Rumah-rumah makhluk halus di Bangkok, Thailand; sebuah san phra phum (ศาลพระภูมิ, altar yang ditujukkan untuk Phra Phum) di sebelah kiri, dan sebuah san chao thi (ศาลเจ้าที่; altar yang ditujukkan untuk para penunggu) di sebelah kanan.Rumah makhluk halus di sebuah rumah di Huế, Vietnam
Rumah makhluk halus[note 1] atau rumah penunggu adalah tempat persembahan bagi makhluk halus pelindung suatu tempat yang ditemukan di negara-negara Asia Tenggara seperti Burma, Kamboja, Laos, Thailand, Malaysia, Indonesia, Vietnam, dan Filipina. Rumah makhluk halus biasanya berupa bangunan beratap kecil yang dipasang di atas pilar atau mimbar, dan ukurannya dapat bervariasi dari platform kecil hingga rumah berukuran besar yang muat dimasuki orang. Rumah makhluk halus dimaksudkan untuk menyediakan tempat berlindung bagi para makhluk penunggu yang dapat menyebabkan masalah bagi orang-orang jika tidak ditenangkan. Rumah-rumah makhluk halus sering kali menyertakan gambar atau patung ukiran berwujud manusia dan hewan. Berbagai persembahan nazar diletakkan di sana untuk menyenangkan para makhluk halus; pada bangunan yang lebih megah, bahkan disediakan altar khusus untuk tujuan tersebut.
*Daftar ini juga mencakup mereka yang tidak melabeli diri sebagai umat Theravāda, seperti mereka dalam masa prasektarian, masa awal, modernis, EBT-is, dll., tetapi sangat dipengaruhi dan/atau memengaruhi ajaran Theravāda klasik.
Di Asia Tenggara Daratan, sebagian besar rumah dan tempat bisnis memiliki rumah makhluk halus yang ditempatkan di tempat yang dianggap suci, biasanya di sudut properti. Lokasi tersebut dapat dipilih setelah berkonsultasi dengan seorang pendeta Brahmana atau seorang ahli kepercayaan tradisional Thai (อาจารย์, Achar). Rumah makhluk halus dikenal sebagai နတ်စင်code: my is deprecated (nat sin) atau နတ်ကွန်းcode: my is deprecated (nat kun) dalam bahasa Burma; ศาลพระภูมิcode: th is deprecated (san phra phum, 'rumah makhluk penjaga/penunggu') dalam bahasa Thailand; dan រានព្រះភូមិcode: km is deprecated (rean preah phum, 'tempat suci untuk makhluk penjaga') atau រានទេវតាcode: km is deprecated (rean taveda) dalam bahasa Khmer.
Balaua, rumah makhluk halus terbesar bagi anito di antara orang Itneg (1922, Filipina)
Di Asia Tenggara Maritim, rumah makhluk halus terhubung dengan berbagai ritual animisme tradisional yang melibatkan makhluk-makhluk halus (atau "roh" dalam pemaknaan tertentu).[note 1] Di Filipina, rumah makhluk halus didedikasikan untuk upacara atau persembahan yang melibatkan makhluk halus yang disebut anito. Rumah-rumah makhluk-makhluk halus juga disebut sebagai tempat suci (shrine). Rumah-rumah makhluk halus dikenal sebagai magdantangcode: ceb is deprecated dalam bahasa Bisayak; ulangocode: tl is deprecated atau simbahancode: tl is deprecated dalam bahasa Tagalog; tangpapcode: itb is deprecated , pangkewcode: itb is deprecated , atau alalotcode: itb is deprecated (untuk berbagai altar beratap kecil), dan balauacode: itb is deprecated atau kalangancode: itb is deprecated (untuk bangunan yang lebih besar) di Itneg; maligaicode: suc is deprecated di Subanen; tenincode: tiy is deprecated di Tiruray; dan buiscode: bgi is deprecated (untuk yang dibangun di dekat jalan dan desa) dan parabunniancode: bgi is deprecated (untuk yang dibangun di dekat persawahan) di Bagobo.[1][2][3]
Asia Timur
Dalam bahasa Mandarin, rumah makhluk halus disebut 土地神屋 atau Rumah Tu Di Gong (Dewa Tanah dan Bumi), yang melambangkan hubungan antara konsep tersebut dan konsep Kelenteng Bumi yang didedikasikan untuk dewa penguasa tanah atau Tu Di Gong.
