 1887 oleh John Langdon Down.[11][12]
↑Cortés M, F; Alliende R, MA; Barrios R, A; Curotto L, B; Santa María V, L; Barraza O, X; Troncoso A, L; Mellado S, C; Pardo V, R (January 2005). "[Clinical, genetic and molecular features in 45 patients with Prader-Willi syndrome]". Revista Médica de Chile. 133 (1): 33–41. doi:10.4067/s0034-98872005000100005. PMID15768148.
↑Teitelbaum, Jonathan E. (2007). In a Page: Pediatrics (dalam bahasa Inggris). Lippincott Williams & Wilkins. hlm.330. ISBN9780781770453. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal September 11, 2017. Diakses tanggal September 8, 2017.
↑Madan-Khetarpal, Georgianne; Arnold, Georgianne; Oritz, Damara (2023). "1. Genetic disorders and dysmorphic conditions". Dalam Zitelli, Basil J.; McIntire, Sara C.; Nowalk, Andrew J.; Garrison, Jessica (ed.). Zitelli and Davis' Atlas of Pediatric Physical Diagnosis (dalam bahasa Inggris) (Edisi 8th). Philadelphia: Elsevier. hlm.14–15. ISBN978-0-323-77788-9. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal December 19, 2022. Diakses tanggal December 19, 2022.
↑Jorde, Lynn B.; Carey, John C.; Bamshad, Michael J. (2015). Medical Genetics (dalam bahasa Inggris) (Edisi 5). Elsevier Health Sciences. hlm.120. ISBN978-0-323-18837-1. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal December 15, 2020. Diakses tanggal September 8, 2017.