Plot
Rekor nasional lari cepat 100 meter putra Korea Selatan saat ini adalah 10,07 detik, hanya terpaut 0,02 detik dari standar kualifikasi Kejuaraan Dunia Atletik, yaitu 10,05 detik. Gang Gu-young, pemegang rekor nasional, mengikuti sebuah kejuaraan lari cepat tingkat nasional, tetapi hanya mampu mencatatkan waktu 10,20 detik. Meski berhasil menjadi pelari tercepat, ia tetap kecewa karena gagal memecahkan rekornya sendiri sekaligus memenuhi standar kualifikasi untuk mengikuti Kejuaraan Dunia Atletik. Pelatihnya, Park Jun-su, berusaha menghibur dan menyemangatinya. Namun, dalam pertemuan dengan Direktur Asosiasi, komisi olahraga mulai mempertimbangkan untuk mengganti posisi Gu-young menjadi pelatih karena performanya dinilai stagnan. Ia juga dianggap telah melewati masa keemasannya dan mencapai batas kemampuannya. Mendengar hal tersebut, Gu-young menjadi marah. Di sisi lain, kehidupan pribadinya juga sedang bermasalah. Ia telah menikah dan memiliki seorang putri bernama Bomi, tetapi hubungannya dengan sang istri memburuk hingga digugat cerai. Saat menjalani persiapan intensif demi menembus catatan waktu 10,05 detik, Gu-young berlatih keras, tetapi menyadari bahwa lututnya sudah tidak mampu lagi menahan latihan berat. Jun-su pun frustrasi setelah mendengar vonis dokter yang menyarankan agar Gu-young menghentikan ambisinya mengejar target tersebut.
Dalam kilas balik, Gu-young mengingat masa mudanya. Nama dia sebenarnya adalah Gang Seung-yeol. Dia tergabung di tim sepak bola, tapi tidak pernah dianggap sebagai pemain menonjol oleh pelatih maupun timnya. Di sekolahnya, seorang anak laki-laki bernama Jang Geun Jae menjadi pusat perhatian karena telah mencatat rekor 10,16 detik. Seung-yeol menaruh hati pada seorang pelari putri bernama Lim Ji-eun. Demi meningkatkan performanya, Ji-eun secara rutin berlatih bersama Geun Jae, sehingga membuat Seung-yeol cemburu dan terus bertanya-tanya apakah keduanya menjalin hubungan asmara atau tidak. Seung-yeol secara terang-terangan mulai mendekati Ji-eun, tapi Ji-eun sama sekali tidak tertarik padanya dan menganggap remeh Seung-yeol serta menganggapnya terlalu banyak membaca manhua. Ucapan tersebut justru dibalas Seung-yeol dengan menggoda Ji-eun bahwa kisah mereka berdua adalah versi manhua-nya sendiri yang terjadi di dunia nyata.
Suatu hari, dalam sebuah sesi latihan, para atlet lain menolak berlari bersama Geun-jae. Seung-yeol tiba-tiba muncul dan menjadi pelari yang bertanding melawannya. Secara mengejutkan, ia mampu memberikan perlawanan sengit. Meski tetap kalah, penampilannya membuat Ji-eun terkesan dan tidak lagi meremehkannya. Saat beristirahat, Ji-eun memberikan sebotol minuman kepada Seung-yeol, yang membuatnya sangat senang hingga menyimpannya sebagai kenang-kenangan. Seung-yeol kemudian bertekad mengalahkan Geun-jae dengan diam-diam mengamati metode latihannya dan menirunya. Geun-jae akhirnya mengetahui hal tersebut, tetapi alih-alih marah, ia justru mulai melatih Seung-yeol bersama Ji-eun. Karena sering berlatih bersama, ketiganya pun menjadi akrab dan bersahabat.Pada suatu kesempatan, Geun-jae pernah mengatakan kepada Seung-yeol bahwa dirinya merasa seolah sedang mengendarai angin ketika memecahkan rekornya. Hari perlombaan pertama Seung-yeol akhirnya tiba. Karena salah membaca aba-aba start, ia melakukan pelanggaran start tapi berlari sekuat tenaga hingga garis finish. Meskipun catatan waktunya tidak diakui, salah seorang temannya di bangku penonton sempat mengukur waktu larinya, yaitu 10,16 detik, yang ternyata lebih cepat daripada rekor Geun-jae. Seung-yeol kemudian mengaku bahwa ia tidak berhenti berlari meskipun sadar telah melakukan pelanggaran start karena saat itu ia merasakan sensasi mengendarai angin seperti yang pernah diceritakan Geun-jae. Malam harinya, di stadion, Seung-yeol kembali menantang Geun-jae untuk berlari. Namun, secara tiba-tiba Geun-jae roboh sambil memegangi kakinya karena kesakitan. Setelah peristiwa itu, Geun-jae mengakui bahwa selama ini ia berbohong. Ia sebenarnya tidak pernah merasakan sensasi mengendarai angin saat berlari. Menurutnya, Seung-yeol-lah yang benar-benar memiliki bakat alami sebagai pelari dan mampu melakukan sesuatu yang selama ini hanya dapat ia khayalkan.
Di masa sekarang, Park Jun-su yang merasa telah kehabisan cara akhirnya menghubungi seorang pengedar obat terlarang untuk memperoleh doping. Transaksi tersebut kemudian terungkap oleh media dan memicu kehebohan publik. Kejadian tersebut memberikan tekanan kepada Gu-young. Meskipun hasil tes medisnya dinyatakan negatif, opini publik yang telanjur berkembang membuat seluruh prestasinya dipertanyakan. Di tengah tekanan tersebut, Direktur Asosiasi mendesak Gu-young agar pensiun dan menerima jabatan sebagai pelatih di asosiasi. Gu-young benar-benar terpukul. Ia menghapus tato catatan waktunya di lengan, lalu menghabiskan beberapa hari dengan mabuk-mabukan. Setelah itu, Gu-young menemui Geun-jae yang sudah lama tidak ditemuinya. Geun-jae memintanya berlari bersama seorang wanita tunanetra agar ia kembali mengingat betapa menyenangkannya berlari bersama seseorang. Dari pengalaman itu, Gu-young menyadari bahwa sudah lama ia kehilangan perasaan tersebut. Ia pun mulai mengubah gaya berlarinya kembali seperti ketika masih muda.
Pada Kejuaraan Atletik Yechon ke-79, Gu-young datang terlambat untuk menemui putrinya, Bomi. Setelah sempat kembali bertengkar dengan Ji-eun, yang ternyata adalah istrinya, Gu-young mengatakan bahwa ia akan memberikan akhir bagi kisah manhua versinya dalam sepuluh menit ke depan. Ia kemudian mengikuti nomor lari 100 meter dan bersaing dengan para pelari terbaik Korea Selatan, termasuk talenta muda menjanjikan, Shin Ye-seung. Dalam babak final, Gu-young kembali merasakan sensasi mengendarai angin seperti saat masa mudanya. Ia berhasil finis di posisi kedua di belakang Shin Ye-seung dengan catatan waktu 10,06 detik, 0,01 detik lebih cepat daripada rekor pribadinya sebelumnya. Meskipun gagal menjadi juara, Gu-young merayakan pencapaiannya bersama Jun-su, Ji-eun, dan Bomi.