Berbagai sejarawan berpendapat bahwa permulaan masa prakolonial Filipina,[1][2] yang juga disebut sebagai "periode protosejarah Filipina"[1]:15 dimulai pada waktu dituliskannya Prasasti Keping Tembaga Laguna pada tahun 900 Masehi, dan diakhiri dengan dimulainya kolonialisasi Spanyol atas kepulauan tersebut. Pada prasasti keping tembaga tersebut tertulis bahwa penulisannya dilakukan pada tahun 822 Saka, yang diperkirakan sama dengan tahun 900 Masehi. Ditulisnya prasasti tersebut menandai akhir dari prasejarah Filipina dan dimulainya sejarah yang tercatat dalam tulisan.[2][3][4] Dalam masa ini, Kepulauan Filipina menjadi tempat berdirinya berbagai negara, yang mendapatkan pengaruh dari negara lainnya seperti India maupun Tiongkok.[5]
Masyarakat Filipina awal terdiri dari beragam kelompok profesi, seperti nelayan, petani, dan pemburu-pengumpul. Beberapa kelompok masyarakat ada yang hidup di lereng gunung, di rumah perahu, atau di pelabuhan komersial pesisir. Beberapa kelompok masyarakat lainnya memiliki perekonomian mandiri, sementara beberapa yang lainnya mengandalkan hubungan dagang dengan tetangganya.[7]:138William Henry Scott sendiri menyimpulkan adanya 4 jenis kelompok masyarakat:[7]:139
Masyarakat tanpa kelas, yakni masyarakat yang tidak memiliki status sosial untuk memisahkan satu dengan yang lain;
Masyarakat ksatria, yakni masyarakat yang memiliki kelas ksatria yang diistimewakan berdasarkan kemampuan dalam bertarung;
Masyarakat plutokrat kecil, yang mengakui status sosial tertinggi pada masyarakat yang memiliki harta warisan; dan
Kepangeranan (atau kerajaan), yakni masyarakat yang mengakui adanya kelas penguasa yang mewariskan hak kekuasaan pada keturunannya.
Kategori keempat disebut juga sebagai "kelas datu", yang didasarkan pada gelar datu yang umumnya disematkan pada penguasa lokal.[7]:150–151
Kelas sosial
Negara-negara awal yang terbentuk biasanya terdiri dari struktur sosial yang terdiri dari tiga tingkatan: kelas bangsawan, kelas "orang merdeka", dan kelas debitur-budak:[1][8]
Datu (kelas penguasa) dan Maginoo (kelas bangsawan)
Gambar rekonstruksi dari Prasasti Keping Tembaga Laguna.
Prasasti Keping Tembaga Laguna merupakan catatan tertulis terawal yang ditemukan di Filipina.[11] Prasasti tersebut ditulis pada keping tembaga memiliki ukuran panjang 20cm dan lebar 30cm, dan hanya ditulis pada satu sisinya dalam 10 baris.
Teks
Naskah prasasti tersebut sebagian besar ditulis dalam bahasa Melayu Kuno dengan sedikti pengaruh bahasa Sanskerta, Tamil, Jawa Kuno, dan Tagalog Kuno serta menggunakan aksara Kawi. Antropolog Belanda Antoon Postma menguraikan isi prasasti tersebut. Tanggal prasasti tersebut adalah "Tahun Saka 822, bulan Waisak", yang bertepatan dengan April–Mei tahun 900 Masehi.
Naskah tersebut mencatat pembebasan semua keturunan seorang Namwaran yang terhormat dari utang sebesar 1 kati dan 8 suwarna, setara dengan 926,4 gram emas, yang diberikan oleh Panglima Militer Tundun (Tondo) dan disaksikan oleh para pemimpin Pailah, Binwangan, dan Puliran, yang kemungkinan juga merupakan negara-negara yang terletak di Pulau Luzon. Referensi ke Kerajaan Medang yang sezaman di Indonesia modern menyiratkan hubungan politik dengan wilayah-wilayah lain di Asia Tenggara Maritim.
Penggambaran pasangan bangsawan Visayan pada abad ke-16 (Kodeks Boxer)
Pemukiman awal di Filipina dikenal sebagai barangay, yang umumnya terdiri dari 20 hingga 100 keluarga di pesisir hingga mencapai 200 orang di daerah pedalaman. Pemukiman pesisir terhubung dengan perairan laut dan memiliki kontak yang jauh lebih sedikit dengan pemukiman di dataran tinggi.[12] Pada tahun 1300-an, sejumlah pemukiman pesisir mulai berdiri menjadi pusat perdagangan dan menjadi titik fokus transformasi masyarakat.[8] Beberapa pemukiman, yang kemudian berkembang menjadi negara, juga melakukan kontak dan perdagangan dengan negara-negara lain di Asia.[1][13][14][15][16]
Berbagai negara yang berdiri di Filipina dari abad ke-10 hingga abad ke-16 termasuk Manila,[17]Tondo, Namayan, Kumintang, Pangasinan, Caboloan, Cebu, Butuan, Maguindanao, Buayan, Lanao, Sulu, dan Ma-i.[18] Di antara negara-negara tersebut, pemegang kuasanya dikenal sebagai datu, yang bertanggung jawab untuk memerintah barangay atau dulohan di bawah kekuasaannya.[8] Ketika barangay berkembang dengan menggabungkan diri dengan barangay lain, baik itu untuk membentuk pemukiman lebih besar[8] atau untuk membentuk aliansi,[1] penguasa paling terhormat akan ditunjuk untuk memimpin wilayah kekuasaan baru tersebut[19] dan mendapat gelar "datu tertinggi"[8][20] atau memegang gelar serupa seperti raja atau sultan.[21] Terdapat sedikit bukti akan adanya konflik dan kekerasan berskala besar di kepulauan ini sebelum milenium ke-2 Masehi,[22][butuh sumber yang lebih baik] dan selama periode ini, kepadatan penduduk masih sangat rendah.[23]
Ferdinand Magellan merupakan penjelajah Eropa pertama yang mendarat di Filipina.
