Riwayat hidup
Sejak SMP gemar lintas alam dan melakukan dokumentasi fotografi dan penelitian sederhana dalam bidang biologi dan geologi, mengikuti jejak Dr Franz Junghuhn, yang pada abad ke-18 mengeksplorasi hampir semua gunung di pulau Jawa.
Karier
Pada 1966, Robby mulai bekerja sebagai dokter spesialis kulit dan kelamin. Ia juga sempat bekerja sebagai dosen PNS di FK UI, tetapi mengundurkan diri di tahun 1973. Di samping membuka praktik dokter kulit, ia juga aktif dalam eksplorasi gua dan karst hingga dikenal sebagai ahli di bidang ini. Sejak 1973, ia memulai menelusuri gua, dimulai dari Gua Sripit di Trenggalek, Jawa Timur.[3]
Ia menemukan fakta, bahwa secara internasional, sejak permulaan abad ke-19 gua dan lingkungannya diakui memiliki nilai ilmiah dan dipelajari melalui ilmu speleologi. Lingkungan batu gamping juga diteliti melalui ilmu karstologi. Karena di Indonesia kedua Ilmu itu belum dikenal dan belum ditekuni, maka ia mempelopori melalui penelitian, konsultasi, ceramah ilmiah, dan penyelenggaraan berbagai pertemuan ilmiah melalui Himpunan Kegiatan Speleologi Indonesia (HIKESPI).
Kedua ilmu ia tekuni secara otodidak dengan melakukan pendataan, penelitian, kunjungan lapangan, pertemuan ilmiah, serta mengikuti pendidikan kursus singkat speleolofi-karstologi dan eksplorasi gua di Amerika Serikat, Belgia, Italia, Ceko, Prancis, dan Britania Raya. Pada tahun 1983, ia dipilih sebagai wakil resmi Union Intenationale de Speleologie (UIS) untuk Indonesia. Dari tahun 1986-2000 ia dipilih menjadi adjunct secretary UIS untuk Kawasan Australia-Asia. Pada 1983 dipilih menjadi Ketua Umum Himpunan Kegiatan Speleologi Indonesia, yang didirikan pada 23 Mei 1983 di Cilacap oleh 7 penggemar penelusuran goa.
Karya akademis
Ada lebih dari 100 makalah yang ia pernah tulis dalam bidang biospeleologi, konservasi, speleogenesis, manajemen wisata gua, hidrologi karst, arkeo-paleontologi, sedimentologi, pendidikan speleologi, teknik penelusuruan gua, manajemen kawasan karst, vegetasi karst, sehingga diakui sebagai ahli dan nara sumber permasalahan karst dan gua oleh berbagai instansi pemerintah, perguruan tinggi, maupun IUCN dan Bank Dunia.
Ia pernah diminta penjadi guru tamu di Balai Pendidikan dan Latihan Pariwisata (ex NHI) Bandung untuk mata kuliah Management Wisata Gua dan Minat Khusus (1986-1989), Fakultas Kehutanan IPB untuk matakuliah Konservasi Hutan Kawasan Karst (1987-1989), dan Sekolah Pasca Sarjana IPB dalam matakuliah Ekowisata (2000). Bahkan, ia juga menjadi dosen pembimbing mahasiswa S1, S2, dan S3 di IPB, ITB, dan UI dalam bidang Wisata Gua, Konservasi Karst, Hidrologi Karst, Sosiologi Kawasan Karst, Segi Hukum Kawasan Karst, meski ia hanya mempelajari ilmu-ilmu tersebut secara otodidak.[3]