Sabo atausabo dam (untuk satu unitnya) merupakan suatu sistem pengendalian bencana alam aliran yang membawa endapan (sedimen), seperti bajir bandang, aliran material vulkanik (tefra dan lahar), dan pergerakan tanah, yang didirikan pada jalur aliran di pegunungan. Bencana alam aliran bersifat sangat merusak karena membawa endapan yang membuat momen dan massa alirannya menjadi lebih besar daripada hanya air saja. Sabodam atau bendung sabo, walaupun memiliki kemiripan bentuk dengan bendung pengatur air, lebih ditujukan bagi penghentian laju endapan, sehingga bagian hilir tidak banyak terdampak oleh potensi bencana. Sabo mengurangi kecepatan aliran dan mengendapkan sedimen bawaan.
Mengutip buku Glosarium Teknosabo (2021) oleh Chandra Hassan, istilah sabo berasal dari Bahasa Jepang, yaitu "Sa" artinya pasir dan "Bo" artinya pencegahan. Secara harfiah, sabo berarti mencegah aliran pasir agar tidak menimbulkan bahaya. Sedangkan pengertian sabo secara umum adalah pengendalian bencana alam akibat gerakan massa debris (aliran sedimen, batang-batang pohon tumbang, dan lainnya) yang membahayakan manusia dan merusak lahan pertanian, infrastruktur, permukiman penduduk, dan sebagainya.
Penerapan teknologi sabo dapat dilakukan di daerah vulkanik dan nonvulkanik.
Di daerah vulkanik, teknologi sabo diterapkan untuk megendalikan aliran debris berupa banjir lahar dan tanah longsor.
Di daerah nonvulkanik, teknologi sabo berfungsi untuk mengendalikan aliran debris yang berasal dari tanah longsor seperti galodo (slope failures) atau terban (landslides), serta mengendalikan banjir bandang (flashfloods).
Istilah sabo telah populer secara internasional sebagai istilah teknis dalam pengendalian bencana alam yang berkaitan dengan gerakan massa debris (debris related disasters). Istilah sabo diperkenalkan oleh Dr. Loudermilk ketika berkunjung ke Jepang pada 1951.
Pengertian Sabodam
Berdasarkan buku Glosarium Teknosabo (2021) oleh Chandra Hassan, sabodam merupakan dam yang berfungsi untuk mengendalikan aliran debris yang membahayakan dengan cara mengelola (menangka, menampung, dan melepas) debris, mengonsolidasi, dan menstabilkan dasar sungai agar tidak memicu terjadinya bencana.
Tata letak sabodam bisa dilaksanakan secara tunggal (single), seri (continuous), atau bertingkat (stepped). Secara umum, ada dua tipe sabodam, yaitu tipe tertutup dan tipe terbuka.
Masih mengutip dalam sumber yang sama, penulisan sabodam yang tepat adalah tidak dipisah. Penulisan sabodam dapat dipisah menjadi sabo dam, tetapi ditulis cetak miring atau italic, yaitu sabo dam. Meski demikian, hingga saat ini, belum ada penulisan baku yang ditetapkan oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).
Sementara itu, dalam bahasa Jerman, bendung sabo diterjemahkan menjadi Wildbachverbauung yang secara harfiah berarti "bangunan untuk mengendalikan cairan liar".
Fungsi Sabodam
Sabo dam memiliki sejumlah fungsi, di antaranya:
1. Mengendalikan Sedimen
Sabodam berfungsi menahan material sedimen (pasir, kerikil, batu, kayu, lumpur) yang terbawa aliran sungai saat banjir atau hujan deras. Dengan menahan sedimen di hulu, sabodam dapat:
mengurangi laju pendangkalan sungai dan saluran irigasi;
mempertahankan kapasitas aliran sungai agar tidak cepat dangkal; dan
memperlambat kecepatan aliran sedimen, sehingga erosi di hilir berkurang.
2. Mitigasi Banjir Bandang dan Banjir Lahar
Di daerah vulkanik seperti sekitar Gunung Merapi atau Gunung Gamalama, Sabodam digunakan untuk:
menahan atau memperlambat lahar vulkanik atau debris flow, sehingga energi alirannya berkurang; dan
memberi waktu bagi masyarakat untuk melakukan langkah keselamatan dan mengurangi dampak kerusakan infrastruktur di hilir.
3. Melindungi Daerah Hulu
Dengan menangkap dan menahan sedimen, sabodam dapat membantu untuk:
menurunkan risiko erosi lereng dan longsor di daerah hulu;
melindungi infrastruktur di hilir seperti jalan, jembatan, dan bangunan irigasi, dari rusaknya akibat sedimen berlebih.
Tipe-Tipe Sabodam
Secara umum, sabodam memiliki dua tipe, yaitu:
1. Sabodam Tipe Terbuka
Tipe sabodam yang didesain dengan bentuk terbuka. Tipe ini dapat memecah aliran, sehingga batuan besar akan tertahan dan batuan kecil terus mengalir. Sabodam terbuka biasanya dibangun di zona produksi atau erosion producing zone. Sabodam tipe terbuka memiliki beberapa bentuk, yaitu celah (slit), jaring (ringnet), kisi (grid), dan saringan (screen).
2. Sabodam Tipe Tertutup
Tipe sabodam yang didesain dengan bentuk tertutup dan memiliki lubang air (drip/drain hole). Tipe sabodam ini bekerja dengan melandaikan dasar sungai, sehingga batuan dapat terhenti. Sabodam tertutup bisa dibangun di sepanjang alur sungai (zona produksi, transportasi, dan sedimentasi).
Sabodam di Indonesia
Di Indonesia, sabo dam dibangun di sungai-sungai yang berhulu pada gunung-gunung berapi untuk mencegah aliran material dari aktivitas vulkanik menerjang kawasan pemukiman apabila terjadi banjir lahar maupun aliran piroklastik. Contohnya, Gunung Merapi, Gunung Semeru, Gunung Lewotobi, Gunung Sinabung, Gunung Marapi, dan sebagainya.
Sabodam di Indonesia umumnya dibangun oleh Kementerian Pekerjaan Umum (PU) melalui Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) atau Balai Wilayah Sungai (BWS) yang tersebar di seluruh Indonesia. Selain itu, Kementerian PU melalui Balai Teknik Sabo juga melaksanakan pengembangan, perekayasaan, hingga penerapan teknologi meliputi pengkajian, inspeksi, pengujian, dan sertifikasi di bidang sabo.
Di Indonesia, sabo dam tidak hanya difungsikan sebagai bangunan pengendali lahar atau sedimen. Sabo dam juga dapat berfungsi sebagai penghubung dua daerah (jembatan), lahan pertanian, hingga tempat wisata. Beberapa contoh sabo dam di Indonesia, antara lain:
Sabo Dam Bronggang di Cangkringan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta
Sabo Dam Pakunden di Tempel, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta
Grojogan Watupurbo di Tempel, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta
Sabo Dam Menayu di Muntilan, Magelang, Jawa Tengah
Sabo Dam Kali Opak di Cangkringan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta