Puri di pulau Bali adalah nama sebutan untuk istana atau tempat tinggal bangsawan Bali, khususnya mereka yang masih merupakan keluarga dekat dari raja-raja Bali. Berdasarkan sistem pembagian triwangsa atau kasta, maka puri ditempati oleh bangsawan berwangsa ksatria.
Puri-puri di Bali dipimpin oleh seorang keturunan raja, yang umumnya dipilih oleh lembaga kekerabatan puri. Pemimpin puri yang umumnya sekaligus pemimpin lembaga kekerabatan puri, biasanya disebut sebagai Penglingsir atau Pemucuk. Para keturunan raja tersebut dapat dikenali melalui gelar yang ada pada nama depan mereka I Gusti Ngurah (Anglurah), I Gusti Agung, Anak Agung, I Dewa, Cokorda, Tjokorda untuk peria dan I Gusti Ayu, Anak Agung Istri, Dewa Ayu, Cokorda Istri untuk perempuan, Puri di Bali memiliki kesamaan Dengan Puro di Jawa yang merupakan istana Adipati / Pemimpin Kadipaten ,contoh Puro Pakualaman di Yogyakarta dan Puro Mangkunegaran di Surakarta.[1]
Etimologi
Secara etimologis, kata puri sesungguhnya berasal dari akhiran bahasa Sanskerta (-pur, -puri, -pura, -puram, -pore), yang artinya adalah kota, kota berbenteng, atau kota dengan menara atau istana. Dalam perkembangan pemakaiannya di Bali, istilah "Pura" menjadi khusus untuk tempat pemujaan Tuhan; sedangkan istilah "Puri" menjadi khusus untuk tempat tinggal para raja dan bangsawan. Saat ini kata puri dapat dipadankan dengan kata keraton atau kata pura dalam Bahasa Jawa, misalkan Pura Mangkunagaran. Beberapa puri dahulunya juga berperan sebagai benteng strategis untuk pertahanan kerajaan.
Daerah dan kekuasaan
Daerah atau wilayah kekuasaan puri-puri di Bali zaman dahulu, tidak berbeda jauh dengan wilayah administratif pemerintahan kabupaten dan kota di Provinsi Bali. Setelah Kerajaan Gelgel (Adi Pati) mulai terpecah pada pertengahan abad ke-17, maka para Anglurah (Pati) mulai memerdekakan wilayah mereka dan berdiri sebagai kerajaan mandiri, terdapat beberapa kerajaan yaitu Kerajaan Klungkung berdiri 1 November 1686 sebagai penerus Kerajaan Gelgel, Kerajaan Badung 1788,(termasuk Denpasar), Kerajaan Mengwi berdiri 1690, Kerajaan Tabanan berdiri 1651, Kerajaan Gianyar 19 April 1771, Kerajaan Karangasem berdiri 1651, Kerajaan Buleleng berdiri 1651, Kerajaan Bangli berdiri 1760 dan Kerajaan Jembrana terdapat pula beberapa kerajaan yang tidak bertahan sampai masa kolonial Belanda seperti Kerajaan Sukawati (1710 - 1771) diambil alih oleh Gianyar, Kerajaan Bhresika (1760 - 1800) diambil alih oleh Klungkung, Kerajaan Taman Bali (1760 - 1810) diambil alih oleh Klungkung dan Bangli, Kerajaan Payangan (1760 - 1820) diambil alih oleh Klungkung, Bangli dan Gianyar.[a][b] Persaingan antardinasti dan antaranggota dinasti pada akhirnya menyebabkan Belanda dapat menguasai Bali dengan tuntas pada awal abad ke-20.[c].
Dalam strata pemerintahan kerajaan bali, Kerajaan biasanya tediri dari beberapa wilayah didalam kerajaan, Puri Agung adalah sebutan bagi istana tempat tinggal Raja dan kerabat paling dekatnya, dibawah Puri Agung terdapat Puri Manca yang dihuni oleh seorang bangsawan manca yang di pilih oleh Raja untuk mewakili pemerintahannya di wilayah luar ibukota (setinggi lurah pada era sekarang). Seorang Bangsawan Manca/Punggawa membawahi beberapa desa lalu seorang kepala desa (Jro Bendesa) membawahi beberapa banjar
Setelah masa kolonial Belanda, Jepang dan masa kemerdekaan Indonesia, kekuasaan puri berubah menjadi lebih bersifat simbolis. Peranan berbagai puri di Bali umumnya masih tinggi sebagai panutan terhadap berbagai pelaksanaan aktivitas adat dan ritual Agama Hindu Dharma oleh masyarakat banyak.
