Syekh Abdurrahman al-Khalidi, atau disebut juga Syekh Kumango, adalah peramu Silat Kumango.[9][10] Ia disebutkan bernama kecil Alam Basifat,[11] dan lahir pada sekitar tahun 1802.[4] Pada masa mudanya adalah pendekar yang banyak merantau ke berbagai pelosok nusantara untuk belajar mengaji dan bersilat.[12] Syekh Kumango disebutkan menguasai tarekat-tarekat Naqsyabandiyah[12] dan Sammaniyah.[13] Setelah kembali dari perantauannya, ia kemudian mengajar agama dan ilmu beladiri di surau di kampungnya, yang dikenal dengan nama Surau Subarang.[14][15]
Pengaruh ajaran tarekat pada Silat Kumango sangat terasa, yang menuntut para muridnya dapat mengendalikan diri.[16][17] Jurus-jurus pada silat ini tidak lagi meniru gerakan hewan atau alam, sebagaimana pada golongan silat-silat tua lainnya di Sumatera Barat.[18]
Saat ini, dari daerah asalnya Silek Kumango telah tersebar ke beberapa kawasan lain di Indonesia[6][7] maupun ke mancanegara.[8] Silat ini juga telah dituliskan dalam karya beberapa peneliti beladiri, seperti Donn F. Draeger (1970, 1972),[19][20] Hiltrud Cordes (1990),[21] Kristin Pauka (1998),[22] dan O'ong Maryono (2002).[2]
Konsep dan teknik
Konsep dan teknik Silat Kumango memiliki persamaan dengan aliran-aliran silat Minangkabau lainnya, meskipun memiliki ciri khasnya tersendiri. Di dalam silat ini tetap dikenal istilah-istilah garak-garik, langkah, kudo-kudo, gelek, jurusan, sikap pasang atau tagak alif, dan lain-lain sebagai bagian dari karakter dasar silat Minangkabau.[22]
Langkah
Seperti halnya silat di Minangkabau, belajar melangkah dianggap penting. Para murid ditekankan agar belajar cara melangkah yang benar, sebab jurus atau buah tidaklah akan tepat penggunaannya apabila langkah yang dilakukan tidak benar. Silek Kumango memakai konsep langkah ampek (langkah empat), tetapi Syekh Kumango menamai gerak langkah khas Silat Kumango memakai istilah Islami, yaitu langkah alif-lam, lam-ha, mim-ha, dan mim-dal.[11][18] Selain itu, diterapkan pula yang disebut langkah tuo, yaitu gerakan langkah untuk menyerang dan menangkis secara kilat untuk membuat lawan mati langkah.[23]
Langkah-langkah dalam Silat Kumango dilakukan dengan ringan dan berhati-hati, demi menjaga kegesitan dan antisipasi yang cepat untuk menyerang atau bertahan; teknik melangkah ini dinamakan pijak baro.[24] Langkah-langkah yang dilakukan bertujuan mendekatkan pesilat dengan tubuh lawannya, sehingga dapat melakukan penyergapan yang diikuti dengan serangan pukulan dan/atau bantingan.[19]
Jurus
Silat Kumango menerapkan jurus-jurus yang lembut dan fleksibel dalam taktiknya untuk mengalahkan lawan.[19] Gerakan menghindar yang dilakukan sering terlihat seperti "mengalah", tetapi segera dibalikkan untuk mendapat situasi yang menguntungkan, sehingga di tengah suatu gerakan yang lembut akan muncul tindakan yang keras terhadap lawan.[19] Nama-nama jurus atau gerakan inti pada Silat Kumango antara lain sbb.:[23][25]
Ilak suok
Ilak kida
Rambah
Cancang
Sambuik pisau
Lantak siku
Ampang
Patah tabu
Ucak tangguang
Ucak lapeh
Pesilat Kumango yang ahli telah terlatih untuk melepaskan diri dari hampir semua bentuk kuncian, pintingan, ataupun cekikan yang dilakukan oleh lawan.[19] Selain itu, terdapat pula kuncian-kuncian khas dalam silat ini, yang terkenal dangan sebutan Kuncian Kumango.[26]
↑Tarab berasal dari kata Tarok, yaitu nama tumbuhan yang pada zaman dahulu seratnya dibuat untuk pakaian. Pada zaman penjajahan Jepang, pakaian dari serat tarok ini kembali populer dengan ucapan ichi ni san shi go roku, baju goni sarawa tarok (satu dua tiga empat lima enam, baju goni celana tarok).