Kelurahan in Sulawesi Selatan, 23x15px|border |alt=|link= Indonesia{{SHORTDESC:Kelurahan in Sulawesi Selatan, 23x15px|border |alt=|link= Indonesia|noreplace}}
Pada Zaman Dahulu di wilayah ini sekitar tahun 800 - 900 Masehi telah berdiri kerajaan tertua di Selayar dengan Raja pertama seorang Tu Manurung seorang putri dari pangeran mulia sawerigading yang singgah di Selayar saat kepulangan rombongan mereka dari Cina . Ratu pertama Selayar tersebut bernama We Tenri Dio dengan Gaukang ( Kebesaran) Kerajaan yakni Gong Nekara . Pada masa setelah We Tenri Dio seorang Raja Putabangung bergelar Lalaki dimana gelar tersebut bertahan hingga kedatangan Belanda.We Tenri Dio merupakan seorang putri dari pangeran Luwu Sawerigading, hal inilah yang membuat seluruh keturunan bangsawan di Selayar menggunakan gelar atau nama Opu yang merupakan gelar bangsawan Luwu. .
Wilayah Kerajaan Putabangung meliputi seluruh wilayah daratan pulau Selayar pada awal berdirinya yang terdiri dari 13 wilayah Gallarang yang kemudian menjadi cikal bakal 13 kerajaan kecil di pulau Selayar .
Daftar Opu / Raja Putabangung
Tenri Dio (perkiraan awal abad ke-10 M),
Lalaki kedua,
Lalaki ketiga / Kemenakan dari Murrang Dg. Mannuruki / anak dari Mallangiki anak dari Tenri Dio,
Lalaki Tutinrowa Ri Zikkirina anak dari Murrang Dg. Mannuruki,
Lalaki Dg.Mattata Tutinrowa Ri Parentana anak dari Tutinrowa Ri Zikkirina,
Lalaki Dg. Mamuji anak dari Lalaki ketiga,
Lalaki Dg. Pabeta anak dari Dg. Mamuji,
Lalaki Dg. Mangemba Tutinrowa Ri Liana anak dari Dg. Mattata Tutinrowa Ri Parentana,
Lalaki kesembilan,
Lalaki Dg. Ngiraja Tutinrowa Ri Puasana anak dari Dg. Mangemba Tutinrowa Ri Liana,
Lalaki Dg. Masarro Tutinrowa Ri Sombala’na anak dari Dg. Ngiraja Tutinrowa Ri Puasana,
Lalaki Binongko Dg. Ngiraja Tutinrowa Ri Bulupaa anak dari Dg. Masarro Tutinrowa Ri Sombala’na,
Lalaki Launru Dg. Marutung Tutinrowa Ri Gaukanna anak dari Binongko Dg. Ngiraja Tutinrowa Ri Bulupaa,
1834 Lalaki Daeng Marullong ( masuknya pemerintah Kolonial Belanda di tandai dengan ditetapkannya Kerajaan Putabangung sebagai Regenschappen Bontobangung dan seorang Opu/ Raja Putabangung otomatis menjadi Regen Bontobangung di bawah pengawasan Residen atau controller Belanda yang berkedudukan di Benteng )
1849: Lalaki Andi Toto Dg. Mamuji anak dari Launru Dg. Marutung Tutinrowa Ri Gaukanna,
1849-1869: Lalaki Sumahe Dg. Mappasang anak dari Dg. Rilangi anak dari Dg. Pabeta (Lalaki ketujuh). Beliau adalah Opu / Regen Putabangung terakhir di tandai dengan di leburkan nya Regenschappen Putabangung ke dalam wilayah Regenschappen Bontobangung dan di serahkan nya Gaukang Kerajaan yakni Gong Nekara kepada Regen/ Opu Bontobangung Umara Daeng Macora.
Masuknya islam di pemerintahan Putabangun saat Dg. Mangemba Tutinrowa Ri Liana sebagai Lalaki kedelapan, sedangkan Hindia Belanda menginjakkan kaki di Putabangun pada saat Lalaki kesebelas Tutinrowa Ri Sombala’na yaitu Dg. Masarro.
Ditulis oleh Muhammad Idris Karaeng Palili Alang
Sejarah
Putabangun dahulu adalah ibu kotaKesultanan Selayar. Dalam silsilah raja Putabangun yang terdapat atau tertulis di "lontara jangangjangang" raja pertama Putabangun adalah Tenri Dio, seorang wanita putri dari Sawerigading, Tenri Dio ini mempunyai gaukang (lambang kerajaan) Gong Nekara atau gong besar, masyarakat sekitar menyebutnya Opu Gelemoni (raja tetapi tak bicara) yang letak kerajaannya di Bontobonto. Setelah sepeninggalan Tenri Dio (Opu pertama Putabangun) gong besar ini menjadi gaukang kerajaan putabangun turun temurun, gong ini sempat disembunyikan atau ditanam atas perintah Opu Putabangun ketika akan terjadi perang dengan Mataram, entah kerajaan Putabangun mengalami kekalahan atau akibat perang yang berkepanjangan, Gong Nekara(gaukang) yang ditanam tersebut terlupakan lokasi penanamannya, kemudian ditemukan kembali oleh seorang petani yang bernama Pao di Papalohea cangkulnya mengenai satu katak dari gong tersebut hingga patah, penemuan kembali gong besar oleh pemerintah Belanda ditempatkan di daerah Bontobangun (Mattalalang) agar mencegah berdirinya kembali kerajaan Putabangun dengan gaukangnya. Ketika ditemukan kembali gong besar(gaukang Putabangun) kerajaan Putabangun telah lama berakhir karena perlawanan dan kegigihannya melawan pemerintah Belanda, kerajaan ini diceraiberaikan hingga garis benang merah dari Tenri dio (raja pertama) sampai Laddeng dg. Maruttung (raja terakhir) selesai.