Sistem kepercayaan orang Semoq Beri mirip dengan kelompok-kelompok Orang Asli lain di sekitarnya. Mereka memiliki sistem tabu yang disebut talon yang melarang keras mengganggu hewan tertentu seperti monyet, anjing, kucing, lintah, landak, burung, ular, dan serangga. Pelanggaran dipercaya akan mengundang bencana besar berupa air bah yang turun dari langit dan menyembur dari dalam tanah.[9] Belakangan ini, banyak orang Semoq Beri yang masuk Islam berkat upaya Islamisasi yang disponsori pemerintah.[10]
Gaya hidup
Masyarakat Semoq Beri menerapkan gaya hidup nomaden sebagai pemburu dan peramu,[11] semi-nomaden dengan mempraktikkan perladangan berpindah,[12] dan menetap dengan bertani.[9] Umumnya wanita akan mengerjakan tugas rumah sementara pria pergi berburu, kecuali wanita yang tidak hamil atau menyusui anak juga ikut terjun dalam perburuan. Meskipun umumnya ibu menghabiskan lebih banyak waktu bersama anak-anak, hampir tidak ada perbedaan yang signifikan antara tugas lelaki dan perempuan dalam hal mengurus anak.[13] Selain berburu dan meramu, masyarakat Semoq Beri juga mengambil hasil hutan seperti rotan untuk dijual.[14]
Referensi
12Paul Sidwell & Mathias Jenny (2014). The Handbook of Austroasiatic Languages (2 vols). BRILL. hlm.475. ISBN978-90-042-8357-2.
↑Kyōto Daigaku. Tōnan Ajia Kenkyū Sentā (2001). Tuck-Po Lye (ed.). Orang asli of Peninsular Malaysia: a comprehensive and annotated bibliography. Center for Southeast Asian Studies, Kyoto University. hlm.220. ISBN49-016-6800-5.
↑Tom Güldemann; Patrick McConvell; Richard A. Rhodes, ed. (2001). The Language of Hunter-Gatherers. Cambridge University Press. hlm.191. ISBN11-070-0368-7.
↑A. Zainal; S.M. Radzi; R. Hashim; C.T. Chik; R. Abu (2012). Current Issues in Hospitality and Tourism: Research and Innovations. CRC Press. hlm.391. ISBN978-04-156-2133-5.