Kota in 23x15px|border |alt=|link= Kurdistan Region, 23x15px|border |alt=|link= Irak{{SHORTDESC:Kota in 23x15px|border |alt=|link= Kurdistan Region, 23x15px|border |alt=|link= Irak|noreplace}}
Rawandiz ( bahasa Arab:رواندزcode: ar is deprecated ,[1]bahasa Kurdi:Rewandiz ,ڕەواندزcode: ku is deprecated )[2][3] adalah sebuah kota yang terletak di Wilayah KurdistanIrak, di Kegubernuran Erbil, dekat dengan perbatasan antara Irak dengan Iran dan Turki, Kota ini terletak 123km dari Erbil dan dikelilingi oleh pegunungan Zagros; Gunung Korek berada di selatan, Gunung Hindren berada di utara, Gunung Zozik di bagian barat, dan Gunung Bradasot di bagian timur.
Sejarah
Pada masa Kerajaan Asyur Baru, dari abad ke-10 hingga ke-7 SM, kota ini terletak di jalur perdagangan menuju ke Niniwe.[4]
Pada tahun 1915, saat Perang Dunia Pertama, kota ini diduduki oleh pasukan Rusia dan Asyur.[7] Penduduk Muslim di kota ini dibantai oleh tentara Rusia dan sekutu mereka yaitu militan Asyur. Setelah kota direbut kembali, hanya 20 persen dari populasi Kurdi yang berhasil bertahan.[8] Pada tahun 1922 kota ini diduduki oleh Turki, sampai mereka keluar pada akhir tahun yang sama.[9] Tentara Inggris menduduki kota ini pada 22 April 1923.[10]
Antara 1928 dan 1932, Inggris membangun jalan dari Arbil, melalui Rawandiz, ke perbatasan Iran di dekat Piranshahr. Pembangunan jalan ini diketuai oleh insinyur asal Selandia Baru AM Hamilton.[11] Pada tahun 1940, populasinya berjumlah 1.970 penduduk.[6]
↑Shattering Empires: The Clash and Collapse of the Ottoman and Russian Empires 1908-1918, Michael A. Reynolds, page 158, 2011. Quote "The Russian's local allies often abetted this line of thinking. One Assyrian officer urged his superiors to drop the Russian rule of concilatings one's enemy peacefully in favor of all-out warfare on Muslims. The British Major E. W. C Noel described the extermination of the town of Rowanduz and the wholesale massacre of its [Muslim] inhabitants by what he dubbed Christian Army of Revenge of Agha Petros as one example of a long record of outrages