Misi Tiongkok Yesuit pada abad ke-16 dan 17 memperkenalkan ilmu pengetahuan Barat dan astronomi, kemudian melalui revolusinya sendiri, menuju Tiongkok, dan pengetahuan tentang teknologi Tiongkok dibawa ke Eropa.[2][3] Pada abad ke-19 dan 20 pengenalan teknologi Barat merupakan faktor utama dalam modernisasi di Tiongkok. Banyak karya Barat awal mengenai sejarah sains di Tiongkok ditulis oleh Joseph Needham.
Mo Di dan Aliran Nama
Periode negara perang dimulai 2500 tahun yang lalu pada saat penciptaan busur silang.[4] Needham mencatat bahwa penciptaan busur silang "jauh melampaui perkembangan baju zirah defensif", yang menyebabkan pemakaian baju zirah menjadi tidak berguna bagi pangeran dan bangsawan kerajaan.[5] Pada zaman ini, terdapat juga banyak aliran pemikiran yang baru lahir di Tiongkok - Seratus Aliran Pemikiran (諸子百家), yang tersebar di antara banyak negeri. Aliran pemikirian ini berfungsi komunitas yang menasihati penguasa negeri tersebut. Mo Di (墨翟 Mozi, 470 SM – sekitar 391 SM) memperkenalkan konsep yang berguna untuk salah satu penguasa, seperti benteng pertahanan. Salah satu dari konsep ini, fa (法 prinsip atau metode)[6] dikembangkan oleh Aliran Nama (名家 Ming jia, ming=nama), yang memulai sebuah eksplorasi logis sistematis. Perkembangan dari suatu aliran logis dipatahkan oleh kekalahan sponsor politik Mohisme oleh Dinasti Qin, and premis minor dari fa sebagai hukum lebih daripada metode menurut Legalis (法家 Fa jia).
Needham lebih lanjut mencatat bahwa Dinasti Han, yang menaklukkan Qin yang berumur pendek, dibuat sadar perlunya hukum berdasarkan Lu Chia dan Shu-Sun Thung, sebagaimana yang didefinisikan oleh cendekiawan, bukan para jenderal.[5]