Sastra LampungSyair - WikiJejama Project (Bandar Lampung)
Sastra Lampung adalah sastra yang menggunakan bahasa Lampung sebagai media kreasi, baik sastra lisan maupun sastra tulis. Sastra Lampung memiliki kedekatan dengan tradisi Melayu yang kuat dengan pepatah-petitih, mantra, pantun, syair, dan cerita rakyat. Sastra Lampung bertalian erat dengan perkembangan budaya dan peradaban masyarakat Lampung.
Sastra Lisan
Sastra lisanLampung adalah milik suku Lampung secara kolektif. Ciri utamanya kelisanan, anonim, dan lekat dengan kebiasaan, tradisi, dan adat istiadat dalam kebudayaan masyarakat Lampung. Sastra ini banyak tersebar dalam masyarakat, dan merupakan bagian sangat penting dari khazanah budaya etnis Lampung.
Sesikun/Sekiman adalah jenis sastra yang menggunakan bahasa kiasan, atau tidak bermakna harfiah. Fungsinya beragam, mulai dari alat pemberi nasihat, motivasi, sindiran, celaaan, sanjungan, perbandingan, juga pemanis dalam berbahasa.
Berikut beberapa contoh sesikun atau sekiman:
1. Di kedo biduk teminding, di san wai tenimbo.
Arti harfiah: “Di mana sampan berlabuh, di situ air ditimba.”
Arti asli: Pandai-pandailah membawa diri, bersikaplah sesuai dengan adat-istiadat setempat.
2. Dang happuk di kemutik, beguno ki gayah.
Arti harfiah: “Jangan membuang buah muda, berguna saat susah.”
Artinya: Jangan meremehkan orang yang tidak punya atau orang bodoh; siapa tahu, dalam keadaan tertentu, justru mereka yang bisa membantu.
Seganing/Teteduhan (Teka-Teki)
Seganing/Teteduhan adalah soal yang dikemukakan secara samar-samar, biasanya untuk permainan atau untuk pengasah pikiran. Contohnya:
(Sanak-saudara pergi ke sawah, berbaju besi, kopiahnya mengarah ke bawah. Apa itu?)
Memmang (Mantra)
Memang adalah perkataan atau ucapan yang dapat mendatangkan daya gaib; dapat menyembuhkan, dapat mendatangkan celaka, dan sebagainya.
Warahan (Cerita Rakyat)
Warahan adalah suatu cerita yang pada dasarnya disampaikan secara lisan; bisa berbentuk epos, sage, fabel, legenda, mite, atau semata-mata fiksi.
Bentuk-Bentuk Puisi Lampung
Puisi-puisi Lampung dibedakan berdasarkan fungsi mereka. Berdasarkan fungsi, ada lima macam puisi Lampung, yang masing-masing memiliki beragam nama tergantung dialek:
Paradinei/paghadini adalah puisi Lampung yang biasa digunakan dalam upacara penyambutan tamu pada saat berlangsungnya pesta pernikahan secara adat. Paradinei/paghadini diucapkan juru bicara masing-masing pihak, baik pihak yang datang maupun yang didatangi. Secara umum, isi paradinei/paghadini berupa tanya-jawab tentang maksud atau tujuan kedatangan (A. Effendi Sanusi).
Contoh1:
Dari pihak yang datang:
Penano cawono pun, tabik ngalimpuro. Sikam jo keno kayun, tiyan sai tuho rajo. Ki cawo salah susun, maklum kurang biaso.
Dari pihak yang didatangi:
Sikam nuppang betanyo, jamo metei sango iringan. Metei jo anjak kedo, nyo maksud dan tujuan? Mak dapek lajeu di jo, ki mak jelas lapahan.
Contoh 2:
Tabik pun nabik tabik,tabik pun ngalimpukha Sikam jo sanak tippik, haga numpang butanya Mahap ki salah cutik, gekhalna mangkung biasa Sikam numpang butanya, jama pekhwatin si wat dija Kuti jo anjak ipa, api haga cekhita?
Pepaccur/Pepaccogh/Wawancan
Wawancan - WikiJejama Project (Bandar Lampung)
Pepaccur/Pepaccogh/Wawancan adalah salah satu jenis sastra lisan Lampung yang berbentuk puisi, lazim digunakan untuk menyampaikan pesan atau nasihat dalam upacara juluk adek/adok (pemberian gelar).
Sudah menjadi adat masyarakat Lampung, bahwa pada saat bujang atau gadis meninggalkan masa remajanya, pasangan pengantin itu diberi adek/adok sebagai penghormatan dan tanda bahwa mereka sudah berumah tangga. Pemberian adek/adok dilakukan dalam upacara adat yang dikenal dengan istilah ngamai adek/ngamai adok, atau jika dilakukan di tempat mempelai wanita, nandekken adek dan inei adek/nandok.
