Paduka Yang Tenteram, yang merupakan terjemahan dari kata Jerman Durchlaucht, adalah sebutan yang digunakan saat ini di Liechtenstein,[1]Monako,[2][3][4] dan Thailand (khusus untuk anak dari Pangeran Thailand). Hingga tahun 1918, sebutan ini juga dimiliki oleh pangeran dari anggota sejumlah dinasti penguasa dan wangsa Jerman yang telah dimediatisasi, serta sejumlah keluarga yang memiliki martabat pangeran tetapi tidak berdaulat. Sebutan tersebut juga merupakan sebutan yang digunakan oleh anggota keluarga cabang dari dinasti Prancis, Italia, Rusia, dan Kadipaten Ernestine di bawah monarki yang dikuasai oleh keluarga inti, serta diberikan oleh kaisar atau Paus kepada beberapa keluarga yang memiliki martabat pangeran namun tidak berdaulat di Bohemia, Hungaria, Italia, Polandia, Rumania, dan Rusia. Dalam beberapa kasus langka, sebutan Paduka Yang Tenteram digunakan oleh penguasa non-kerajaan seperti wizurai atau bahkan di republik seperti Republik Genova ataupun Venesia.
Belgia
Pemegang gelar berikut ini beserta pasangannya diberi wewenang oleh Raja untuk disebut Paduka Yang Tenteram[5]
Ada beberapa sumber yang menyatakan bahwa di Prancis pada masa pra-Revolusi seseorang yang berhak mendapat sebutan Paduka yang Tenteram dianggap lebih tinggi derajatnya daripada seseorang hanya mendapat sebutan Paduka saja. Hal ini berbeda dengan tradisi di Jerman dimana hal sebaliknya berlaku.
Para anggota keluarga kerajaan yang bukan anak atau cucu raja, yaitu pangeran atau prinses darah, berhak dipanggil dengan sebutan "Paduka yang Tenteram" (Son Altesse Sérénissime dalam Bahasa Perancis).[6] Gaya "Paduka" (altesse) lalu diklaim oleh para pangeran asing (disebut sebagai prince étrangers) dan para anak tiri raja yang telah diakui (disebut sebagai prince légitimés). Namun pada kenyataannya, sebutan ini jarang digunakan dalam percakapan, karena para pangeran dan prinses darah masing-masing memilih untuk menggunakan Monsieur le Prince dan Mademoiselle, sementara para adipati yang memiliki hak untuk menjadi Bangsawan Rekan Perancis, yang dipimpin oleh Adipati Saint-Simon, karena kesombongan mereka, tidak menyebut para prince étrangers dan prince légitimés dengan sebutan Paduka, yang mendorong para bangsawan dengan pangkat lebih rendah untuk melakukan hal yang sama.[7]
Liechtenstein
Penggunaan gaya yang sah saat ini di negara-negara berbahasa Jerman terbatas pada semua anggota Keluarga Pangeran Liechtenstein, jika mereka tidak memiliki sebutan yang lebih tinggi.[1] Putri pewaris Liechtenstein, Sophie, adalah seorang Adipatni dari Bayern, sehingga berhak atas sebutan Paduka Kerajaan, yang lebih tinggi derajatnya dibandingkan Paduka Yang Tenteram.[8]
Monako
Semua anggota keluarga Pangeran Berdaulat Monako yang berasal dari pernikahan yang sah pada saat itu, berhak mendapatkan sebutan Paduka Yang Tenteram, jika tidak mendapatkan sebutan yang lebih tinggi derajatnya.[2][3][4]Putri Caroline, yang pada awalnya berhak atas sebutan Paduka Yang Tenteram, tetap memiliki sebutan tersebut sampai pernikahannya pada tahun 1999, yang membuatnya mendapatkan sebutan yang lebih tinggi derajatnya, yaitu Paduka Kerajaan, atas pernikahannya dengan Paduka Kerajaan Ernst, Pangeran dari Hannover.
Adipati Braganza memiliki sebutan Paduka yang Tenteram sebagai keluarga bangsawan terkuat di Portugal sebelum tahun 1640, yang merupakan tahun kenaikan takhta Adipati Braganza menjadi Raja Portugal.
Rusia
Setelah tahun 1886, Pangeran dan Putri Rusia yang merupakan keturunan jauh dari kaisar, dan lahir dari pernikahan yang setara (berbeda dengan pernikahan morganatik) berhak menyandang sebutan Paduka yang Tenteram. Pengecualian diberikan kepada setiap putra tertua dari cicit kaisar yang lebih senior (dalam garis keturunan patrilineal dari setiap putra kaisar), yang tetap mempertahankan sebutan Paduka.