Asal mula nama Senayan berasal dari cerita letnan asal Bali yang hidup pada tahun 1680 di kawasan tersebut. Nama letnan tersebut adalah Wangsanayan. Namun, asal mula nama ini masih perlu dicari lebih dalam lagi.[1][2]
Pada peta tahun Batavia en Omstreken yang diterbitkan 1914, lokasi kampung Senayan berada di seberang Kampung Petunduan dan Kampung Pecandraan.[3] Kampung Senayan, seperti Kampung Petunduan, yang kini menjadi lokasi Stadion Gelora Bung Karno, diyakini wilayah pemukiman masyarakat Melayu dan Betawi di Jakarta.[4] Kampung Senayan juga bersebelahan dengan Kampung Pecandraan, yang kini menjadi Jalan Widya Chandra dan beberapa wilayah kampung ini masuk wilayah kelurahan Rawa Barat dan Selong, yang berada di Kecamatan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.
Kampung-kampung yang menjadi wilayah kelurahan Senayan pada masa kini adalah:
Kampung Senayan bagian timur (Kampung Senayan bagian barat kini masuk wilayah Kelurahan Gelora)
Kampung Pecandraan bagian utara (Kampung Pecandraan bagian selatan kini masuk wilayah Kelurahan Rawa Barat dan Selong)
Pengembangan Senayan juga sebagai wilayah modern juga didukung dengan keluarnya Surat Keputusan Letnan Gubernur Jenderal Hindia Belanda No. 6 pada 30 Agustus 1948 dan Surat Keputusan Letnan Gubernur Jenderal Hindia Belanda No. 205 pada 1 September 1948 yang menjelaskan kegiatan Centrale Stichting Wederopbouw (CSW) yang memutuskan pembangunan perumahan baru yang terletak di wilayah Kota Batavia. Pembangunan perumahan baru di wilayah Distrik Kebayoran, yang berada di bawah kekuasaan Afdeeling Meèster-Cornelis (sekarang Jatinegara), yang meliputi sebagian wilayah di Kampung Grogol Udik (sekarang Grogol Selatan, Kebayoran Lama), Kampung Pelapetogogan, dan Kampung Gandaria Utara, dan Kampung Senayan, direncanakan menjadi kota satelit bagi Batavia.[5]
Geografi
Kelurahan Senayan memiliki luas 1,53km² atau 11.84% dari luas wilayah kecamatan Kebayoran Baru.[6]
Batas wilayah
Batas wilayah kelurahan Senayan adalah sebagai berikut: