Awal mula pertanian
Di sebelah barat Lembah Nil, Sahara timur merupakan tempat berkembangnya sejumlah kebudayaan Neolitikum. Selama periode lembap Afrika, kawasan ini memiliki vegetasi yang subur, dan populasi manusia di Sahara meningkat secara signifikan sekitar 8000 SM. Mereka hidup dengan berburu dan menangkap ikan di danau-danau setempat,[2] serta mengumpulkan serealia liar dari Sahara yang melimpah. Serealia seperti brachiaria, sorgum, dan urochloa merupakan sumber makanan yang penting.[3]
Periode lembap Afrika secara bertahap berakhir, dan sekitar 6.000–5.000 tahun yang lalu masa tersebut telah usai. Jauh sebelum waktu itu, para penggembala yang bermigrasi telah berpindah ke berbagai bagian Afrika lainnya, tetapi juga datang ke delta Nil, yang sebelumnya hanya menunjukkan sedikit indikasi adanya kegiatan pertanian.
Oasis Dakhleh, khususnya, menjadi objek penelitian intensif dalam beberapa waktu terakhir, dan menyediakan bukti penting mengenai pertanian awal di Mesir.[4] Situs ini dapat dianggap mewakili secara umum perkembangan pasca-Pleistosen di Afrika Timur Laut.
Oasis Dakhleh terletak di Gurun Barat (Mesir). Letaknya sekitar 350 km (220 mil) dari Nil di antara oasis Farafra dan Kharga. Di Dakhleh, masyarakat budaya Bashendi merupakan penggembala-peramu yang berpindah-pindah selama periode lembap Afrika. Mereka tinggal di permukiman yang dibangun dari lempengan batu, serta di situs terbuka yang terdiri atas gugusan gundukan perapian. Di tempat lain di Gurun Barat Mesir, kelompok-kelompok yang serupa dengan Bashendi juga mendiami Oasis Farafra dan Nabta Playa di bagian selatan.[4] Orang Bashendi menggunakan alat penggiling dari batu pasir untuk menggiling millet liar dan sorgum setempat.[5]
Di Oasis Farafra, seekor kambing yang bertanggal sekitar 6100 SM (8100 cal BP) ditemukan di desa Hidden Valley. Di Nabta Playa, sisa-sisa domba/kambing dan sapi telah ada sejak sekitar 6000 SM (8000 cal BP). Namun, kambing dan sapi hampir merupakan satu-satunya unsur Neolitik dari Timur Dekat yang diterima oleh para penghuni oasis tersebut. Perkembangan budaya lainnya, seperti industri litik, berasal dari daerah setempat, atau setidaknya dari kawasan Afrika Timur Laut.[4]
Oasis Faiyum di Mesir juga memberikan bukti adanya pertanian dari periode yang kurang lebih sama. Hewan peliharaan seperti domba, kambing, babi, dan sapi ditemukan di sini. Domba di situs Qasr El-Sagha bertanggal sekitar 5350 SM (7350 cal BP), dan domba, kambing, serta sapi sekitar 5150 SM (7150 cal BP).[6]
Adapun untuk tanaman budidaya, gandum emmer dan jelai ditemukan di wilayah Faiyum pada situs Kom K dan Kom W, yang bertanggal sekitar 4500–4200 SM.[7][6] Tembikar dalam jumlah besar ditemukan di situs-situs ini, tetapi hanya sedikit bukti mengenai pembangunan struktur permanen.
Budaya Merimde bertanggal sekitar 4800 hingga 4300 SM. Masyarakat ini kemudian mengembangkan perekonomian yang sepenuhnya berbasis pertanian. Situs yang dikenal sebagai Merimde Beni Salama, sekitar 15 mil di barat laut Kairo, diyakini sebagai kota paling awal di Mesir yang dihuni secara permanen.[8]
Budaya Merimde berlangsung sezaman dengan budaya Faiyum A serta budaya Badari di Mesir Hulu, yang bertanggal sedikit lebih kemudian. Kesemuanya merupakan budaya pertanian dengan sistem bercocok tanam.