Pada masa kolonial Belanda, wilayah ini dikenal dengan nama Serba Naman dan kawasan ini berkembang sebagai area perkebunan yang dikelola oleh pihak kolonial. Pada masa itu, sejumlah keluarga pekerja dari Pulau Jawa didatangkan untuk mendukung kegiatan perkebunan dan kemudian hidup berdampingan dengan masyarakat setempat. Pada masa pendudukan Jepang, lahan perkebunan dialihkan menjadi area pertanian pangan, yang turut memengaruhi perubahan nama wilayah menjadi Desa Sei Beras. Setelah Indonesia merdeka, lahan-lahan di kawasan ini mulai dikelola oleh masyarakat dan pemerintah setempat, hingga akhirnya terjadi pemekaran wilayah yang melahirkan beberapa desa baru, termasuk Desa Sei Mencirim.
Demografi
Agama
Mayoritas penduduk Desa Sei Mencirim memeluk agama Islam.