Pada usia perkawinannya yang ke 22, Mutia yang konsul di Jerman, diserang kanker pada levernya. Kesulitan ini tidak mengubah sikap suaminya, Affan. Meski lebih bersimpati pada ibunya, kedua anak mereka, Ganang dan Gadis, seperti tidak berdaya menghadapi ayahnya pada saat konflik. Perlahan-lahan kesadaran Affan tumbuh. Tapi saat kesadaran penuh sampai, Mutia sudah harus menghadapi ajal, hingga tinggal sesal suaminya yang ada. Sebagaimana kebiasaan Affan dalam filmnya, kritik tentang korupsi dan keadaan sosial muncul lewat dialog tokoh-tokohnya, yang disinggung kali ini adalah masalah pesawat Garuda Indonesia.