Selama Perang Vietnam, Pudjo, yang saat itu berpangkat kolonel, menjabat sebagai atase militer Indonesia di kedutaan besar di Vietnam Utara.[1] Menurut laporan Badan Intelijen Pusat, Pudjo menerima informasi dari rekan-rekannya di Blok Timur mengenai keberadaan tentara Amerika Serikat yang ditahan di sana.[2] Ia terus terlibat dalam Perang Vietnam, dan pada tahun 1975 ia menjadi pejabat direktur jenderal Komisi Internasional untuk Pengawasan dan Pengendalian (ICCS). Pudjo menjabat hingga penarikan Indonesia dari ICCS pada 26 April tahun tersebut, dan ia tidak segera digantikan hingga ICCS dibubarkan setelah Kejatuhan Saigon empat hari kemudian.[3]
Pada tahun 1976, Pudjo bergabung dengan kementerian luar negeri dan menjadi kepala urusan organisasi kementerian tersebut.[4] Pada 3 Mei 1980, Pudjo, yang telah berpangkat brigadir jenderal, dilantik sebagai duta besar Indonesia untuk Laos.[5][6] Ia menyerahkan surat kepercayaannya kepada Presiden Souphanouvong pada 6 Agustus dan bertemu dengan Perdana Menteri Nouhak Phoumsavanh sembilan hari kemudian.[7] Menjelang akhir masa jabatannya, ia melakukan kunjungan perpisahan kepada sejumlah pejabat penting Laos. Ia mengunjungi Souphanouvong pada 7 Agustus[8] serta wakil perdana menteri Phoumi Vongvichit dan Sali Vongkhamsao pada 21 Agustus 1982.[9] Ia kemudian dipindahkan ke Vietnam pada tahun yang sama setelah persetujuannya sebagai duta besar Indonesia untuk Vietnam diumumkan oleh menteri luar negeri pada 6 Juni tahun tersebut.[10]
Menjelang akhir masa jabatannya, pada Januari 1986 ia memberikan pengarahan kepada Presiden Soeharto mengenai hubungan bilateral dengan Vietnam, di mana ia menyampaikan rencana Indonesia untuk menjual seratus ribu ton beras kepada Vietnam serta keinginan Vietnam agar Indonesia bertindak sebagai mediator dalam konflik dengan Kamboja.[11][12] Pudjo meninggalkan Hanoi pada 27 November tahun tersebut.[13]
Kehidupan pribadi
Pudjo beragama Kristen. Pada tahun 1988, ia diangkat sebagai delegasi Indonesia dalam pertemuan konsultatif para pemimpin gereja di negara-negara ASEAN.[14]
↑Intelligence Information Report: Turnover of American Prisoners of War to Escorts in Hanoi(PDF). Prisoner of War / Missing in Action (PWMIA) (Report) (dalam bahasa Inggris). North Vietnam: Central Intelligence Agency / Library of Congress. May 7, 1969. Diakses tanggal February 20, 2026. Subjects: 1. Number and general condition of American prisoners of war in Hanoi; 2. Transfer of American prisoners captured in South Vietnam to North Vietnam
↑"SUKAMTO DAN PUDJO DILANTIK SEBAGAI DUBES"[Sukamto and Pudjo Inaugurated as Ambassadors]. Merdeka. Suharto Library (Arsip). May 5, 1980. Diakses tanggal February 20, 2026.
↑Negeri, Indonesia Departemen Luar (1982). Pewarta Departemen Luar Negeri RI. Pusat Dokumentasi dan Perpustakaan, Badan Penelitian dan Pengembangan Masalah Luar Negeri, Departemen Luar Negeri RI. hlm.44.
↑"Vietnam Harapkan Peranan RI"[Vietnam Hopes for Indonesia's Role]. Berita Yudha. Jakarta: Monumen Pers Nasional. January 23, 1986. Diakses tanggal February 20, 2026.
↑Indochina Chronology (dalam bahasa Inggris). Institute of East Asian Studies, University of California. 1986.
↑Pelita Kristen. Direktorat Djenderal Bimbingan Masyarakat Kristen Protestan, Departemen Agama R.I. 1988.