Sejarah
Pada zaman dahulu kala, Negeri Palembang dipimpin oleh seorang raja bernama Ratu Senuhun. Ia mempunyai seorang kuli yang berasal dari Belida bernama Sang Karut. Tugas Sang Karut adalah mengambil kayu api untuk keperluan Ratu Senuhun. Sayangnya, Sang Karut mempunyai penyakit di telapak tangan sehingga setiap kali ia mengambil kayu api, tangannya selalu mengeluarkan darah.
Oleh karena itu, Sang Karut menghadap Ratu dan meminta agar ia diperbolehkan ikut berperang saja. Suatu ketika, Ratu Senuhun mengumpulkan semua hulubalangnya dan menanyakan satu per satu siapa yang mau ikut berperang memukul Negeri Banjar. Semua hulubalang tidak ada yang menyahut, kecuali Usang Karut.
Kemudian, Ratu Senuhun dan Usang Karut pergi berperang menyerang Negeri Banjar. Akhirnya Negeri Banjar mengalami kekalahan dan seluruh penduduknya tidak melakukan perlawanan apa pun.
Ratu Senuhun dan Usang Karut pun pulang ke Palembang dengan membawa dua orang tawanan (sepasang suami istri). Laki-laki tersebut bernama Bokal.
Pada suatu hari, Ratu dan Usang Karut bersama kedua tawanan itu mudik di Batanghari Kelekar untuk menangkap ikan dan berkarang. Setelah tiba di sebuah hutan yang akan mereka diami, mereka singgah dan mulai berkarang. Ternyata tempat tersebut banyak menghasilkan ikan. Tempat itu kemudian dinamakan Lubuk Senamun. Di sana mereka mendirikan sebuah rangon atau pondok serta menyimpan ikan yang berhasil mereka dapatkan. Sejak saat itu, Ratu Senuhun, Sang Karut, dan pasangan tawanan tersebut sering mudik ke sana. Akhirnya pasangan Bokal diminta untuk tinggal menetap di rangon itu bersama Usang Karut.
Lama-kelamaan, Bokal mempunyai dua orang anak laki-laki. Anak pertama diberi nama Raja Kemala dan anak kedua diberi nama Kemala Agung.
Setiap kali Ratu mudik ke rangon itu, beliau selalu membawa seekor ayam jantan. Ayam tersebut disuruh dipelihara oleh Bokal. Di tempat memelihara ayam itu terdapat sebatang kayu besar yang digunakan Bokal untuk mengikat ayam tersebut. Kayu itu dinamakan kayu saga. Oleh karena itu, tempat tersebut diberi nama oleh Ratu sebagai Saga-Ayam.
Seiring waktu, sebutan Saga-Ayam berubah menjadi Segayam hingga sekarang. Pada waktu itu, Ratu masih memerintah di Palembang. Segala sesuatu seperti pembayaran upeti atau pajak langsung dikirimkan ke Palembang, karena Dusun Segayam berada di bawah pemerintahan Ratu Senuhun. Besarnya pajak pada waktu itu adalah sepucuk padi setiap tahun, dan penyetorannya dilakukan langsung ke Palembang.
Ketika itu, wakil Ratu yang pertama kali memimpin Dusun Segayam adalah Raja Kemala. Setelah Raja Kemala meninggal dunia, ia digantikan oleh Kemala Agung dan seterusnya. Hingga kini, kepala pemerintahan di Dusun Segayam semuanya berasal dari keturunan Bokal, orang dari Negeri Banjar (Jawa).
Wisata
Desa Segayam terkenal dengan wisata alam berupa danau yang dinamai Danau Segayam. Menurut penuturan tokoh masyarakat setempat, Danau Segayam pada masa Kesultanan Palembang pernah menjadi bagian dari jalur perdagangan air. Sungai dan danau di kawasan ini berfungsi sebagai sarana transportasi penting untuk mengangkut kayu, rempah-rempah, serta berbagai hasil bumi dari daerah pedalaman menuju Palembang.[2] Kini, eksistensi Danau Segayam mulai terlupakan karena kurang dijadikan prioritas oleh pemerintah. Namun, aktivitas warga masih berjalan, seperti kegiatan memancing ikan, berkebun, dan kamping. Kadang, ada pula warga dari luar desa melakukan kamping dan piknik di sekitar danau ini.[3]