Asia Selatan
Di Tamil Nadu, rumah dan tempat suci makhluk halus menampung makhluk halus pelindung lokal, dewa pelindung, dan leluhur yang didewakan yang berasal dari kepercayaan animisme Dravida kuno.[4][5] Mereka cenderung berlokasi di pinggiran desa, yang dikenal sebagai "katu," karena kepercayaan bahwa makhluk-makhluk halus ini "terlalu berbahaya dan tidak dapat diprediksi untuk [bertempat] tinggal di desa... dan tampaknya bisa terganggu oleh suara-suara kehidupan desa."[6] Banyak dari rumah makhluk halus ini didedikasikan untuk arwah para pahlawan yang didewakan, khususnya Madurai Veeran, Karuppuswami, atau Aiyanar.[7] Persembahan berupa pisang, kelapa, lampu minyak, daging, dan alkohol secara rutin ditinggalkan di tempat-tempat suci ini untuk memastikan kesehatan dan keselamatan desa. Ini sangat kontras dengan praktik Hindu berdasarkan Weda yang hanya mempersembahkan makanan vegetarian kepada dewa.[8] Oleh karena banyaknya orang Tamil yang menjadi korban dalam sistem perbudakan Inggris, tempat-tempat suci ini juga menyebar ke seluruh diaspora India di perantauan.[9]
Di Kerala, setiap kompleks rumah keluarga (bagi suku Nair dan Ezhava), yang dikenal sebagai tharavadu, memiliki rumah makhluk halus yang terletak di sudut timur laut. Dikenal sebagai "kavu" atau "sarpa kavukal", tempat-tempat suci ini terdiri dari belukar kecil dengan rumah-rumah simbolis dan patung batu berukir naga pelindung, serta "dewa, makhluk halus, yaksini, [atau] para leluhur" lainnya.[10]Orang Malayali secara tradisional percaya bahwa pembangunan dan pemeliharaan tempat-tempat suci ini menjaga makhluk-makhluk penunggu tetap patuh dan bahkan dapat berfungsi sebagai penebusan dosa bagi "dewa ular yang marah [yang]... ditinggalkan tanpa pengawasan."[11] Makhluk-makhluk halus kavu paling sering dipersembahkan "nasi mentah, kelapa muda, daun sirih, dan pinang," serta "lampu minyak di hadapan dewa saat senja."[11][12] Kadang-kadang, kavu ini berfungsi sebagai tempat ritual perdukunan yang dikenal sebagai "pampin kalam". Dalam ritual ini, para medium menjadi perantara dewa dan menggelar upacara suci di sekeliling mandala yang dilukis dengan tangan menggunakan bubuk beraneka warna.[13]
Objek persembahan
Di Kamboja, persembahan yang paling umum adalah buah-buahan (misalnya pisang, jeruk, anggur; beberapa orang bahkan mempersembahkan buah yang berbeda secara bersamaan). Namun, di negara tetangganya, Thailand, mempersembahkan berbagai macam makanan dan minuman di rumah makhluk halus merupakan tradisi yang sudah berlangsung sejak lama. Nasi, pisang, kelapa, dan makanan penutup adalah persembahan yang umum ditemukan. Dari berbagai jenis minuman, yang paling umum dipersembahkan adalah Fanta merah rasa stroberi.[14] Praktik ini didasari pada kepercayaan bahwa makhluk halus yang ramah akan berkumpul untuk menikmati makanan dan minuman gratis, dan kehadiran mereka berfungsi untuk mengusir makhluk halus yang lebih jahat. Popularitas persembahan Fanta merah telah ada selama beberapa dekade. Ada berbagai pendapat mengenai alasan digunakannya Fanta. Sebagian besar merujuk pada makna penting warna merah, yang mengingatkan pada persembahan hewan kurban, atau mungkin terkait dengan kebiasaan menancapkan dupa merah di segelas air yang seketika membuat airnya menjadi merah. Adapun soal rasa manisnya, ada pendapat bahwa para makhluk halus pada dasarnya memang menyukai rasa manis.[15]
Struktur bangunan
Struktur bangunan dari rumah-rumah makhluk halus biasanya meliputi:
Sebuah landasan (alas) yang ditinggikan
Sebuah atap
Sebuah altar atau meja persembahan
Benda-benda sakral di dalamnya, seperti rupang Buddha
12Istilah spirit mungkin diterjemahkan sebagai "roh" atau "arwah" oleh mesin penerjemah, meskipun tidak serupa dengan konsep "roh" atau "arwah" dalam agama Abrahamik karena mencakup para dewa, hantu, dan leluhur yang telah meninggal; tergantung sistem kepercayaan yang terkait dengannya.
↑Rajagopalan, L. S. (1981). The Pulluvans and their Music(PDF) (Edisi L1). The Music Academy Madras- 14: T.S. Parthasarathy. hlm.73. Diakses tanggal 18 Januari 2024. Pemeliharaan CS1: Lokasi (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
↑Rajagopalan, L. S. (1981). The Pulluvans and their Music(PDF) (Edisi L1). The Music Academy Madras- 14: T.S. Parthasarathy. hlm.72. Diakses tanggal 18 Januari 2024. Pemeliharaan CS1: Lokasi (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)