Sains, teknologi, rekayasa, dan matematika (bahasa Inggris:science, technology, engineering and mathematicscode: en is deprecated atau disingkat STEM, dulunya science, math, engineering and technology atau SMET),[1] adalah sebuah istilah yang dipakai kepada sekelompok pelajaran akademik.[2] Istilah tersebut biasanya dipakai saat mengalamatkan pilihan kurikulum dan kebijakan pendidikan di sekolah-sekolah untuk menunjang kekompetitifan dalam pengembangan sains dan teknologi.
STEM merupakan istilah payung yang digunakan untuk mengelompokkan disiplin ilmu teknis yang saling berkaitan tersebut. Istilah ini mewakili kumpulan bidang ilmu yang luas dan saling terhubung yang sangat krusial bagi inovasi dan kemajuan teknologi. Disiplin-disiplin ilmu ini sering dikelompokkan bersama karena sama-sama menekankan pada berpikir kritis, pemecahan masalah, dan keterampilan analitis.[3] Penerapannya juga memiliki implikasi terhadap pengembangan tenaga kerja, masalah keamanan nasional (karena kurangnya warga negara yang berpendidikan STEM dapat menurunkan efektivitas di bidang ini), dan kebijakan imigrasi, terutama terkait penerimaan pelajar asing dan pekerja di bidang teknologi.[2]
Mary Kirk (2009). Gender and Information Technology: Moving Beyond Access to Co-Create Global Partnership. IGI Global Snippet. ISBN978-1-59904-786-7.
Shirley M. Malcom; Daryl E. Chubin; Jolene K. Jesse (2004). Standing Our Ground: A Guidebook for STEM Educators in the Post-Michigan Era. American Association for the Advancement of Science. ISBN0871686996.
Dr Wing Lau - Chief Engineer at the Department of Physics, Oxford University (Oct 12, 2017). "STEM Re-vitalisation, not trivialisation". OpenSchool. Diakses tanggal 2017-10-12.
Pranala luar
Wikimedia Commons memiliki media mengenai STEM education.