Pada 22 Juni 2025, Angkatan Udara dan Angkatan Laut Amerika Serikat menyerang tiga fasilitas nuklir di Iran sebagai bagian dari perang Iran–Israel. Fasilitas yang menjadi sasaran meliputi Pusat Pengayaan Uranium Fordow, Fasilitas Nuklir Natanz, dan Pusat Teknologi Nuklir Isfahan.[1][10] Serangan tersebut dilakukan dengan menggunakan empat belas bom GBU-57A/B MOP seberat 30.000 pon (14.000 kg) yang dibawa oleh pesawat siluman Northrop B-2 Spirit, serta rentetan peluru kendali Tomahawk yang diluncurkan dari kapal selam. Serangan ini, yang diberi sandi Operation Midnight Hammer, merupakan aksi ofensif pertama Amerika Serikat dalam perang Iran–Israel, yang dimulai pada 13 Juni dengan serangan mendadak dari Israel.[11][12]
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan serangan tersebut melalui Truth Social, dan menyebutnya sebagai “serangan yang sangat berhasil”,[10] meskipun efektivitasnya belum dikonfirmasi secara publik. Sebagian besar anggota Partai Republik di Kongres mendukung tindakan Trump, sementara mayoritas Demokrat dan beberapa anggota Republik lainnya menyuarakan kekhawatiran terkait konstitusionalitas langkah tersebut serta dampaknya dan kemungkinan balasan yang muncul.[1] Reaksi dunia pun beragam, beberapa pemimpin dunia menyambut baik langkah untuk melumpuhkan program nuklir Iran, sementara yang lain menyatakan keprihatinan terhadap potensi eskalasi, dan sebagian lainnya mengecam serangan tersebut.
Serangan
Pada 22 Juni, Angkatan Udara dan Angkatan Laut Amerika Serikat menyerang tiga situs nuklir Iran—Fordow, Natanz, dan Isfahan[13]—dalam operasi yang diberi nama Midnight Hammer. Tujuh pesawat pembom siluman Northrop B-2 Spirit dari Skuadron ke-509 lepas landas tanpa henti dari Pangkalan Udara Whiteman di Missouri. Enam pesawat B-2 menjatuhkan total 12 bom GBU-57A/B MOP ke fasilitas Fordow, sementara satu pesawat lainnya menjatuhkan dua bom MOP ke Natanz. Selain itu, kapal selam menembakkan 30 rudal Tomahawk ke sasaran di Natanz dan Isfahan.[1][14][15][16] Serangan ke Natanz dan Fordow terjadi sekitar pukul 02.30 waktu setempat (23.00 UTC hari sebelumnya).[1][17]
Bom GBU-57A/B MOP atau “bunker buster” tersebut belum pernah digunakan dalam pertempuran sebelumnya.[1][18] Karena bobotnya yang sangat berat, bom ini hanya dapat dibawa oleh pesawat B-2, yang hanya dimiliki oleh Amerika Serikat.[19] Misi B-2 berlangsung selama sekitar 37 jam sejak lepas landas hingga pengeboman, dengan beberapa kali pengisian bahan bakar di udara.[11]
Sebelum serangan B-2 dilakukan, pesawat tempur generasi keempat dan kelima Amerika telah lebih dahulu memasuki wilayah udara untuk mengantisipasi tembakan dari sistem pertahanan udara Iran—meskipun tidak ada yang terdeteksi karena sistem pertahanan sudah rusak akibat serangan Israel sebelumnya.[20] Tambahan pesawat B-2 juga melaksanakan misi pengalih ke arah barat dari Amerika Serikat melewati Samudra Pasifik. Secara keseluruhan, sebanyak 125 pesawat dikerahkan dalam operasi ini, termasuk pesawat pengisian bahan bakar, intelijen, pengawasan, dan pengintaian.[20]
Citra satelit pasca-serangan terhadap situs Fordow menunjukkan dua kelompok titik masuk bom yang jelas terlihat, serta abu berwarna abu-abu kebiruan yang menutupi area tersebut.[21][22] Ketua Kepala Staf Gabungan, Jenderal Dan Caine, menyatakan bahwa situs-situs nuklir Iran mengalami "kerusakan berat" akibat serangan tersebut,[11] meskipun penilaian menyeluruh terhadap dampaknya masih membutuhkan waktu.[23] Kesimpulan awal dari pejabat Amerika dan Israel menyebutkan bahwa fasilitas Fordow mengalami kerusakan parah, tetapi belum sepenuhnya hancur.[24]
Trump menyampaikan pidato singkat yang disiarkan di televisi pada pukul 22.00 waktu EDT, 21 Juni, di mana ia mengklaim bahwa fasilitas utama pengayaan nuklir Iran telah "dihancurkan sepenuhnya dan total".[10][25] Dalam pernyataan yang berlangsung sekitar empat menit tersebut,[1][26] ia menyebut serangan itu sebagai "keberhasilan militer yang spektakuler", mengonfirmasi laporan sebelumnya, dan memperingatkan akan adanya serangan lanjutan jika Iran tidak mencari jalan damai.[27]
Segera setelah pidato itu, Trump memposting pernyataan di Truth Social dengan huruf kapital semua, menyatakan bahwa “Setiap pembalasan dari Iran terhadap Amerika Serikat akan dibalas dengan kekuatan yang jauh lebih besar daripada apa yang telah disaksikan malam ini”.[28]
Keesokan paginya, Departemen Pertahanan mengadakan konferensi pers yang lebih panjang, di mana Pete Hegseth dan Jenderal Dan Caine menjabarkan rincian lebih lanjut mengenai operasi tersebut.[29]
Balasan Iran
Badan media resmi Iran, IRNA, mengutip seorang pejabat Iran yang menyatakan bahwa tidak ada bahan radioaktif di ketiga lokasi yang menjadi sasaran serangan.[30] Juru bicara Komite Darurat Kota Qom, Morteza Heidari, mengatakan bahwa pasukan musuh telah membombardir “bagian dari fasilitas nuklir Fordow.” Menurut media pemerintah Iran, para pejabat Iran menegaskan bahwa tidak ada bahaya bagi penduduk yang tinggal di sekitar fasilitas nuklir yang diserang oleh Amerika Serikat. Mengutip pernyataan dari Markas Manajemen Krisis di Provinsi Qom, tempat fasilitas Fordow berada, IRNA menyampaikan bahwa “tidak ada bahaya bagi warga Qom dan wilayah sekitarnya”.[31]
Menurut pejabat Iran, bahan nuklir telah dievakuasi dan dipindahkan ke lokasi lain sebelum serangan terjadi.[32]
Sementara itu, organisasi layanan medis darurat Israel, Magen David Adom, melaporkan bahwa sedikitnya 16 orang di Israel terluka akibat rudal Iran yang diluncurkan sebagai balasan atas serangan tersebut.[1]