Pendidikan S. Rukiah berawal dari sekolah Rendah Gadis kemudian ia melanjutkan pendidikan ke Sekolah Guru (CVO) selama dua tahun. Setelah menyelesaikan pendidikan dari CVO, S. Rukiah memutuskan untuk menjadi guru di Sekolah Rendah Gadis Purwakarta. Di samping itu, ia juga pernah menjadi sekretarisredaksimajalahPujangga Baru dan menjadi redaksi di majalah Bintang Timur/ Lentera bersama Pramoedya Ananta Toer, serta pernah bekerja di majalah pendidikan anak-anak, Cendrawasih, dan anggota Pimpinan Pusat Lekra 1959—1965. Sejak tahun 1946, S. Rukiah sudah menulis di berbagai majalah, antara lain dalam Gelombang Zaman dan Mimbar Indonesia. Berkat dorongan Hendra Gunawan, temannya, S. Rukiah akhirnya bisa menjadi penulis. Padahal sebelumnya, S. Rukiah beberapa kali mengirimkan hasil karyanya ke berbagai majalah ditolak, tetapi ia tidak putus asa. S. Rukiah menerima saran dan kritik diberikan untuk karya-karyanya. Dia pernah menulis surat kepada H.B. Jassin, bahwa ada orang yang memfitnahnya dan mengatakan karangan dan sajaknya yang telah dimuat di berbagai majalah adalah hasil jiplakan. Sementara itu, H.B. Jassin menanggapi surat S. Rukiah dan menyarankan supaya S. Rukiah mendiamkan saja persoalan itu dan harus memperkuat keberadaan dirinya dalam dunia sastra dengan cara terus mencipta dan meningkatkan mutu karyanya.
Pada Mei 1948, ia menjadi pembantu tetap majalah sastra Poedjangga Baroe. Rukiah berpindah ke Jakarta pada tahun 1950 untuk menjadi sekretaris majalah. Pada tahun yang sama, roman pertamanya yang berjudul Kejatuhan dan Hati diterbitkan. Pada tahun 1951, ia berpindah ke Bandung dan menjadi penyunting di majalah anak-anak, Cendrawasih.[2]
Rukiah pernah bergabung menjadi anggota Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat). Rukiah terpilih sebagai anggota pimpinan pusat Lekra pada tahun 1959. Namun, hal ini mengakibatkan buku-bukunya menjadi salah satu yang dilarang pada masa penggulingan Presiden Soekarno dan pelarangan Partai Komunis Indonesia pada 1965.[3]
Kumpulan cerpen dan puisi pertamanya berjudul Tandus terbit pada tahun 1952 dan memenangkan Hadiah Sastra Nasional. Pada tahun itu juga, Rukiah mulai menulis cerita anak menggunakan nama S. Rukiah Kertapati dan terus menerus menulis cerita anak sampai tahun 1964.
Rukiah menderita trauma atas tragedi tahun 1965 dan tidak pernah menulis lagi sejak itu. Walaupun karya-karyanya banyak, namanya langsung hilang setelah 1965. Dosen Ilmu Sejarah Universitas Sanata Dharma, Yerry Wirawan, mengatakan nama Rukiah Kertapati memang sengaja dihilangkan dalam sejarah perempuan dan sejarah sastra Indonesia modern karena ia adalah anggota Lekra.