Pondok Pesantren yang pernah ia datangi untuk menimba ilmu di dalamnya adalah:
Pontren KM Sayuthy (Ciawigebang),
Pontren KH Abdur Rozak (Cipancur),paman ia,
Pontren Sarajaya (Kab Cirebon),
Pontren (di Kab Tegal, Jateng),
Pontren Ciwaringin (Kab. Cirebon) dan
Pontren KH Zaenal Musthofa (Tasikmalaya. )
Catatan: Ia sangat tadzim terhadap guru-gurunya. Terlebih terhadap Asysyahid K.H. Zainal Mushtofa (Pahlawan Nasional). Ia banyak bercerita tentang heroisme perjuangan gurunya yang satu ini ketika berjuang melawan penjajah Jepang hingga dia gugur sebagai pahlawan kusuma bangsa di depan regu tembak serdadu Jepang ketika makbaroh gurunya ini telah dipindahkan ke Taman Pahlawan Sukamanah, Tasikmalaya.
Dalam dunia perdagangan, Samanhudi merasakan perbedaan perlakuan oleh penguasa Hindia Belanda antara pedagang pribumi yang mayoritas beragama Islam dengan pedagang Tionghoa pada tahun 1905. Oleh sebab itu Samanhudi merasa pedagang pribumi harus mempunyai organisasi sendiri untuk membela kepentingan mereka. Pada tahun 1905, ia mendirikan Sarekat Dagang Islam untuk mewujudkan cita-citanya.