Sejarah Azerbaijan adalah sejarahnegara ini. Sejarah awal penduduk daerah yang kini dikenal sebagai Azerbaijan ialah bangsa Albania Kaukasia, bangsa penutur bahasa-bahasa Kaukasus yang muncul di daerah ini sebelum rombongan besar orang yang akhirnya menyerang Kaukasus. Secara historis Azerbaijan telah dilindungi berbagai bangsa, termasuk bangsa Persia, Yunani, Romawi, Armenia, Arab, Turki, Mongol dan Rusia.
Muslim Arab mengalahkan Sassaniyah dan Bizantium saat melakukan gerakan penaklukan ke wilayah Kaukasus. Khalifah menjadikan Albania Kaukasia sebagai negara vasal setelah perlawan Kristen, yang dipimpin Pangeran Javanshir, ia menyerah pada tahun 687.[1] Antara abad ke-9 dan ke-10, penulis Arab mulai mengacu pada wilayah antara Kura dan Aras sebagai Arran.[1] Selama waktu itu, orang Arab dari Basra dan Kufah datang ke Azerbaijan dan menguasai wilayah tersebut bahwa masyarakat adat sudah meninggalkannya.
Azerbaijan ialah bagian Kesultanan Persia Safavid selama abad ke-15–18. Juga mengalami masa singkat perpecahan bangsawan pada pertengahan abad ke-18 hingga awal abad ke-19, dan terdiri atas kekhanan-kekhanan yang merdeka. Menyusul Perang Persia-Rusia antara Kesultanan Persia Qajar, seperti Ganja, Quba, Baku dan kekhanan-kekhanan merdeka lainnya, dan Kekaisaran Rusia, Azerbaijan direbut Rusia melalui Perjanjian Gulistan pada 1813, dan Perjanjian Turkmenchay pada 1828, dan beberapa perjanjian yang lebih awal antara tsar Rusia dan para khan berakhir pada dasawarsa pertama abad ke-19. Pada 1873, minyak ("emas hitam") ditemukan di kota Baku, ibu kota Azerbaijan nantinya. Dari awal abad ke-20 hampir separuh cadangan minyak dunia disuling di Baku.
Selama Perang Dunia II, Jerman Nazimenyerang Uni Soviet. Tujuan utama serangan Operasi EdelweissAdolf Hitler ialah mencaplok ibu kota kaya minyak Azerbaijan, Baku. Karena alasan perang, pekerja minyak Soviet diwajibkan bekerja tanpa henti dan warganegaranya menggali parit dan rintangan antitank untuk menghalau kemungkinan serangan musuh. Namun, Operasi Edelweiss gagal. Pasukan Jerman pertama kali gagal di pegunungan Kaukasus, mereka kalah telak dalam Pertempuran Stalingrad.
Pada 1990, orang Azeri berkumpul untuk memprotes kekuasaan Soviet dan menuntut kemerdekaan. Secara brutal demonstrasi itu ditindas oleh campur tangan Soviet dalam peristiwa yang kini disebut orang Azeri sebagai Januari Hitam. Namun pada 1991, Azerbaijan memproklamasikan kemerdekaannya saat jatuhnya Uni Soviet. Sayangnya, tahun-tahun awal kemerdekaannya teralihkan dengan perang terhadap Armenia dan gerakan separatis Armenia atas kawasan Nagorno-Karabakh. Meski ada gencatan senjata di tempat sejak 1994, Azerbaijan belum memecahkan konflik dengan Armenia atas wilayah yang dominannya orang Armenia. Sejak akhir perang, Azerbaijan kehilangan kendali 14 - 16% wilayahnya termasuk Nagorno-Karabakh sendiri.[2][3] Sebagai akibat konflik, kedua negara menghadapi masalah pengungsi dan orang telantar seperti kesulitan ekonomi.
Namun, mantan pemimpin Azeri Soviet Heydər Əliyev mengubah pola ini di Azerbaijan dan mulai mengeksploitasi cadangan minyaknya yang kaya di Baku, sesuatu yang membuat Azerbaijan terkenal. Heydər Əliyev juga membersihkan perjudian dan bisa menekan tingkat pengangguran di negara itu. Ia juga mencari hubungan lebih dekat dengan Turki saat secara serentak membuat usaha memecahkan konflik Karabakh secara damai dengan Armenia. Namun, keadaan politik di Azerbaijan tetap tegang khususnya setelah Heydar Əliyev, saat kematiannya, memilih putranya Ilham menyandang jabatan presiden. Kekuatan oposisi Azeri tak puas dengan pergantian dinasti ini dan menuntut pemerintahan demokratis.
Kalankatu, Moisey (Movses). The History of Caucasian Albanians. transl by C. Dowsett. London oriental series, vol 8, 1961 (School of Oriental and African Studies, Univ of London)
At Tabari, Ibn al-Asir (trans by Z. Bunyadov), Baku, Elm, 1983?
Jamil Hasanli. At the Dawn of the Cold War: The Soviet-American Crisis Over Iranian Azerbaijan, 1941–1946, (Rowman & Littlefield; 409 pages; $75). Discusses the Soviet-backed independence movement in the region and argues that the crisis in 1945–46 was the first event to bring the Soviet Union in conflict with the United States and Britain after the alliance of World War II
Momen, M. An Introduction to Shii Islam, 1985, Yale University Press 400 p
Shaffer, B. Borders and Brethren: Iran and the Challenge of Azerbaijani Identity (Cambridge: MIT Press, 2002).
Swietochowski, Tadeusz. Russia and Azerbaijan: Borderland in Transition (New York: Columbia University Press, 1995).
Van der Leew, Ch. Azerbaijan: A Quest for Identity: A Short History (New York: St. Martin's Press, 2000).
History of Azerbajan Vol I-III, 1960 Baku (in Russian)