Sanggar Bumi Tarung menentang seni abstrak yang dianggapnya tidak bisia dinikmati oleh mayoritas masyarakat Indonesia yang merupakan masyarakat kelas bawah. Karya seni yang dihasilkan oleh sanggar ini berfokus pada buruh dan petani yang berjuang melawan borjuis.[2] Sebagian seniman seperti Danarto menganggap sanggar ini terlalu memaksakan realisme sosialis agar menjadi satu-satunya pedoman dalam berkarya.[2] Beberapa seniman lain mengkritik bahwa karya yang dihasilkan terlalu kasar.[2]
Seperti organisasi kiri lainnya, Sanggar Bumi Tarung dibubarkan pada masa Orde Baru. Pendiri sanggar ini ditangkap dan sebagian dibunuh.[2]