Meski wilayah sekitar Filipina telah dikenal oleh Bangsa Eropa, terutama Portugis yang menaklukkan Kota Melaka pada tahun 1511 dan mencapai Kepulauan Maluku pada tahun 1512, ekspedisi Eropa paling awal ke kepulauan Filipina dipimpin oleh navigator Portugis Ferdinand Magellan yang dibiayai oleh Raja Carlos I dari Spanyol pada tahun 1521.[24]
Dalam ekspedisinya, Magellan menemukan kepulauan tersebut, yang diketahui merupakan Pegunungan Samar, pada waktu fajar tanggal 17 Maret 1521. Ia kemudian mendarat keesokan harinya di pulau kecil Homonhon di muara Teluk Leyte.[25] Pada hari Minggu Paskah, 31 Maret 1521, di Pulau Mazaua, Magellan menancapkan salib di puncak bukit yang menghadap ke laut dan mengklaim pulau-pulau yang telah ditemuinya untuk Imperium Spanyol. Menurut penulis dalam ekspedisinya, Antonio Pigafetta, Magellan menamai kepulauan tersebut sebagai Kepulauan Santo Lazarus.[26]
Magellan kemudian mencari aliansi di antara penduduk lokal, dimulai dengan Datu Zula dari Sugbu (Cebu), dan berhasil mengajaknya memeluk agama Kristen. Magellan terlibat dalam konflik politik di kepulauan tersebut dan ikut serta dalam pertempuran melawan Lapulapu, kepala suku di Pulau Mactan dan musuh Datu Zula.
Pada tanggal 27 April 1521, Magellan, bersama 60 prajurit bersenjata dan 1.000 prajurit Visayas, mengalami kesulitan besar untuk mendarat di pantai berbatu Mactan, tempat Lapulapu memiliki 1.500 pasukan yang menunggu di darat. Dalam pertempuran tersebut, Magellan terpukul kalah dan ia bersama 14 prajuritnya tewas. Evakuasi dari pertempuran tersebut hanya dapat menyelamatkan kapal Trinidad dan Victoria, yang berlayar ke Kepulauan Maluku. Selepas berlabuh, dan sempat gagal untuk kembali jalan sebelumnya dan dipenjara oleh otoritas Portugis, Juan Sebastián Elcano memimpin Victoria ke Spanyol melalui jalur barat dan sampai pada tahun 1522
Ketika Pangeran Felipe menjadi Raja Felipe II dari Spanyol, ia kemudian memerintahkan ekspedisi ke kepulauan rempah-rempah dengan tujuan "untuk menemukan kepulauan barat".[29] Pada kenyataanya, ekspedisi tersebut bertujuan untuk menetapkan kontrol Imperium Spanyol atas Filipina.[30]
Pada tanggal 19 atau 20 November 1564, ekspedisi Spanyol yang dipimpin oleh Miguel López de Legazpi berangkat dari Barra de Navidad, Spanyol Baru, dan mendarat di Cebu pada tanggal 13 Februari 1565.[31] Ekspedisi tersebut kemudian memantapkan kontrol Imperium Spanyol dengan didirikannya pemukiman Spanyol pertama di kepulauan tersebut. Ekspedisi tersebut kemudian menjadi dasar dari rute Galiung Manila, yang dikenal sebagai tornaviaje, dari Filipina ke Meksiko melalui Samudra Pasifik oleh Andrés de Urdaneta.[32] Masa tersebut kemudian disimpulkan sebagai akhir dari masa prakolonial dan mulainya masa kolonial Spanyol di Filipina.
↑Scott, William Henry. (1984). Prehispanic Source Materials for the Study of Philippine History (Revised Edition). New Day Publishers, Quezon City. ISBN 9711002264.
↑Legarda, Benito Jr. (2001). "Cultural Landmarks and their Interactions with Economic Factors in the Second Millennium in the Philippines". Kinaadman (Wisdom) A Journal of the Southern Philippines. 23: 40.
↑Carley, Michael (November 4, 2013) [2001]. "7". Urban Development and Civil Society: The Role of Communities in Sustainable Cities. Routledge. hlm.108. ISBN9781134200504. Diakses tanggal September 11, 2020. Each boat carried a large family group, and the master of the boat retained power as leader, or datu, of the village established by his family. This form of village social organization can be found as early as the 13th century in Panay, Bohol, Cebu, Samar and Leyte in the Visayas, and in Batangas, Pampanga and Tondo in Luzon. Evidence suggests a considerable degree of independence as small city-states with their heads known as datu, rajah or sultan.
↑Newson, Linda (2009) [2009]. "2". Conquest and Pestilence in the Early Spanish Philippines. University of Hawaii Press. hlm.18. doi:10.21313/hawaii/9780824832728.001.0001. ISBN9780824832728. Diakses tanggal September 11, 2020. Given the significance of the size and distribution of the population to the spread of diseases and their ability to become endemic, it is worth commenting briefly on the physical and human geography of the Philippines. The hot and humid tropical climate would have generally favored the propagation of many diseases, especially water-borne infections, though there might be regional or seasonal variations in climate that might affect the incidence of some diseases. In general, however, the fact that the Philippines comprise some seven thousand islands, some of which are uninhabited even today, would have discouraged the spread of infections, as would the low population density.