Kerajaan Klungkung (1 November 1686 - 28 April 1908) memiliki sistem tata letak puri yang kompleks terdiri dari Puri Agung, Puri Manca dan Puri Manca Agung, selain memudahkan administratif wilayah juga sebagai sistem pertahanan untuk menjaga Puri Agung Klungkung, Istana Raja sebagai jantung ibukota kerajaan
Puri Agung Kaleran, penglingsirnya Ida Cokorda Susila (Warih Ida I Dewa Agung Ketut Agung Sakti, putra Ida I Dewa Agung Sakti, Raja Klungkung ke-IV)
Puri Manca Agung ring Jagat Klungkung:
Manca Agung Kanginan,
Puri Satria Kanginan, penglingsirnya Ida Anak Agung Gde Ngurah Sinta (Warih Ida I Dewa Agung Gede Putra Denpasar, putra Ida I Dewa Agung Gede Denpasar, Dewata ring Taman Bali, putra Ida I Dewa Agung Madhya Sri Surawirya, Raja Klungkung ke-II) dan
Puri Pemecutan Kaleran (Puri Kaleran Kawan), penglingsirnya A. A. Ngurah Manik Kaleran [6]
Puri Agung Tegal Jematang, penglingsirnya A. A. Ngurah Agung [7]
Puri Agung Jro Kuta, penglingsirnya A. A. Ngurah Joko Pradidnya.[2] (Warih Ida Anak Agung Kahuningan, putra Ida I Dewa Agung Surawirya Putra Kusanegara, Klungkung)
Puri Oka Denpasar
Puri Dangin
Puri Batur
Puri Agung Belaluan Titih
Puri Belaluan Kapal
Puri Belaluan Kawan
Puri Tegeh Titih, penglingsirnya A. A. Putu Oka Wijaya
Puri Titih Kajanan
Puri Titih Kelodan
Puri Lelanguan
Puri Tampakgangsul
Puri Sunianegara
Puri Jambe Suci (Puri Alang Badung) Dinasti Jambe
Puri Agung Gelogor
Puri Tampaksiring
Puri Peguyangan, penglingsirnya A. A. Ngurah Gede Widiada
Puri Agung Pemecutan, penglingsirnya A.A. Ngurah Manik Parasara, SH (Ida Tjokorda Pemecutan XI)
Puri Pemecutan Ukiran, penglingsirnya A. A. Ngurah Alit Sunantara [8]
Puri Pemecutan Jineng, penglingsirnya A. A. Ngurah Oka Sujaya [9]
Puri Agung Peliatan, penglingsirnya Tjokorda Gde Putra Nindia (perwakilan semeton tengah)
Puri Gede Keramas, penglingsirnya Ida I Gusti Agung Bagus Artha Wijaya (Saren Kauh), Ida I Gusti Agung Ngurah Sudarsana (Saren Kangin)
Puri Agung Sukawati, penglingsirnya A. A. Gede Oka
Puri Agung Negara, penglingsirnya Tjokorda Gde Atmaja
Puri Agung Blahbatuh, penglingsirnya Tjokorda Wisnu Rendy Marga
Puri Ageng Blahbatuh, penglingsirnya A.A Ngurah Kakarsana
Puri Ageng Siangan, penglingsirnya A. A. Gde Ngurah Mataram
Puri Agung Tampaksiring, penglingsirnya Tjokorda Gede Tjiptha
Puri Agung Payangan, penglingsirnya Tjokorda Gde Agung
Puri Lainnya:
Puri Kauhan Ubud, penglingsirnya A. A. Gde Raka (Warih Ida Tjokorda Gde Oka Gelgel putra Ida Dewa Agung Panji, Wali Raja Klungkung ke-IV)
Puri Agung Singapadu, penglingsirnya Tjokorda Gde Putra Kaya Trisna
Puri Agung Tegaltamu, penglingsirnya I Gusti Ngurah Pertu Agung
Puri Kaleran Negara, penglingsirnya A. A. Gede Putra Negara
Puri Lebih, penglingsirnya A. A. Gede Wiradarma
Puri Kedisan Tegallalang, penglingsirnya I Gusti Ngurah Pulaki
Puri Agung Pejeng, penglingsirnya Tjokorda Gede Putra Dalem Pemayun
Puri Agung Pesalakan, penglingsirnya Anak Agung Gede Agung, S.H.
Puri Agung Cemadik, penglingsirnya Tjok Gde Anom Susilayasa
Puri Agung Pasdalem Belega, Penglingsirnya Tjokorda Alit. ( Ngawit; I Dewe Gede Apuh ) Kesah saking Puri Saren Blahbatuh riantukan ketunas sareng mekel ring jagat pasdalem, kedadosan pacek jagat ring Wewidangan Jagat Pasdalem
Puri Saren Kauh Tegallalang, penglingsirnya A. A. Gde Taman
Puri Kelodan & Puri Ageng Manggis Tegallalang, penglingsirnya A. A. Gde Raka Partha
Puri Ageng Abianbase, penglingsirnya A. A. Gde Raka Payadnya
Puri Ageng Tulikup, penglingsirnya A. A. Gede Mayun
Puri Ageng Batuan, penglingsirnya A. A. Gede Bagus
Puri Ageng Beng
Puri Ageng Serongga, penglingsirnya A.A. Ngurah Agung Andara
Puri Wanayu
Puri Bedulu
Puri Agung Batuyang, penglingsirnya Tjokorda Ratu Malya (Puri Agung Saren Kaja)
Puri Agung Kendran
Puri Agung Manuaba, penglingsirnya A. A. Gede Raka
↑Dari kerajaan-kerajaan ini yang tidak memiliki kabupaten hanyalah Mengwi saja yang sekarang sebagian besar menjadi wilayah kabupaten Badung dan Tabanan.
↑Puri Cakranegara yang bercorak Bali juga terdapat di Pulau Lombok, yang dahulu pernah menjadi bawahan Kerajaan Karangasem. Penglingsir puri tersebut adalah A.A. Biarsah Haruju Amlanegantun.
↑Peta rekonstruksi Puri Denpasar tahun 1906 dapat dilihat di www.saptaneka.net