Salebu adalah desa di kecamatanMajenang, Cilacap, Jawa Tengah, Indonesia. Desa Salebu hanya berjarak 3 Km dari pusat pemerintahan kecamatanMajenang atau 80,6 Km berkendara dari pusat Cilacap. Sebagian besar wilayah Desa Salebu merupakan perbukitan dan hanya sedikit dataran rendah dibagian selatan. Sungai Ciglagah mengalir membelah desa dari Gunung Cendana ke Sungai Cijalu.
Sejarah mencatat awal berdirinya Desa Salebu, empat tahun sebelum lahirnya Kabupaten Cilacap yaitu 21 Maret 1856. Desa Salebu sudah memiliki pemerintahan pribumi sendiri yaitu pada tahun 1852 dengan Ki Lurah ( kuwu ) H. Ibrahim yang memimpin Desa Salebu. Warga Salebu masih ada keturunan dari trah kerajaan Dayeuh Luhur (th 1475-1831). Pada mulanaya warga Desa Salebu hanya terdapat sepuluh rumah penduduk. Ketika Perang Diponegoro terjadi kurun waktu tahun 1825-1830 semua rumah terbakar habis menjadi lebu (abu) kemudian oleh Ki Hajar Sakti yang tidak lain adalah Surandika yang masih keturunan bupati terakhir Kabupaten Dayeuh Luhur Raden tumenggung Prawiranegara, memberi nama padukuhan tersebut dengan nama Salebu.
Sejak itu Padukuhan salebu yang lokasinya sangat strategis dan memiliki kekayaan alam yang melimpah menjadi tujuan utama warga Dayeuh Luhur mencari penghidupan baru dan menetap manjadi penduduk setempat. Hingga pada akhirnya Padukuhan Salebu menjadi sebuah desa yang ramai dan memiliki sebuah padepokan di Gunung Padang sebagai pusat pertumbuhan budaya Sunda dari Jawa yang diberi nama Padepokan Cendana, Ini ditandai dengan adanya patung sapi dan batu yang menunjukan bahwa Padepokan Cendana merupakan peninggalan zaman Hindu. Keramat Cendana Gunung Padang menyampan banyak misteri masa lalu, ini ditandai dengan peninggalan-peninggalan masa lalu seperti:
Batu Babahanan
Batu Balai Desa (Pendopo)
Batu Bedil
Batu Ranjang
Batu Tropong
Air Terjun
Gua (Liang Biuk)
Patung Sapi
Sendang Suci (Pancoran)
Kepemimpinan
Adapun orang-orang yang pernah menjabat sebagai Lurah (Kepala Desa) Salebu adalah sebagai berikut: