Prof. Dr. Raden Benedictus Slamet Muljana (21 Maret 1929–2 Juni 1986),[1] adalah seorang filolog dan sejarawan dari Indonesia.[2]
Pendidikan dan Karier
Slamet Muljana memperoleh gelar B.A. dari Universitas Gadjah Mada tahun 1950, gelar M.A. dari Universitas Indonesia tahun 1952, gelar Doktor Sejarah dan Filologi dari Universitas Louvain, Belgia, tahun 1954, serta menjadi profesor pada Universitas Indonesia sejak tahun 1958.[3]
Pemugaran Persada Sejarah Leluhur Majapahit (1983)[20]
Kontroversi dalam Karya
"Sekali fakta sejarah itu ditemukan, fakta itu tidak akan dapat diubah. Meskipun fakta sejarah itu mungkin terlalu pedas untuk dirasakan, ilmu sejarah tetap mengejar-ngejarnya".
— Tulis Slamet Muljana dalam kata pengantar bukunya.[21]
Karya-karya Slamet Muljana dalam ilmu Sejarah tidak jarang mengundang kontroversi dari para pembacanya. Misalnya dalam buku Runtuhnja keradjaan Hindu-Djawa dan timbulnja negara-negara Islam di Nusantara (1968) dengan berani ia menyatakan bahwa Walisongo adalah para ulama keturunan Tionghoa.[22] Ia menyandarkan pendapatnya pada buku karangan Mangaradja Onggang Parlindungan dalam buku "Pongkinangolngolan Sinambela gelar Tuanku Rao: Terror Agama Islam Mazhab Hambali di Tanah Batak (1816-1833) yang sejak semula bermasalah secara keilmuan.[23] Kontroversi buku Runtuhnja keradjaan Hindu-Djawa dan timbulnja negara-negara Islam di Nusantara (1968) tersebut dibahasa dalam satu bagian khusus oleh sejarawan Asvi Warman Adam dalam kata pengantar buku tersebut.[24]
Pendapat tersebut mengundang reaksi keras karena kepercayaan masyarakat yang sudah telanjur kuat, bahwa anggota-anggota Walisongo adalah keturunan Arab. Tidak hanya itu, pemerintah Orde Baru bahkan melarang terbit buku tersebut, karena saat itu sedang maraknya sentimen anti Tiongkok.[25] Slamet Muljana mendasarkan pendapatnya tersebut pada kronik Tionghoa dari klenteng Sam Po Kong yang ia kutip pula dari buku "Pongkinangolngolan Sinambela gelar Tuanku Rao: Terror Agama Islam Mazhab Hambali di Tanah Batak (1816-1833) karya Mangaradja Onggang Parlindungan.[24] Namun demikian sejarawan lainnya Agus Sunyoto membantahnya dengan mengatakan bahwa kronik Tionghoa tersebut hanyalah fiktif belaka.[26] Penelitian baru tahun 2017 berkesimpulan bahwa kronik Tionghoa dari Semarang dan Cirebon, yang banyak dikutip dalam karyanya, merupakan hoax atau palsu, dibuat pada masa modern di abad ke-20.[27]
Karya Slamet Muljana yang lain juga berani menentang pendapat umum. Dalam buku Sriwijaya (1960), ia berpendapat bahwa Rakai Panangkaran adalah anggota keluarga Syailendra yang telah mengalahkan keturunan Sanjaya. Padahal pendapat umum mengatakan kalau Rakai Panangkaran adalah putra Sanjaya yang menjadi bawahan Syailendra.
Rujukan
↑Muljana, Slamet (2008). Kesadaran nasional: dari kolonialisme sampai kemerdekaan. Yogyakarta: PT LKiS Pelangi Aksara. hlm.357. ISBN 979-1283-55-9.