Raden Kusen dengan nama asli Raden Husain (حسين) atau logat Tionghoa Kin San bergelar Adipati Pecat Tondo Terung, adalah Adipati Terung seorang panglima perang Kerajaan Majapahit Di Kadipaten Japan era Majapahit akhir.
Raden Husain dengan Raden Hasan pun memulai perjalanan merantau ke Tanah Jawa. Mereka singgah di Cirebon untuk menuntut Ilmu dengan Sunan Gunung Jati, Raden Kusen menikahi Puteri Sunan Gunung Jati bernama Nyai Mertasari dikenal juga dengan Nyaimas Ranggaluwung(bukan Ranggaluwung tetapi yang benar Nyai Mas Ranggawulung), (namun tidak beranak,dikarenakan Nyai Mertasari yang dikenal juga dengan Nyai Mas Ranggawulung rahimnya kering,sehingga mengangkat 2 orang anak dari istri Raden Kusen dengan Rara Asmara atau Rara Huning) dan dikaruniai 4 orang anak yang diberi nama Raden Surodirejo (Adipati Palembang I), Raden Santri (Pangeran Aryo Kesumo Cirebon),Ariyo Timbul,dan Ariyo Balitar. Raden Patah melanjutkan perjalanan untuk bertemu dan berguru dengan Sunan Ampel. sementara itu, Raden Kusen mengabdi kepada Raja Brawijaya,ayahanda kandung beliau.
Mengabdi kepada Kerajaan Majapahit
Raden Kusen diberi tanah di KadipatenTerung, sementara itu, Raden Patah membuka Perkampungan baru di Demak Bintoro, atas perintah Sunan Ampel. Mengetahui anaknya membuka Lahan Baru, Brawijaya memanggil Raden Patah ke hadapannya. Bukannya menghukumnya karena tidak memberikan Upeti, Raden Patah ditwari untuk menjadi AdipatiDemak.
Pengkudetaan Brawijaya V oleh Girindrawardhana (Brawijaya VI)
Dimasa pemerintahan Raden Patah ing Kesultanan Demak, Raden Patah mengumpulkan pasukan yang dipimpin oleh Sunan Ngudung ayah dari Sunan Kudus untuk menyerang Ibukota Majapahit dan mengudeta Brawijaya VI. Brawijaya VI menyiapkan pasukan yang dipimpin oleh Adipati Terung (Raden Kusen). Kedua pasukan bertemu di perbatasan di tepi Sungai Sedayu. Pada awalnya, kedua panglima memutuskan untuk saling berjauhan. Setelah 4 tahun tanpa kepastian, para pasukan merasa tidak puas dan mendesak Adipati Terung untuk memerintahkan penyerangan. Pasukan Majapahit pun menghancurkan pasukan Muslim, ditambah terbunuhnya Sunan Ngudung oleh tombak yang tertancap di bagian dada oleh Adipati Terung membuat Moral pasukan berkurang dan memaksa Pasukan Muslim untuk mundur. Setelah beberapa dekade, Raden Patah kembali menyiapkan pasukan yang lebih kuat dari serangan pertama, Adipati Terung pun kembali dipercaya untuk menjadi panglima karena kesuksesan sebelumnya, tetapi nasib tersenyum kepada Pasukan Majapahit dan Pasukan Muslim mengkocar kacirkan semangat luhur pasukan Majapahit, Adipati Terung (Raden Kusen) melarikan diri kearah Blambangan, dan Kesultanan Demak berhasil menaklukan Kerajaan Majaphit bertanda berakhirnya era Kerajaan Majapahit.
Bergabung dengan Demak
Setelah itu, Raden Kusen pergi ke Ibukota Kesultanan Demak untuk menyerahkan diri. Raden Patah menerima penyerahan diri Raden Kusen (sebenarnya bukan menyerahkan diri tetapi Raden Fatah atau Raden Patah atau Raden Hasan atau Raden Kasan menemui Raden Husain atau Raden Kusen untuk membantunya mengelola kerajaan Demak), dan memberikan Raden Kusen Tanahnya kembali di Terung, (Sekarang Sidoarjo), Raden Kusen pun meninggal dunia dan dimakamkan disana,namun Raden Kusen bangkit kembali karena sebenarnya Raden Kusen hanya mati suri (demi menghormati dan menjaga nama masyurnya Raden Patah kakaknya,sehingga mau dimakamkan).Setelah bangkit dalam kubur Raden Kusen pergi kedaerah yang sekarang disebut Sragen (bhumi Soekowati) untuk bertemu dengan Raden Joko Tingkir (cucu dari Prabu Brawijaya ,dan anak dari Prabu Handayaningrat Pengging) dan selanjutnya didharmakan (karena Raden Kusen adalah penganut yang taat Agama Dharmma (Syiwa-Buddha) disana (seperti janji Raden Kusen pada mendiang istrinya Dyah Ayu Gauri atau Dyah Ayu Hori, bahwa setelah meninggal Raden Kusen juga dikremasi/didharmakan), selanjutnya abu Raden Kusen dibawa ke Kriyan Mojokerto dan dicandikan disana.