Rogojampi adalah salah satu kecamatan di Kabupaten Banyuwangi. Rogojampi merupakan salah satu pusat ekonomi penting di Banyuwangi. Letaknya yang berada di tengah kabupaten dan dilintasi berbagai jalur strategis membuatnya menjadi kota kecil yang ramai dan padat penduduk. Rogojampi memiliki fasilitas penting seperti Pasar Rogojampi, Stasiun Rogojampi, rumah sakit, serta terdapat berbagai pertokoan di sepanjang jalan raya.[1] Kecamatan ini dilintasi jalan penting yang menghubungkan pusat kota Banyuwangi di utara dengan Jember. Rogojampi juga berada di persimpangan jalur menuju Genteng di barat, Benculuk di selatan, dan Bandar Udara Banyuwangi di timur.
Kecamatan Rogojampi merupakan pusat dari Kawedanan Rogojampi pada zaman kolonial Belanda. Kawedanan Rogojampi adalah daerah pembantu bupati yang wilayahnya mencakup kecamatan di Banyuwangi bagian tengah seperti Kecamatan Rogojampi, Singojuruh, Kabat, dan Songgon.[2] Pasca kemerdekaan, kawedanan dihapuskan sehingga kecamatan berada langsung di bawah kabupaten. Bekas gedung kawedanan sekarang menjadi kantor camat Rogojampi.[3] Pada tahun 2017, Rogojampi bagian timur dimekarkan menjadi kecamatan baru bernama Blimbingsari. Sehingga sekarang Rogojampi tersisa 10 desa dan tidak lagi memiliki wilayah pantai.[4]
Geografi
Peta lokasi Kecamatan Rogojampi
Rogojampi adalah kecamatan yang terletak di Kabupaten Banyuwangi bagian tengah. Geografinya berupa dataran rendah dan didominasi areal persawahan. Pusat keramaian Rogojampi berada di sepanjang jalan nasional. Sejak pemekaran Kecamatan Blimbingsari di tahun 2017, Rogojampi tidak lagi memiliki wilayah pantai. Walaupun berupa dataran rendah, Rogojampi juga memiliki banyak "gumuk" yaitu gundukan pasir setinggi bukit kecil yang tersebar di bagian selatan kecamatan seperti Desa Aliyan.
Batas wilayah Kecamatan Rogojampi adalah sebagai berikut:[5]
Dari arah utara (Ketapang, Situbondo, atau Banyuwangi) menuju ke Pantai Plengkung, Jajag, Benculuk, Genteng atau Jember: Untuk kendaraan pribadi (roda dua dan roda empat) bisa langsung melewati jalan arteri di depan Pasar Rogojampi. Sedangkan untuk kendaraan besar (truk dan bus) belok kiri pada simpang tiga timur SPBU Rogojampi, lalu belok kanan pada simpang tiga berikutnya (jika lurus menuju ke arah Pemandian Pancoran). Selanjutnya belok kanan lagi di simpang tiga berikutnya (jika belok kiri menuju ke arah Bandar Udara Blimbingsari) hingga tiba di simpang tiga Kantor Pos Rogojampi, lalu belok kiri melewati jembatan Lugonto.
Dari arah selatan (Jajag, Benculuk, Pesanggaran, Genteng, atau Jember) menuju ke Ketapang, Situbondo, atau Banyuwangi: untuk kendaraan pribadi (roda dua atau roda empat) belok kiri pada simpang tiga Kampung Madura lalu belok kanan pada simpang tiga berikutnya (jika lurus menuju ke arah Songgon), kemudian belok kanan lagi pada simpang tiga berikutnya (jika lurus menuju ke arah Stasiun Rogojampi) hingga tiba di simpang tiga selatan SPBU Rogojampi lalu belok kiri menuju Gitik.
Jika menuju ke Genteng, Glenmore, Kalibaru atau Jember. Untuk kendaraan pribadi (baik roda dua dan roda empat) dan kendaraan besar non-angkutan umum dianjurkan untuk belok ke arah barat dari traffic light Lincing (Patung Adipura) Rogojampi, melewati Gambor. Sedangkan untuk kendaraan besar seperti bus harus lurus terus melewati Benculuk dan Jajag.
Galeri
Penunjuk arah ke Jember
Jembatan Lugonto
Traffic light Lincing / Adipura
Penunjuk arah ke arah utara
Penunjuk arah ke Songgon
Kebudayaan
Keboan
Keboan Aliyan
Salah satu kebudayaan Suku Osing yang masih dilestarikan di Rogojampi adalah Kebo-keboan atau Keboan. Desa Aliyan di Rogojampi dan Desa Alasmalang di Singojuruh adalah desa yang masih mempertahankan tradisi ini. Keboan Aliyan adalah tradisi yang dilaksanakan tiap bulan Sura atau Muharram sebagai bentuk rasa syukur dan permohonan doa atas hasil pertanian yang melimpah. Keboan berupa arak-arakan masyarakat mengelilingi desa yang berperan seperti kerbau, lengkap dengan tanduknya dan berenang di kubangan lumpur. Masyarakat juga membuat umbul-umbul di sepanjang jalan desa. Selain memasang umbul-umbul, masyarakat juga mendirikan gapura yang terbuat dari bambu yang dihiasi janur dan hasil bumi.[7]
Kuliner
Darplok Rogojampi
Darplok
Darplok adalah makanan khas yang dapat ditemukan di pusat kota Rogojampi. Darplok tercipta sekitar tahun 1980-an dan menjadi kuliner unik yang banyak dicari terutama pelajar sepulang sekolah. Darplok sendiri adalah singkatan dari "dadar ceplok" dan merupakan versi sederhana dari martabak telur. Darplok terbuat dari campuran tepung terigu, telur, dan mie bihun yang sudah matang, kemudian diberi tambahan penyedap rasa, garam, dan irisan daun bawang. Semua bahan dicampur menjadi satu lalu digoreng, kemudian disajikan dengan cara disiram saos yang diracik dengan campuran petis udang, gula merah, cabai, dan kecap.[8]