Pantun/Segata/Adi-Adi adalah salah satu jenis puisi Lampung yang digunakan dalam acara-acara yang sifatnya untuk bersukaria, misalnya pengisi acara muda-mudi nyambai, miyah damagh, dan kedayek.
Contoh pattun/segata:
Bukundang Kalah Sahing
Numpang pai nanom peghing Titanom banjagh capa Numpang pai ngulih-ulih Jama kutti sai dija
Adek kesaka dija Kuliak nambi dibbi Adek gelagh ni sapa Nyin mubangik ngughau ni
Budaghak dipa dinyak Pullan tuha mak lagi Bukundang dipa dinyak Anak tuha mak lagi
Payu uy mulang pai uy Dang saka ga di huma Manuk disayang kenuy Layau kimak tigaga
Nyilok silok di lawok Lentera di balimbing Najin ghalang kupenok Kidang ghisok kubimbing
Kusassat ghelom selom Asal putungga batu Kusassat ghelom pedom Asal putungga niku
Kughatopkon mak ghattop Kayu dunggak pumatang Pedom nyak sanga silop Min pitu minjak miwang
Indani ghaddak minyak Titanom di cenggighing Musakik kik injuk nyak Bukundang kalah sahing
Musaka ya gila wat Ki temon ni peghhati Ya gila sangon mawat Niku masangkon budi
Ali-ali di jaghi kiri Gelang di culuk kanan Mahap sunyin di kutti Ki salah dang sayahan
Terjemahannya:
Pacaran Kalah Saingan
Numpang menanam bambu
Ditanam dekat capa
Numpang bertanya
Kepada kalian di sini
Adik kapan kemari
Kulihat kemarin sore
Nama adik siapa
Agar enak memanggilnya
Berladang di mana aku
Hutan tua tiada lagi
Pacaran dengan siapa aku
Anak tua tiada lagi
Ya oi pulang dulu oi
Jangan lama-lama di ladang
Ayam disayang elang
Kacau kalau tak dicegah
Melihat-lihat di laut
Lentera di balimbing
Walau jarang kulihat
Tapi sering kuucap
Kucari ke dasar gelap
Asal bersua batu
Kucari hingga ke tidur
Asal bersua denganmu
Kurebahkan tak rebah
Kayu di ujung pematang
Sejenak aku tertidur
Tujuh kali terbangun menangis
Layaknya ghaddak minyak*
Ditanam di lereng bukit
Betapa derita kurasakan
Pacaran kalah saingan
Sudah lama sebenanya ada
Kalau memang lebih perhatian
Ya memang tidak
Kau menanam budi
Cincin di jari kiri
Gelang di kaki kanan
Maaf semuanya kepada kalian
Kalau salah jangan mengejek
Nama pohon untuk pelindung tanaman kopi
Berikan contoh
Bubandung santeghi adalah
Ringget/Pisaan
Pisaan - WikiJejama Project (Bandar Lampung)
Ringget/pisaan, juga dikenal dengan nama dadi/highing-highing/wayak/ngehahaddo/hahiwang dalam beragam dialek, adalah puisi tradisi Lampung yang lazim digunakan sebagai pengantar acara
adat, pelengkap acara pelepasan pengantin wanita ke tempat pengantin
pria, pelengkap acara cangget, pelengkap acara muda-mudi
(seperti nyambai, miyah damagh, dan kedayek), senandung saat meninabobokan
anak, dan pengisi waktu bersantai.
Hahiwang/Ngehahaddo/Muaya
Hahiwang/Ngehahaddo/Muaya adalah pantun sedih yang biasanya disampaikan pada saat terjadi perpisahan, misalnya pantun yang disampaikan pengantin perempuan ketika ia pertama kali pindah kerumah suaminya. Hahiwang menceritakan kehidupan yang penuh kesedihan atau penderitaan dan biasanya dibawakan dengan penuh emosi sehingga yang mendengarkan hanyut dalam rasa duka.
Sastra modern Lampung
Sebagaimana Melayu di Sumatra pada umumnya, Suku Lampung sangat kental dengan tradisi kelisanan. Pantun, syair, mantra, dan berbagai jenis sastra berkembang tidak dalam bentuk keberaksaraan, sehingga wajar jika memiliki pola-pola sastra lama yang serupa sebagai ciri dari kelisanan itu.
Tidak seperti sastra Jawa, Sunda, dan Bali yang sudah lama memiliki sastra modern, sastra modern berbahasa Lampung baru bisa ditandai dengan kehadiran kumpulan sajak dwibahasa Lampung Indonesia karya Udo Z. Karzi, Momentum (2002). 25 puisi yang terdapat dalam Momentum tidak lagi patuh pada konvensi lama dalam tradisi perpuisian berbahasa Lampung, baik struktur maupun dalam tema. Dengan kata lain, Udo melakukan pembaruan dalam perpuisian Lampung sehingga ada yang menyebutnya "Bapak Puisi Modern Lampung".
Berikut Karya-karya sastra (berbahasa) Lampung modern: