Setelah keruntuhan Kekaisaran Romawi Barat, Eropa mengalami penurunan dalam pengetahuan ilmiah. Namun, peningkatan kontak dengan dunia Islam membawa kebangkitan pembelajaran. Para filsuf dan ilmuwan Islam menyajikan dan meluaskan karya-karya Yunani kuno, khususnya karya-karya Aristoteles dan Euklid, yang diterjemahkan ke bahasa Latin, secara signifikan merevitalisasi sains Eropa.[2] Pada Abad Pertengahan Puncak, Eropa juga mengalami kemajuan teknologi signifikan yang memicu pertumbuhan ekonomi.
Pada abad ke-12, Skolastisisme timbul, ditnadai oleh pandangan sistematis dan rasional pada teologi. Gerakan tersebut diperkuat oleh terjemahan Latin baru dari para filsuf Yahudi dan Islam, yang meliputi Avicenna, Maimonides, dan Averroes.
↑Robert Louis Benson; Giles Constable; Carol Dana Lanham, ed. (1991). Renaissance and Renewal in the Twelfth Century. Harvard University Press. hlm.471.
Bauer, Susan Wise (2013), The History of the Renaissance World: From the Rediscovery of Aristotle to the Conquest of Constantinople, New York: W. W. Norton & Company, ISBN978-0-3930-5976-2
Benson, Robert L., Giles Constable, and Carol D. Lanham, eds. (1982). Renaissance and Renewal in the Twelfth Century. Cambridge: Harvard University Press.